-->
Showing posts with label Alam. Show all posts

5 Sumber Energi Yang Dapat Diperbaharui

Energi adalah materi penting untuk kehidupan manusia, kehidupan kita tak pernah lepas dari energi. Sebut saja untuk makan, dari memproduksi hingga memasak makanan kita membutuhkan energi.

 

Entah itu berasal dari bensin, solar, ataupun energi listrik.

 

Mungkin kalau kita bicara soal sumber energi, listrik dan minyak bumi yang paling mencolok. Kita semua tahu minyak bumi itu tidak dapat diperbaharui dan listrik sebenarnya bukan sumber energi, melainkan hanya jenis perubahan energi. Untuk mendapatkan listrik harus ada sumber energi lainya.

 

Sumber energi merupakan sumber atau asal muasal energi itu ada. Jadi sebuah materi dikatakan sebagai sumber energi kalau pada materi atau bahan tersebut mengandung energi yang dapat digunakan langsung.

 

Lalu apa saja sumber energi yang dapat diperbaharui ?

 

1. Biofuel

 

Bahan bakar bio adalah bahan bakar yang didapat dari tumbuhan tanpa melewati proses dekomposisi selama ribuan tahun.

 

Mengapa demikian ?

 

Karena bahan bakar fosil pun asalnya dari materi organik, tapi bahan bakar fosil ini mengalami proses dekomposisi alami dalam tekanan  dan suhu tinggi selama ribuan bahkan jutaan tahun.

 

Sementara biofuel didapat langsung dari tumbuhan tanpa melalui proses yang cukup lama. Tapi tidak semua tanaman bisa dijadikan biofuel, contohnya adalah kelapa sawit yang digunakan sebagai pengganti solar.

 

Lalu gas metana yang diperoleh dari hasil samping pengomposan sampah organik.

 

2. Angin

 


Angin yang terbentuk secara alami ternyata merupakan sumber energi. Karena hembusan angin memiliki energi yang bisa kita manfaatkan.

 

Pemanfaatan energi angin yang paling umum adalah sebagai penghasil energi listrik melalui kincir angin.

 

3. Aliran air

 


Selain angin, air yang mengalir juga memiliki energi. Aliran air ini dalam debit yang besar bahkan bisa menghancurkan bangunan.

 

Pada waduk atau air terjun, energi yang dihasilkan bisa lebih besar dibandingkan aliran datar. Oleh sebab itu sering diletakan turbin untuk memanfaatkan aliran tersebut menjadi energi listrik.

 

Energi dari aliran air dikatakan sumber energi terbarukan karena aliran air akan selalu terbentuk selama siklus air berjalan.

 

4. Panas bumi

 


Panas yang dihasilkan inti bumi juga bisa dikategorikan sumber energi yang dapat diperbarui, alasannya suhu inti bumi itu cukup panas, bahkan menurut wikipedia, suhu di pusat bumi itu mencapai 5400 derajat celcius.

 

Sehingga kerak bumi pun pasti akan panas meski tidak sepanas pusat bumi.

 

Energi panas ini, bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik.

 

5. Sinar matahari

 

Sinar matahari merupakan energi gratis yang dapat diperbaharui. Kita tahu sinar matahari berasal dari pusat tata surya kita yakni matahari. Yang energinya akan selalu adaa.

 

Panas yang dipancarkan ini, bisa kita gunakan untuk mengeringkan pakaian atau yang sekarang populer untuk menghidupkan solar panel.

 

6. Kayu

 

Nah yang tidak boleh dilupakan, kayu juga menjadi sumber energi yang bisa diperbaharui. Sejak zaman dahulu, kayu sudah dimanfaatkan sebagai bahan bakar tungku atau untuk memasak.

 

Dengan kata lain, kayu memiliki sumber energi (panas) yang bisa digunakan untuk kehidupan manusia.

 

7. Tenaga hewan

 


Sebelum kendaraan bermotor populer, delman menjadi kendaraan yang banyak ditemui. Dokar ini memanfaatkan tenaga hewan (kuda) untuk menariknya.

 

Selain kuda, kerbau juga sering dimanfaatkan tenaganya untuk membajak sawah.

 

Nah itulah 7 sumber energi yang bisa diperbaharui, semoga bisa menambah wawasan kita semua.

Apakah Minyak Bumi Dapat Diperbarui ? Ini Penjelasannya

Bensin dan solar merupakan sumber energi yang sangat berguna bagi manusia terutama untuk menjalankan mesin dan kendaraan.

 

Tapi pertanyaanya, minyak bumi bisa diperbarui apa tidak ?

 

Kalau tidak bisa, itu artinya suatu saat stok minyak bumi akan habis ?

 

Sayangnya, bensin dan solar merupakan produk minyak bumi yang TIDAK BISA diperbarui.

 

Mengapa minyak bumi tidak bisa diperbarui ? nah kita akan membahasnya secara mendalam.

 


Minyak bumi adalah cairan yang sangat mudah terbakar yang terbentuk dari materi organik. Jadi, bensin yang sering dituangkan di motor kita itu asalnya dari bahan-bahan organik tapi, ada proses dibalik pembentukannya.

 

Jadi secara sederhana, proses pembentukan minyak bumi dimulai dari bahan organik seperti sisa tumbuhan, jasad renik, kayu dan lainnya yang jatuh ke sungai, lalu terbawa ke lautan bersama lumpur.

 

Karena materi organik ini ada pada lumpur maka bahan organik tersebut langsung turun ke dasar lautan. Semakin lama, materi organik yang ada didasar laut bersama lumpur semakin tertimbun sehingga bahan organik tersebut mendapatkan tekanan dari laut dan timbunan diatasnya.

 

Dalam waktu ribuan hingga jutaan tahun, bahan organik yang mendapatkan tekanan dari laut serta mendapatkan suhu tinggi dari panas bumi, mengalami dekomposisi. Tapi tidak terdekomposisi menjadi kompos melainkan menjadi gelembung-gelembung hidrokarbon yang kita kenal dengan minyak bumi.

 

Lumpur yang membawah bahan organik tersebut, lama kelamaan juga mengeras menjadi batuan sedimen yang memiliki pori-pori dimana ditengah batuan itu terdapat bahan organik yang terdekompossi.

 

Hasil dekomposisi bahan organik berupa gelembung hidrokarbon keluar melalui pori-pori batuan menuju daerah cekungan dengan tekanan lebih kecil. Titik kumpul ini kita kenal sebagai trap, disinilah gelembung-gelembung hidrokarbon berkumpul menjadi sebuah cairan yang kita kenal dengan minyak bumi.

 

Nah, diarea trap ini proses penambangan dilakukan.

 


Dari penjelasaan ringkas diatas bisa kita simpulkan bahan pembentuk minyak bumi memang berasal dari bahan organik yang tentu saja bisa diperbarui.

 

Tapi, proses pembentukannya membutuhkan waktu hingga ribuan tahun sehingga ketersediaannya tidak dapat dipenuhi dalam waktu singkat.

 

Jadi, minyak bumi yang kita nikmati sekarang terbentuk dari proses yang diawali ribuan tahun yang lalu.

 

Bisa dibayangkan, apa yang terjadi jika penambangan besar-besaran dilakukan ?

 

Tentu, konsumsi lebih cepat dibandingkan produksinya. Sehingga suatu saat terjadi kondisi dimana cadangan minyak bumi sudah habis dan minyak bumi baru belum terbentuk. Inilah yang kita takutkan, padahal kalau tidak ada minyak bumi industri dan kendaraan akan sangat terdampak.

 

Oleh sebab itu, minyak bumi dimasukan kedalam SDA yang tidak dapat diperbarui karena proses pembentukannya sangat lama.

Berbagai Klasifikasi Sumber Daya Alam beserta Penjelasannya

Berbagai Klasifikasi Sumber Daya Alam beserta Penjelasannya

 Kita sangat beruntung hidup didunia ini karena diberikan sumber daya alam yang melimpah. Apalagi negara kita dikenal memiliki kekayaan sumber daya alam.

 

Karena terlalu banyaknya SDA yang bisa kita temui, kadang kita malah bingung untuk mempelajarinya.

 

Oleh sebab itu, SDA diklasifikasikan dalam beberapa kategori.

 

Pengelompokan SDA ini, tidak bukan bertujuan agar lebih mudah dipelajari. Lalu apa saja klasifikasi sumber daya alam ?

 

A. Klasifikasi Sumber Daya Alam berdasarkan Materi

 

Berdasarkan materi penyusunnya, SDA ada empat yakni SDA hayati, dan SDA non-Hayati..

 

1. SDA Hayati

Sda ini lebih gampang disebut materi organik yang terdapat pada alam. Contohnya, mahkluk hidup seperti hewan, dan segala jenis tumbuhan.

 

2. SDA non-hayati

SDA non hanyati meliputi materi anorganik yang terdapat pada alam. Contohnya, air, udara, hasil tambang dan masih banyak lainnya. Intinya, SDA non hayati mengarah pada benda mati.

 

B. Klasifikasi Sumber Daya Alam berdasarkan tempat

 

Berdasarkan tempat ditemukannya, SDA dikelompokan menjadi 3 yakni ;

1. SDA teretris

Ini adalah segala sumber daya alam yang bisa kita temukan pada daratan (teretris = daratan). Contohnya, pohon, batubara, tanah dan lain sebagainya.

 

2. SDA akuatik

SDA akuatik adalah kelompok SDA yang terdapat pada perairan, contohnya ikan, terumbu karang, rumput laut dan lainnya.

 

3. SDA Udara

Sementara SDA udara berbentuk gas yang bisa kita temui pada udara seperti oksigen, nitrogen, dan gas lainya.

 

C. Klasifikasi Sumber Daya Alam berdasarkan Sifat

 

Berdasarkan sifat SDA itu sendiri, terdapat sumber daya alam yang bisa diperbarui dan ada yang tidak bisa diperbarui.

 

1. SDA diperbaharui

Kelompok SDA ini, keberlangsungannya bisa terjaga sampai kapanpun karena proses terbentuknya yang cepat sehingga ketersediaannya pada alam selalu melimpah. Contoh, hewan, tumbuhan, air, sinar matahari, dan biofuel.

 

2. SDA tidak dapat diperbaharui

Sementara kelompok kedua, memiliki proses pembentukan yang cukup lama sehingga penggunaan jauh lebih besar dibandingkan pembentukan. Ini membuat ketersediaannya pada alam semakin menipis sehingga bisa habis. contohnya, seperti hasil tambang (minyak bumi, gas alam, batubara)

 

D. Klasifikasi  Sumber Daya Alam berdasarkan Pemanfaatannya

 

Berdasarkan potensi pemanfaatannya, SDA diklasifikasikan menjadi beberapa jenis

 

1. SDA materi

Merupakan sumber daya alam yang dimanfaatkan bentuk fisiknya, misal emas sebagai perhiasan, kayu sebagai dekorasi, tanah sebagai batu bata, dan besi sebagai material bangunan.

 

2. SDA energi

Merupakan sumber daya alam yang dimanfaatkan energi potensial yang terdapat didalamnya. Biasanya, energi pada SDA ini akan dikonversikan menjadi bentuk energi yang lain misal fisik atau listrik. contohnya, gas dan minyak yang diubah menjadi energi fisik oleh engine, batubara yang diubah menjadi energi listrik, kuda yang dimanfaatkan untuk menarik delman.

 

3. SDA ruang

Merupakan wilayah atau tempat untuk berbuat sesuatu. Contoh, sebuah area yang dijadikan pabrik. Maka salah satu SDA yang dimanfaatkan adalah sumber daya ruang. Tanpa ini, pabrik tidak akan berdiri karena tidak ada tempatnya.

 

4. SDA waktu

Merupakan SDA yang berhubungan dengan pemanfaatan waktu. Misal siang hari dimanfaatkan untuk bekerja, musim hujan dimanfaatkan petani untuk menanam padi, atau pada subtropis musim panas dimanfaatkan untuk bercocok tanam.

 

Itulah beberapa klasifikasi sumber daya alam beserta contohnya. Semoga bermanfaat.

Angin Lembah dan Angin Gunung, Apa sih Bedanya ?

Kalian mungkin pernah mendengar istilah angin lembah dan angin gunung.

Sesuai namanya, angin ini bergerak dari puncak ke lembah atau sebaliknya.

Disebut angin gunung apabila bergerak dari puncak gunung ke lembah, dikatakan angin lembah apabila angin bergerak naik ke puncak.

Lalu, apa yang menyebabkan angin dapat bergerak naik atau turun gunung ?

Nah, artikel ini akan menjelaskan secara rinci.

img trekpapua.com

Kalau anda sudah membaca artikel kami sebelumnya tentang proses terbentuknya angin, anda akan paham bahwa angin adalah udara yang bergerak.

Udara dapat bergerak karena ada perbedaan tekanan pada antar wilayah.

Dalam kasus angin gunung dan angin laut, wilayah ini mencakup puncak gunung dan lembah atau daerah cekungan.

Dua wilayah ini, letaknya cukup berdekatan namun pada waktu tertentu bisa muncul perbedaan tekanan udara yang signifikan.

Lalu apa yang menyebabkan tekanan udara di puncak dan lembah berbeda ?

Ternyata perbedaan tekanan udara disebabkan karena waktu penyinaran matahari pada wilayah antara puncak dan lembah juga beda.

Emang, apa hubungannya sinar matahari sama tekanan udara ?

Jadi saat molekul udara dipanaskan, udara akan mengembang (ukuran jadi tambah besar dengan berat tetap).

Saat kondisi mengembang, molekul udara lebih mudah melayang.

Sehingga udara mampu bergerak keatas melawan gravitasi. Ini seperti balon udara, balon udara yang berisi udara panas mampu bergerak keatas.

Karena memang sifat udara panas itu bergerak ke atas.

Ketika banyak molekul bergerak keatas, maka hanya ada sedikit molekul udara yang tersisa di dekat permukaan.

Tekanan udara dikatakan rendah, apabila hanya sedikit molekul udara mengisi sebuah ruang.

Jadi, bisa disimpulkan semakin panas daerahnya maka tekanan udara semakin rendah.

Sekarang kita ke angin lembah.

Angin lembah terjadi ketika suhu pada lembah lebih dingin daripada puncak gunung.

Kapan kondisi ini muncul ?

Saat pagi hari, ketika matahari muncul.

Matahari akan menyinari daerah puncak lebih dulu daripada daerah lainnya, sehingga daerah puncak suhunya lebih cepat panas dipagi hari.

Sementara pada lembah, tidak mendapatkan sinar matahari pagi hingga menjelang siang karena ya memang lembah ini daerah cekungan sehingga tertutup oleh bukit dan puncak gunung.

Hal inilah yang membuat angin mampu berhembus dari lembah naik ke puncak gunung.

Angin lembah akan berhembus hingga daerah lembah sudah mendapatkan sinar matahari cukup.

Yang kedua adalah angin gunung.

Angin gunung berhembus dari puncak gunung turun ke lembah.

Ini terjadi karena ketika matahari terbenam, suhu dipuncak gunung akan turun secara drastis.

Bahkan penurunan suhu pada puncak biasa melebihi penurunan suhu di lembah.

Saat suhu udara turun, molekul udara akan mengempis dan udara cenderung bergerak kebawah karena gaya gravitasi.

Daerah puncak yang lebih tinggi akan mengalami penumpulan molekul udara lebih dulu.

Akibatnya densitas udara dipuncak lebih tinggi daripada di lembah, ini membuat udara mengalir menuruni lereng gunung.

Angin gunung akan berhenti ketika densitas udara di puncak dan lembah hampir setara.

Angin Darat dan Angin Laut, Apa Sih Bedanya ?

Sesuai judul yang anda baca, angin darat dan angin laut adalah angin yang bergerak dari laut kedarat atau sebaliknya.

Perbedaannya, kalau angin berhembus dari laut kedarat maka itu namanya angin laut.

Sementara angin darat berhembus dari darat ke laut.

Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa angin bisa bergerak baik dari laut atau dari darat ? Faktor apa yang mempengaruhi angin sehingga angin bergerak dari laut atau dari darat ?

Nah kita bakal membahasnya secara tuntas.


Sebelumnya kita telah membahas bagaimana angin itu terbentuk.

Secara sederhana, angin adalah udara yang bergerak. Pergerakan udara ini dipicu oleh perbedaan tekanan yang signifikan pada dua wilayah.

Perbedaan tekanan pada dua wilayah tersebut, dapat terjadi karena perbedaan suhu udara pada dua wilayah tersebut.

Nah perbedaan suhu udara dapat terjadi karena dua wilayah tersebut menerima intensitas matahari yang juga berbeda.

Sehingga angin akan bergerak dari daerah dingin ke daerah yang lebih panas.

Kembali ke Angin Darat dan Angin Laut

Jadi, pada kasus angin darat dan angin laut, dua wilayah ini merupakan daratan dan lautan.

Ketika suhu daratan lebih rendah dari laut, maka udara akan bergerak dari daratan ke laut.

Dan ini kita namakan angin darat.

Namun saat suhu udara di lautan lebih rendah dari daratan maka udara akan bergerak dari laut ke darat, atau kita kenal sebagai angin darat.

Sekarang pertanyaannya, apa yang menyebabkan salah satu daerah bisa lebih dingin dari daerah lainnya ? Toh, daratan dan lautan ini juga berdekatan.

Seperti yang telah saya singgung, perbedaan suhu udara bisa muncul karena perbedaan intensitas matahari.

Tapi khusus untuk wilayah darat dan laut yang berdekatan, perbedaan suhu muncul karena kedua wilayah ini memiliki sifat konduktifitas yang berbeda.

Jadi, daratan itu lebih mudah menerima panas juga lebih mudah menerima dingin daripada daerah perairan.

Sehingga, ketika sore menjelang malam hari ketika matahari sudah terbenam daerah lautan masih hangat. Sementara suhu udara pada daratan langsung turun.

Hal itulah yang memicu angin darat dapat berhembus, angin ini akan berhembus hingga suhu udara pada lautan sudah dingin.

Kemudian ketika matahari terbit. Suhu di daratan langsung hangat sementara suhu udara pada laut masih dingin meskipun mendapatkan sinar matahari dengan intensitas yang sama.

Karena hal itulah angin dapat berhembus dari laut ke darat atau kita kenal sebagai angin laut.

Apa kegunaan angin darat dan angin laut ?

Angin darat dan angin laut sangat berguna untuk nelayan konvensioanal yang masih menggunakan perahu layar.

Nelayan memanfaatkan angin darat di malam hari untuk melaut, dan memanfaatkan angin laut di pagi hari untuk pulang.

Bagaimana Proses Terbentuknya Kabut ?


Saat kita melintasi daerah pegunungan di malam hingga pagi hari, kita sering menemukan kabut yang kadang mengganggu jarak pandang kita.

Tapi anda penasaran nggak sih, kabut ini sebenarnya apa dan bagaimana kabut bisa tiba-tiba muncul ?

Nah artikel ini akan menjelaskan secara tuntas proses pembentukan kabut.

img flickr.com

Kabut adalah awan di dekat permukaan

Jadi, kabut itu bisa dibilang seperti awan. Tapi bedanya, kabut itu ada didekat permukaan sementata awan terbentuk di langit.

Kenapa saya bilang kabut itu seperti awan ?

Karena baik awan atau kabut sama-sama tersusun dari tetesan air dengan ukuran yang sangat mikro.

Tetesan air ini berasal dari molekul air yang terkandung di udara yang mengalami pendinginan.

Jadi, kalau kita mempelajari bagaimana hujan itu terjadi, sebenarnya prosesnya hampir sama.

Dimulai ketika panas matahari menyinari daerah perairan. Maka suhu udara sekitar perairan tersebut naik, dan beberapa molekul air yang ada dipermukaan juga menguap.

Ini namanya proses evaporasi, saat proses ini terjadi, udara yang suhunya meningkat akan lebih mengembang sehingga udara tersebut mampu menampung lebih banyak molekul air dalam bentuk uap.

Jadi, air yang menguap itu ditampung oleh udara yang sudah mengembang hingga kondisinya jenuh. sehingga uap air mampu berpindah bersama udara.

Udara jenuh merupakan sebutan bagi udara yang menyimpan uap air hingga batas maksimalnya. Jadi misal suhu udara ini 30 derajat celcius, maka uap air yang terkandung sekitar 30 gr/m3.

Nah, selanjutnya udara yang berisi uap air tersebut mengalami pergerakan.

Ketika udara hangat tersebut melewati daerah yang bersuhu rendah, khususnya dipegunungan atau dimalam hari.

Suhu udara otomatis turun, sementara saat suhu udara turun, udara akan mengempis sehingga daya tampung airnya juga turun.

Udara dengan suhu 20 derajat celcius hanya mampu menampung 17 gr/m3 uap air.

Jadi, saat udara menjadi dingin ada uap air yang keluar dari udara. Uap air yang keluar ini tidak lagi berbentuk uap tapi sudah berbentuk tetesan air dengan ukuran yang bervariasi.

Apabila ukuran tetesan sekitar 0.5 mm, maka itu akan menjadi embun. Kalau ukuran tetesannya super mikro, maka tetesan air tersebut tidak akan jatuh kebumi dan dapat melayang seperti debu.

Tetesan air yang melayang di dekat permukaan tanah inilah yang kita kenal sebagai kabut.

Jadi kesimpulannya,
  • kabut adalah tetesan air yang ukurannya sangat kecil sehingga mampu melayang diudara.
  • Kabut hanya terbentuk ketika udara hangat yang jenuh berada di wilayah bersuhu dingin, semakin besar perbedaan suhunya maka semakin besar tebal pula kabut yang terbentuk.

Kabut akan hilang, ketika suhu udara disekitar kabut naik. Suhu udara yang naik, meningkatkan daya simpan airnya. Jadi tetesan air pada kabut dapat kembali terserap oleh udara sehingga kabut dapat menghilang.

Itulah sebabnya, kabut sering terjadi diwilayah pegunungan pada dini hari hingga siang hari.

Proses Terbentuknya Angin : Ternyata ini yang membuat angin dapat terbentuk

Kalian pastinya pernah dong liat anak-anak main layangan. Layang-layang itu dapat terbang karena ada angin kan. Tapi pernah nggak sih kalian bertanya-tanya, angin itu datangnya dari mana ? dan bagaimana angin itu bisa terbentuk ?

Nah di artikel ini kita bakal belajar nih, tentang proses terbentuknya angin.

img ayobandung.com


Kalau kita cek di wikipedia, angin adalah aliran udara dalam jumlah besar yang diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga karena adanya perbedaan tekanan udara. Agak panjang yah, okeh kita sederhanakan saja angin adalah udara yang bergerak.

Pertanyaannya, kenapa udara bisa bergerak ?

Ternyata ada dua sebab, sebab pertama karena udara dipaksa bergerak. Caranya dengan mengibaskan kipas angin. Yang kedua udara dapat bergerak secara alami karena ada perbedaan tekanan udara.

Nah angin yang dipakai untuk bermain layangan itu termasuk angin alami, artinya angin ini terbentuk karena perbedaan tekanan udara.

Sekarang, mekanisme terbentuknya angin. Nggak mungkin dong, angin tiba-tiba ada tanpa proses yang mendahuluinya ?

Jadi Prinsip terbentuknya angin itu seperti ini, udara memiliki sifat untuk bergerak ke tekanan yang lebih rendah. Contohnya gampang, anda tahu ban motor kan. Apa yang terjadi ketika kita pencet niple ban motor ?

Udara dari dalam ban mengalir keluar, aliran udara tersebut terjadi karena tekanan udara didalam ban lebih tinggi dibandingkan tekanan udara diluar ban.

Sekarang mari aplikasikan pada angin.

Angin atau udara bergerak ini terjadi ketika dua wilayah memiliki tekanan udara berbeda. Perbedaan tekanan ini disebabkan karena perbedaan intensitas atau waktu penyinaran matahari.

Jadi, misal kita punya dua wilayah A dan B. wilayah A tersinari oleh matahari, sementara wilayah B tidak mendapatkan sinar matahari.

Pada kondisi ini, suhu udara pada wilayah A tinggi sementara pada wilayah B dingin. Sifat udara apabila dipanaskan akan memuai, ketika udara memuai berat jenisnya menjadi lebih ringan sehingga udara bergerak naik ke atmosfer. Karena banyak molekul udara pada wilayah A bergerak naik, maka hanya menyisakan sedikit molekul udara didekat permukaan. Kondisi ketika hanya ada sedikit molekul udara yang mengisi sebuah ruang bisa disebut bertekanan rendah.

Sementara pada wilayah B yang dingin, udara justru mengempis. Berat jenisnya juga bertambah berat sehingga molekul udara dari atas turun dan berkumpul didekat permukaan. Sehingga posisi molekul udara saling berhimpitan. Kondisi dimana banyak molekul udara mengisi sebuah ruang disebut juga bertekanan tinggi.

Karena terdapat perbedaan tekanan udara antara wilayah A dan B, maka molekul udara dari wilayah B bergerak ke wilayah A. pergerakan udara secara horizontal inilah yang kita sebut sebagai angin.

Lalu diatmosfer pun demikian, tekanan udara di atmosfer wilayah A lebih tinggi karena udara dari bawah bergerak keatas. Sementara atmosfer wilayah B bertekanan rendah karena udaranya pada turun ke permukaan. Sehingga udara dari atmosfer di wilayah A bergerak ke atmosfer diwilayah B. terjadilah sebuah putaran angin, sehingga angin itu terus bergerak selama perbedaan tekanan itu masih terjadi.

Begini Proses Terjadinya Hujan

Sebagai negara tropis, hujan sudah menjadi fenomena yang wajar di negara kita. Tapi pertanyaanya, apa anda tahu bagaimana hujan ini dapat terjadi ?

Tenyata, dibalik hujan ada proses yang rumit, yang tentunya menarik untuk kita pelajari.


Hujan sendiri, ternyata salah satu tahapan dari siklus air di bumi ini. Air yang kita pakai untuk minum dan mandi itu tidak diam disatu tempat saja tapi mengalami perpindahan.

Contohnya, kita minum dari air pdam. Air ini sumbernya dari gunung yang lebih tinggi dari rumah kita. Logikanya, kalau air dari gunung terus di distribusikan ke bawah lama-lama habis dong air digunungnya. Tapi kenyataannya, air di gunung selalu ada. Ternyata air ini mengalami siklus yang membuat air dari laut atau danau bisa balik ke gunung melalui hujan atau kabut. Siklus ini kita kenal sebagai siklus air.

Ada 4 tahapan supaya siklus air bisa terjadi

Evaporasi, atau penguapan air.

Kondensasi atau pengembunan air

Adveksi, atau pergerakan awan

Presipitasi, atau tetesan air yang kita kenal sebagai hujan.

Jadi secara sederhana, siklus ini terjadi ketika air dari permukaan bumi menguap, air yang menguap ini kemudian mengalami kondensasi di atmosfer sehingga membentuk awan. Awan ini terbawa oleh angin ke daerah pegunungan, Saat kondisi awan sudah jenuh, air yang merupakan isi dari awan jatuh ke permukaan bumi dalam bentuk hujan.

Nah selanjutnya, kita akan mendalami tahapan-tahapan dalam siklus hujan secara lebih rinci.

1. Tahap pertama adalah evaporasi.

Secara sederhana, evaporasi adalah proses menguapnya air yang ada dipermukaan bumi. Penguapan ini terjadi karena panas yang dipancarkan oleh sinar matahari.

Saat terjadi penguapan, air yang ada pada permukaan laut atau danau berubah bentuk menjadi uap. Secara alami, uap air bersuhu lebih tinggi ini akan bergerak naik sampai pada ketinggian tertentu.

Jadi pada tahap ini, syarat yang diperlukan adalah panas matahari. Panas matahari ini memiliki dua peran penting, pertama mengubah air menjadi uap melalui proses pemanasan, kedua membuat uap air bergerak naik dengan memanaskan udara disekitar uap air.

2. Tahap kedua adalah tahap kondensasi

Secara sederhana, kondensasi berarti pengembunan yang mengubah uap air menjadi tetesan cair. Tetesan cair ini tidak berbentuk seperti cairan, tapi embun mikro seperti kabut, yang mengambang di langit. Kumpulan embun mikro ini selanjutnya kita sebut sebagai awan.

Tapi pertanyaannya, mengapa uap air bisa mengalami pengembunan ?

Itu terjadi karena saat uap air berada di wilayah bersuhu rendah, suhu uap air akan turun dan wujudnya kembali menjadi cair. Pengembunan ini terjadi di langit, karena semakin tinggi tempatnya, maka suhunya semakin rendah. Dengan kata lain, setelah air mengalami evaporasi, pada ketinggian tertentu uap tersebut mengalami proses pendinginan yang mengubah bentuknya kembali menjadi cair.

Lalu mungkin hal yang masih janggal, mengapa tetesan cair itu tidak jatuh setelah terjadi pengembunan ?

Ternyata, ada dua faktor

Pertama, ukuran tetesan cair ini sangat kecil seperti debu. Kalau anda pernah melihat pancaran matahari yang masuk ke jendela. Anda akan melihat debu-debu beterbangan tanpa terpengaruh gaya gravitasi. Awan juga begitu, tetesan cair pembentuk awan ukurannya sangat kecil sehingga mampu mengambang di udara.

Faktor kedua, adanya gerakan vertikal ke atas. Gerakan yang dimaksud adalah udara yang bergerak naik karena terpengaruh panas matahari. Jadi, saat matahari terik, suhu udara juga naik. Secara alami, udara akan bergerak ke area yang suhunya lebih rendah. Salah satu area yang memiliki suhu lebih rendah itu daerah yang lebih tinggi. sehingga udara akan bergerak naik yang juga membantu menahan awan agar tidak jatuh.

3. Tahap ketiga adalah adveksi

Pada tahap ini, awan-awan yang terbentuk karena kondensasi uap air, bergerak. Angin adalah pengaruh paling signifikan yang menyebabkan awan dapat bergerak. Umumnya, awan bergerak ke daerah yang memiliki tekanan udara lebih rendah seperti di pegunungan. Sehingga, awan yang biasanya terbentuk di daerah lautan bergerak ke arah pegungungan. Dan ini juga menjadi alasan mengapa daerah pegunungan itu lebih sering hujan.

Namun, adveksi kadang juga tidak terjadi pada siklus hujan. Bisa saja, sebelum awan bergerak ke daerah bertekanan rendah, awan tersebut sudah jenuh akibatnya hujan turun di daerah pesisir pantai atau bahkan hujan langsung terjadi di daerah laut.

4. Tahap terakhir adalah presipitasi

Saat uap air mengalami pendinginan di atmosfer, awan akan terbentuk. Awan ini selanjutnya menjadi zona dingin, sehingga dapat menarik uap air disekitarnya. Akibatnya, awan menjadi semakin besar dan ukuran tetesan cair awan juga semakin membesar. Ketika ukuran tetes cair awan semakin besar, tetesan tersebut juga bertambah berat. Akibatnya, tetes cair yang awalnya mengambang diudara, jatuh ke permukaan bumi.

Tetesan air yang jatuh ini selanjutnya kita sebut sebagai presipitasi atau hujan.

Jadi dari penjelasan diatas, bisa kita tarik kesimpulan.

Pertama, awan dapat terbentuk karena proses kondensasi air yang menguap di siang hari. Namun, tidak semua awan menjadi hujan, karena hujan hanya terjadi ketika ukuran tetesan air mencapai 0.5 milimeter.

Kedua, alasan mengapa hujan lebih sering turun di dataran tinggi. itu disebabkan karena tekanan udara di daerah pegunungan lebih rendah, sehingga awan-awan dari segala arah bergerak ke area pegunungan.

Ketiga, hujan adalah fenomena yang sangat penting. Karena berkat hujan, air dapat bersirkulasi dari dataran tinggi ke dataran rendah dan dibalikan lagi ke dataran tinggi. tanpa adanya hujan, air akan menggenang di dataran rendah akibatnya, daerah dataran rendah berpotensi banjir dan dataran tinggi berpotensi kekeringan.