Showing posts with label Materi Chasis. Show all posts

9 Alat Berat Pada Pertambangan Beserta Fungsinya

Keberadaan alat berat (heavy equipments) tidak bisa dipisahkan dari aktifitas pertambangan. Alat - alat berat ini akan mempermudah proses penambangan sehingga bisa berjalan secara efisien.

Lalu apa saja alat alat berat yang biasa dipakai dalam industri pertambangan ? mari kita bahas dibawah

Alat Berat Tambang dan Fungsinya


Penambangan dibagi menjadi dua, yakni penambangan terbuka dan penambangan dalam tanah. Penambangan terbuka dilakukan pada permukaan kulit bumi, contohnya penambangan batu bara.

Sementara penambangan bawah tanah dilakukan dibawah tanah, contohnya tambang minyak dan gas bumi.

Alat-alat yang akan dijelaskan dibawah adalah alat-alat tambang terbuka.

1. Scrapper


Scrapper adalah alat berbentuk seperti traktor yang memiliki sisir besar dibagian bawah. Fungsi scrapper pada kegiatan penambangan, adalah sebagai pengupas lapisan tanah pucuk.

Dalam proses penambangan batu bara, tanah tidak dikeruk begitu saja. Karena kandungan batu bara ada dibawah lapisan pucuk dan tanah penutup.

Scrapper digunakan untuk mengupas permukaan tanah pucuk, untuk kemudian diangkut untuk ditimbun dalam tempat penimbunan.

2. Wheel loader


Wheel loader adalah alat untuk memuat material dalam jumlah besar, bentuk wheel loader seperti dozer atau tracktor yang memiliki bucket besar didepan.

Bucket tersebut memiliki fungsi utama untuk loading/memuat, batu bara ke conveyer. Tapi wheel loader ini fokus melakukan pemuatan material yang tidak terlalu keras.

Selain untuk memuat batu bara, wheel loader juga digunakan untuk memuat tanah penutup yang sudah ditimbun kedalam dump truck untuk proses backfilling (penutupan lubang) setelah proses penambangan selesai.

Selesai disini artinya batu bara lada area tersebut sudah dikeruk habis, dan untuk rehabilitasi tanah maka bekas tambang tersebut ditimbun menggunakan tanah penutup yang sebelumnya ditimbun pada suatu tempat.

3. Excavator


Excavator adalah alat penggali yang mampu menggali lubang secara vertikal. Fungsinya memang mirip seperti wheel loader tapi fokus excavator itu ada di penggalian lubang.

Excavator bisa dipakai untuk menggali tanah penutup (khususnya apabila tanah didaerah tersebut basah), menggali batu bara, dan memuat material ke dump truck.

Excavator lebih difokuskan untuk penggalian diarea tambang, ada tiga jenis excavator yakni ;

  • Back hoe, merupakan jenis excavator yang paling banyak digunakan. Dengan arah bucket kedalam sehingga cocok untuk penggalian.
  • Front shoevel, jenis excavator yang memiliki bucket kearah depan. Fungsinya untuk mengikis tebing dan batuan.
  • Dragline, merupakan excavator berukuran besar yang digerakan menggunakan lengan crane dan kawat. Jenis ini dapat memuat material dalam jangkauan luas dan volume besar.


4. Belt conveyor


Conveyor ini digunakan untuk memundahkan material dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan intensitas tinggi. Meskipun kecepatan conveyer tidak kencang, namun berlangsung secara terus menerus sehingga kalau ditotal akan sangat besar jumlah angkutnya.

Alat ini biasa dipakai untuk mengumpulkan material dari beberapa lokasi tambang ke drop point dimana material-material tersebut siap diangkut ke tempat lain.

5. Dump truck


Dump truck pada dasarnya sama seperti truck pada umumnya, namun kapasitas dump truck jauh lebih tinggi. Fungsi dump truck adalah untuk mengangkut material dari area tambang ke kapal tongkang atau tempat pengolahan batu bara.

Ada dua jenis dump truck yang umumnya digunakan, yakni

  • Articulated dump truck (ADC), dump truck berukuran lebih kecil untuk bisa beroperasi diarea berlumpur.
  • Off high way truck (OHT), truck dengan kapasitas muat yang lebih besar daripada ADC.


6. Bucket wheel excavator


Alat keenam adalah alat berat super besar yang dipakai pada industri tambang berskala besar. Bucket wheel ecavator (BWE) adalah alat penggali terus menerus (continously digging machine) yang mampu menggali terus menerus dalam skala besar.

Fungsinya mirip seperti excavator, namun prinsip BWE ini sedikit berbeda. Karena ada banyak bucket yang diletakan pada sisi roda raksasa. Ketika roda raksasa tersebut berputar, maka bucket akan menggali permukaan tanah secara terus menerus.

Material pada bucket-bucket tersebut ditumpahkan diatas conveyer yang terletak di lengam BWE. Jadi alat ini bisa disebut sebagai paket lengkap karena dapat menggali sekaligus memindahkan mateial.

Alat Tambahan Untuk Persiapan Pertambangan


Selain keenam alat diatas, masih ada alat tambahan dalam pertambangan. Alat tambahan ini, berarti tidak berpengaruh secara langsung namun berguna dalam tahap persiapan. Alat tersebut antara lain ;

7. Bulldozer


Bulldozer adalah alat yang digunakan untuk pembukaan lahan, hal ini dikarenakan sebelum proses penambangan dimulai, area yang akan ditambang itu sudah ditumbuhi pepohonan dan semak belukar. Sehingga perlu pembukaan lahan, bulldozer yang sering melakukan proses ini karena mampu merobohkan pepohonan dan membersihkan semak belukar.

8. Moto grader


Moto grader digunakan untuk meratakan permukaan tanah, ini digunakan sebagai alat pendukung untuk memudahkan mobilisasi dump truck. Kalau jalannya rata maka material diatas dump truck tidak akan tumpah sehingga meningkatkan efisiensi dalam jangka panjang.

9. Roller

Roller dipakai untuk mengeraskan permukaan tanah, pada pertambangan roller dipakai untuk memadatkan tanah yang akan dijadikan jalan. Tentu tidak menggunakan aspal, namun hanya memadatkan tanah yang sudah ada.

Jadi dump truck bermuatan penuh tidak akan amblas saat melewati jalan tersebut.

Sekian artikel dari Autoexpose semoga bisa menambah wawasan kita semua.

9 Jenis Alat Berat Beserta Kegunaan dan Contohnya

Alat berat adalah alat-alat khusus yang didesain untuk melakukan tugas berat secara efisien. Tujuan alat berat adalah untuk membantu pekerjaan manusia agar lebih mudah dan efektif.

Alat berat banyak ditemukan pada proyek-proyek infrastruktur dan pertambangan, hal itu karena ada banyak tugas berat pada jenis proyek tersebut. Misalkan untuk melakukan penggalian tanah dengan kuantitas besar, kalau dilakukan manual oleh manusia tentu tidak akan efektif. Sehingga perlu alat berat berjenis excavator yang mampu menggali tanah dengan jumlah besar.

Selain excavator, tentu masih banyak contoh dan jenis alat berat. Disini akan kita jabarkan secara detail klasifikasi alat berat berdasarkan fungsi dan mobilitas beserta contoh-contoh alat berat yang biasa digunakan.

A. Jenis Alat Berat Berdasarkan Mobilitas


Alat berat, itu tidak hanya berwujud kendaraan (yang memiliki roda). Tapi ada juga alat berat yang tidak memiliki roda seperti tower crane. Sehingga ada klasifikasi alat berat yang bisa dipindahkan dan ada pula yang bersifat statis

1. Alat dengan penggerak

Alat dengan penggerak adalah alat-alat berat yang dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Untuk menunjang fungsi ini, alat dengan penggerak ini dilengkapi dengan mesin beserta powertrain set agar dapat dikemudikan.

Bentuk dari alat dengan penggerak ini berupa crawler atau roda kelabang, dan ban karet.

2. Alat statis

Alat statis bersifat statis atau menetap pada suatu tempat, contohnya seperto towercrane, batching plant, dan crusher plant.

B. Jenis Alat Berat Berdasarkan Fungsionalitas


Klasifikasi yang kedua, dibedakan berdasarkan fungsi masing-masing alat. Setidaknya ada 7 jenis alat berat yang diklasifikasikan berdasarkan fungsinya antara lain ;

1. Alat pengolah lahan


Alat pengolah lahan adalah alat-alat yang digunakan untuk menyiapkan lahan sebelum digunakan, hal ini karena pada awalnya lahan kosong ini ada pohon dan semak, sehingga perlu proses pembukaan lahan. Kalau kurang dari satu hektar, mungkin bisa dilakukan secara manual.

Tapi untuk pembukaan untuk proyek jalan tol, proyek perkebunan dan pertambangan pasti sangat luas sehingga perlu bantuan alat berat. Alat – alat yang digunakan antara lain ;

  • Dozer, untuk membuka lahan dan merobohkan pepohonan
  • Moto grader, untuk meratakan tanah
  • Scrapper, untuk mengangkat lapisan tanah paling atas


2. Alat penggali


Alat penggali adalah jenis alat yang digunakan untuk menggali tanah, jenis alat ini disebut juga sebagai excavator. Excavator merupakan alat berat yang memiliki bucket/keranjang untuk mengeruk permukaan tanah.

Excavator sendiri dibagi menjadi beberapa jenis yakni :

  • Front shovel, dengan bucket yang mengarah kedepan.
  • Backhoe, merupakan excavator yang paling umum dijumpai untuk mengeruk tanah dengan bentuk bucket kedalam.
  • Clamshell, merupakan excavator dengan bentuk bucket mencengkram.


3. Alat pengangkut

Alat pengangkut adalah alat berat yang digunakan sebagai pengangkut material dari satu tempat ke tempat lain. Contoh alat pengangkut ini adalah dump truck.

4. Alat pemindah


Alat pemindah meterial adalah alat-alat berat yang digunakan untuk memindahkan meterial dari satu tempat ke alat lain. Jadi perbedaanya dengan alat pengangkut, adalah jarak tempuhnya. Kalau alat pemindah itu memiliki jarak tempuh sangat pendek karena sifatnya hanya memindahkan meterial.

Contohnya loader yang memindahkan material ke dump truk

5. Alat pemadat


Kalau anda melihat proses pembuatan jalan, anda akan melihat satu alat berat yang memiliki roda besi berbentuk silinder dengan ukuran besar. Itu adalah roller yang digunakan untuk memadatkan lapisan tanah untuk jalan raya.

Dengan demikian alat pemadat bisa diartikan alat berat yang digunakan untuk memadatkan permukaan tanah secara singkat dan efektif. Sebenarnya pemadatan tanah bisa berlangsung secara sendirinya, tapi ini perlu waktu cukup lama. Sehingga perlu bantuan alat berat agar proses pemadatan tanah bisa berlangsung cepat.

6. Alat pemroses material


Alat pemroses material adalah alat-alat yang digunakan untuk memproses suatu material agar menjadi bentuk lain yang siap digunakan. Contohnya untuk mengubah batuan dan mineral menjadi batuan bergradasi, semen, beton dan aspal.

Contoh-contoh alat yang masuk dalam klasifikasi ini seperti concrete batch plant, asphalt mixing plant, concrete mixer truck, dan crusher.

7. Alat penempatan akhir material

Alat penempatan akhir merupakan alat-alat yang digunakan untuk menempatkan material pada suatu tempat yang sudah ditentukan dan tempat yang ditentukan itu adalah tempat akhir dari material tersebut.

Contohnya asphalt paver yang mampu menempatkan asphal pada permukaan padat yang siap telah ditentukan untuk menjadi jalan. Selain asphalt paver, contoh lainnya adalah concret spreader.

C. Contoh Alat Berat dan Fungsinya


Diatas sudah kita jelaskan jenis-jenis alat berat berdasarkan fungsi dan mobilitasnya. Sekarang, kami berikan contoh alat berat yang umum digunakan di Indonesia pada proses pengerjaan proyek insfrastruktur dan pertambangan.

1. Excavator


Seperti yang sudah dijelaskan diatas, excavator merupakan alat penggali yang dapat menggali permukaan tanah dengan jumlah yang besar. Bentuk excavator sangatlah khas, yakni dengan lengan yang dilengkapi bucket.

Bucket adalah semacam keranjang yang digunakan sebagai penggali dan pengeruk. Selain sebagai penggali tanah, excavator juga digunakan untuk ;

  • Memuat material
  • Mengangkat beban
  • Menghancurkan bangunan


2. Wheel loader & crawler loader

wheel loader by doosanequipment.eu

Wheel loader dan track loader merupakan dua alat yang sama namun memiliki perbedaan pada rodanya. Wheel loader menggunakan roda karet sementara track loader menggunakan crawler atau kaki kelabang.

Alat ini pada awalnya digunakan untuk memindahkan material dari suatu tempat ke dump truk, sama memang seperti dozer tapi loader memiliki bucket yang lebih besar sehingga daya tampungnya juga lebih besar.

Selain sebagai pemindah material, loader juga digunakan untuk mendorong material, meratakan tanah, pengupasan lapisan atas tanah (stripping) serta meratakan timbunan tanah.

3. Moto grader


Moto grader merupakan alat yang digunakan untuk meratakan permukaan tanah, bentuk alat ini seperti wheel loader dengan bentuk yang lebih panjang namun tidak memiliki bucket, melainkan memiliki pisau dibagian tengah (antara roda depan dan belakang).

Pisau ini akan meratakan permukaan tanah ketika moto grader berjalan. Pisau ini juga dapat diubah sudutnya, sehingga perataan tanah tidak hanya mengarah kedepan tapi juga bisa mengarah ke samping.

4. Dump truck


Dump truck adalah kendaraan berbasis truk yang memiliki kapasitas cukup besar. Dump truck biasa dipakai untuk mengangkut material dari satu tempat ke tempat lainnya dengan jumlah cukup banyak.

Ada dua dump truck yang biasa dipakai, yakni ;
Articulated dump truck (ADC), yakni dump truk yang digunakan mengangkut material dengan jumlah terbatas yang melewati jalan berlumpur.
Off highway truck (OHT), yakni dump truk yang dapat mengangkut material dengan jumlah besar dari mulai 40T hingga 360T.

5. Roller
tandem roller by scene7.com

Roller adalah alat yang digunakan untuk memadatkan suatu permukaan, misal untuk memadatkan bebatuan pada area yang akan dijadikan jalan. Bentuk roller ini sangat khas, karena memiliki ban berbentuk silinder dengan ukuran besar.

Ada beberapa jenis roller antara lain ;

  • Tamping roller, merupakan roller yang digunakan untuk memadatkan tanah basah (lempung).
  • 3-wheel roller, roller yang memiliki 3 roda baja yang digunakan untuk memadatkan bebatuan yang akan dijadikan dasar jalan.
  • Tandem roller, roller dengan roda baja namun lebih panjang, fungsinya sebagai pemadat akhir pada proses pengaspalan jalan.
  • Vibration roller, merupakan roller dengan efek vibrasi. Fungsinya untuk memadatkan tanah kering, (pasir & kerikil) agar pemadatan bisa lebih sempurna
  • Segment roller, merupakan roller dengan roda baja yang bergerigi. Roda bergerigi ini akan menekan tanah bagian dalam.


6. Crane

tower crane by sanyglobal.com

Crane adalah alat yang digunakan untuk memindahkan material berbobot besar dalam satu lokasi, crane lebih berkosentrasi pada pemindahan material secara vertikal. Contohnya untuk mengangkat beton ke bagian atas gedung.

Ada dua jenis crane, yakni

  • Tower crane, crane dengan ukuran besar yang digunakan pada konstruksi pembuatan gedung bertingkat tinggi. Tentu dengan kekuatan angkat yang lebih besar pula.
  • Mobile crane, crane yang bersifat mobile atau bisa dipindahkan kemanapun secara efektif. Biasanya crane ini terletak pada sebuah truk, tentu kemampuannya lebih terbatas.

10 Komponen Gardan Pada Mobil + Fungsi dan Gambar

Gardan atau diferensial adalah salah satu komponen powertrain yang berfungsi membedakan putaran roda kiri dan kanan pada satu poros.

Gardan akan sangat berguna ketika mobil berbelok, ketika mobil belok kiri maka roda belakang kiri memiliki lintasan lebih pendek daripada roda belakang kanan. Kalau putaran roda kiri sama dengan roda kanan, maka akan ada slip pada roda kiri karena putaran roda lebih banyak dibandingkan jarak lintasannya.

Untuk mengatasi masalah ini, maka ketika mobil belok kiri roda belakang kiri harus berputar lebih lambat dibandingkan roda belakang kanan. Juga sebaliknya, saat mobil belok kanan maka roda belakang kanan harus berputar lebih lambat dibandingkan roda belakang kiri.

Gardan akan memastikan fungsi ini, untuk bagaimana cara kerja gardan bisa anda simak pada artikel berikut ; Cara kerja gardan pada mobil

Diartikel ini, kita akan bahas secara detail nama komponen yang berinteraksi pada gardan. Apa saja ? simak selengkapnya dibawah.

Komponen Gardan Beserta Fungsinya


1. Drive pinion gear

Drive pinion gear merupakan roda gigi berbentuk nanas, fungsinya sebagai roda gigi pemutar (drive gear) yang menyalurkan tenaga dari poros propeller ke rangkaian gardan. Bentuk gigi seperti nanas, ini disebut hypoid gear. Bentuk ini memang cocok untuk menyalurkan tenaga secara efisien dan lembut.

2. Drive pinion shaft

Drive pinion shaft adalah poros roda gigi pinion, letaknya biasanya sudah menyatu (tersambung permanen) dengan drive pinon gear. Fungsinya sebagai poros pemutar untuk menyalurkan putaran dan poros propeller.

3. Ring gear


Ring gear adalah roda gigi berukuran besar dengan bentuk menyerupai cincin atau ring. Fungsi roda gigi ini, adalah untuk menerima putaran dari pinion drive gear. Keduanya, baik ring gear dan pinion drive gear disebut juga sebagai rangkaian final gear. Karena roda gigi terletak di akhir sistem powertrain mobil.

4. Differential carrier

Differential carrier atau disebut juga differential case berfungsi sebagai casing atau rumah untuk meletakan berbagai komponen gardan. Misal ring gear sebagai penerima putaran juga dibaut pada differential carier. Selain itu, rangkaian spider gead dan side gear juga diletakan pada komponen ini.

5. Spider gear

Spider gear berfungsi sebagai gigi pembeda putaran, jumlah spider gear ada dua yang letaknya 90 derajat terhadap side gear. Sehingga saat mobil belok, maka tumpuan mobil akan condong kesisi dalam (misal mobil belok kiri, maka tumpuan lebih ke arah kiri).

Sehingga roda bagian dalam akan lebih berat dibandingkan roda bagian luar, dalam kondisi perbedaan beban ini spider gear akan berputar. Apabila spider gear berputar meski sedikit, putaran roda kiri dan kanan akan berbeda. Tetapi saat jalan lurus, spider gear akan diam meski ring gear berputar cukup kencang.

6. Spider gear shaft

Fungsinya hanya sebagai poros untuk mempermudah pergerakan spider gear. Meski ada dua spider, gear porosnya hanya ada satu. Dengan kata lain, posisi dua spider gear ini saling berhadapan.

7. Side gear


Fungsi side gear adalah menerima putaran yang telah dimanipulasi oleh spider gear untuk diteruskan ke axle shaft. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, ketika mobil belok maka spider gear akan berputar untuk membedakan kecepatan putar roda.

Hasil dari proses pembedaan putaran spider gear akan dihubungkan ke side gear, dimana side gear akan terhubung secara langsung ke poros propeller.

8. Axle shaft bearing

Bearing atau bantalan digunakan sebagai alas komponen yang berputar, terhadap casing atau axle shaft housing yang diam. Bantalan ini ada dua, masing-masing terletak didekat side gear kiri dan side gear kanan. Fungsinya sebagai bantalan axle shaft terhadap axle shaft housing.

9. Adjuster nut

Merupakan mur penyetel celah final gear. Celah final gear, artinya gerakan pinion gear yang berputar sebelum final gear bergerak. Besar kecil celah ini, akan mempengaruhi kinerja gardan secara keseluruhan. Sehingga dalam suatu waktu, penyetelan celah final gear harus dilakukan dengan memutar adjuster nut.

10. Bearing cap

Bearing cap adalah komponen yang menahan bearing as roda yang terletak didekat side gear. Meski yang ditahan hanya bearing, tetapi secara tidak langsung bearing cap ini menahan keseluruhan rangkaian gardan dari axle shaft housing.

Selain 10 komponen utama diatas, masih ada beberapa komponen tambahan pada gardan seperti ;

  • Axle shaft housing sebagai penutup utama sistem gardan dan as roda/
  • Axle shaft housing cap, berupa tutup dengan banyak baut yang berperan sebagai penutup housing. Biasanya dari komponen inilah oli gardan dikeluarkan
  • Differential oil tube, merupakan lubang kecil pada axle shaft housing untuk mengisi oli gardan.

Oil seal, seal oli ini ada di beberapa tempat seperti didekat side gear dan di pinion gear.

Demikian artikel tentang komponen gardan dan fungsinya. Semoga bisa menambah wawasan kita semua.

Camber, Caster, dan Toe – Pengertian, Fungsi dan Efeknya

Kalau kita melihat roda mobil, pasti terlihat simeteris pada tiap roda. Padahal kalau dilihat secara spesifik, sudut roda khususnya roda depan itu memiliki sudut yang berbeda dengan orientasi kendaraan.

Ini disebut dengan FWA (front wheel alignment). Istilah Camber, Caster, Toe merupakan bentuk dari FWA ini. Dengan kata lain camber, caster dan toe menjadi patokan untuk mengatur sudut FWA kendaraan.

Lalu, apa fungsi dan pengertian camber, caster dan toe ? mari kita bahas dengan detail.

FWA sendiri merupakan sudut geometri roda yang mengatur posisi orientasi roda tidak pada sudut lurus untuk memaksimalkan handling kendaraan. Jadi kalau anda melihat posisi roda depan mobil yang miring, itu bukanlah sebuah permasalahan. Itu adalah salah satu bentuk FWA.

Ada tiga jenis FWA yang umumnya diset, yakni ;

  • Camber
  • Caster
  • Toe


1. Camber


Camber adalah sudut kemiringan roda secara vertikal apabila dilihat dari depan atau belakang mobil. Ada dua jenis sudut camber, yakni ;

Camber positif
Sisi roda atas lebih keluar dibandingkan sisi roda bawah, ini disebut camber positif. Efeknya, kendaraan akan lebih mudah dikendalikan karena masing-masing roda saling mendorong ke arah luar. Sehingga untuk membelokan setir, tidak perlu tenaga yang besar.

Camber negatif
Sisi roda bawah lebih keluar dibandingkan sisi roda atas, disebut camber neagtif. Sudut seperti ini memiliki efek pada turning radius yang cukup baik. Sudut belok akan bisa lebih tajam karena permukaan roda yang menyentuh tanah saat belok itu diminalisir. Hal inilah yang menyebabkan banyak kendaraan menggunakan sudut ini.

Baik camber positif atau negatif, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi untuk kendaraan umum, rata-rata menggunakan negatif camber karena terbukti mampu meningkatkan stabilitas berkendara.

Beberapa mobil bisa dilakukan penyetelan ulang sudut camber, tapi untuk mobil dengan suspensi machperson nampaknya sudut camber bersifat fixed (tidak bisa diubah). Namun bukan berarti sudut camber ini tidak bisa diset, untuk menyeting sudut camber pada suspensi machperson, perlu memodifikasi komponen suspensinya.

2. Caster

Caster adalah sudut kemiringan sumbu vertikal roda, artinya roda depan dapat berbelok karena bergerak pada sumbu vertikal. Caster, akan mengatur sudut kemiringan sumbu vertikal ini. Jadi posisi belok roda tidak 0 derajat vertikal.

Sama halnya dengan camber, sudut caster juga ada dua macam.


Caster positif
caster positif memiliki sumbu vertikal yang miring ke arah sumbu positif (membentuk sudut lancip terhadap posisi kendaraan). Sudut ini, akan mempengaruhi centering steer atau memungkinkan steer balik ke tengah dengan sendirinya. Sudut ini dipakai pada hampir semua jenis kendaraan roda dua.

Caster negatif
Caster negatif memiliki sumbu vertikal yang miring ke arah sumbu negatif (membentuk sudut tumpul terhadap posisi kendaraan). Sudut ini memang kurang baik untuk stabilitas berkendara karena steer susah dikendalikan, namun kelebihannya ada pada daya pengemudian yang lebih ringan.

3. Toe

Toe adalah sudut roda apabila dilihat dari atas kendaraan. Secara sederhana, apabila anda melihat sudut roda dari atas maka roda kendaraan tidak terletak 0 derajat secara lurus. Tetapi, ada sedikit kemiringan, kemiringan roda dari atas ini disebut toe.

Ada dua jenis toe, yakni



  • Toe out, roda bagian depan lebih keluar dibandingkan roda bagian belakang disebut toe out.
  • Toe in, roda bagian belakang lebih keluar dibandingkan roda bagian depan disebut toe ini.


Secara umum, sudut toe ini dijadikan koreksi terhadap sudut FWA lainnya. Misal efek dari sudut camber, roda bisa memberi dorongan ke sisi luar (camber positif) atau ke sisi dalam (camber negatif) untuk menetralisir, maka dibuatlah sudut toe agar orientasi roda bisa fokus ke arah yang lebih lurus.

Berbeda dengan camber dan caster yang umumnya tidak bisa distel, sudut Toe bisa diset dengan mudah. Caranya dengan memutar mur pada tie rod. Namun, penyetelan sudut toe yang berlebihan justru akan menimbulkan slip pada roda. Sehingga roda bisa cepat aus.

Dengan kata lain, pekerjaan penyetelan FWA ini harus anda serahkan pada pihak yang memiliki kompetensi. Selain beresiko, penyetelan sudut FWA juga harus dikalkulasi. Bagaimana cara menghitung sudut yang pas ? bagaimana cara mengukur sudutnya ? tentu ada alat khusus.

Sehingga, bengkel spooring balancing yang mampu melakukan penyetelan ini.

Demikian artikel singkat tentang pengertian dan fungsi camber, caster, toe. Semoga dapat menambah wawasan kita semua.

Sistem Powertrain Alat Berat, Komponen dan Fungsinya

Definisi sistem powertrain adalah mekanisme dari beberapa komponen yang saling bekerja sama untuk meneruskan tenaga dari mesin menuju final drive, tujuannya agar alat berat bisa bergerak.

Fungsi sistem powertrain antara lain ;

  • Meneruskan tenaga mesin ke final drive
  • Mereduksi putaran yang dihasilkan mesin
  • Mengubah tingkat percepatan gear
  • Mengubah arah putaran


Dari masing-masing fungsi tersebut, sistem powertrain harus dilengkapi dengan beberapa komponen. Diartikel ini, akan kita bahas nama-nama komponen powertrain pada alat berat beserta fungsinya.

Komponen Alat Berat dan Fungsinya


Secara umum, sistem pemindah tenaga pada alat berat tidak jauh beda dengan powertrain kendaraan ringan. Beberapa komponen tersebut antara lain ;

1. Kopling

Kopling berfungsi untuk memutuskan dan menyambungkan tenaga dari mesin menuju komponen powertrain lainnya. Kopling akan diaktifkan saat operator akan mengubah tingkat percepatan gigi, dalam hal ini putaran mesin harus diputus kalau tidak akan timbul efek nyentak karena perbedaan rasio gigi.

Ada dua macam kopling yang sering digunakan

  • Manual flywheel clutch, ini menggunakan beberapa plat yang bergesekan dengan flywheel. Saat akan memutuskan hubungan powerflow, maka operator harus menginjak pedal secara manual. Tipe ini memiliki konstruksi yang sederhana sehingga cocok untuk alat berat dengan ukuran kecil.
  • Hydraulic torque converter, berbeda dengan tipe manual clutch, torque converter bekerja secara otomatis yang artinya operator tidak perlu menginjak pedal kopling untuk pindah gigi. Torque converter memanfaatkan aliran hidrolik untuk memindahkan tenaga.


2. Transmisi

Transmisi berfungsi sebagai perangkat yang mengubah rasio gigi, artinya saat kita mengganti posisi gear maka rentangan torsi dan kecepatan alat berat bisa berubah. Komponen ini dimanfaatkan untuk memperbesar momen ketika sedang menanjak, serta memperbesar range kecepatan alat berat ketika sedang berada dijalan rata.

Transmisi yang digunakan, juga ada dua jenis yakni ;

a. Direct drive transmission
tipe ini dipasangkan bersama manual clutch, karena memang sistem perpindahan giginya masih manual menggunakan beberapa rangkaian roda gigi. Secara umum, tipe direct drive ini dipakai pada machine dengan ukuran kecil dan beroperasi pada jalan relatif rata. Seperti motor grader dan traktor pertanian.

b. Power transmission
tipe power transmission digunakan pada tipe torque converter yang memanfaatkan aliran hidrolik. Pada tipe ini, perpindahan gigi bisa langsung dilakukan tanpa perlu putus sambung tenaga dari mesin. Sehingga lebih efektif.

Untuk mekanisme perpindahannya, ada dua macam.


  • Planetary gear, ini menggunakan rangkaian gigi planet yang dapat mereduksi putaran atau menambah momen ketika salah satu gigi di engaged-kan.
  • Counter shaft, tipe ini mirip tranmsisi tipe direct dengan beberapa rangkaian roda gigi. Namun, pada tipe ini diberi tambahan clutch pack untuk melakukan perpindahan gigi.


3. Transfer Gear

Pada beberapa jenis machine seperti wheel loader yang memilik empat roda dan empat penggerak (4WD), maka perlu komponen tambahan seperti transfer gear. Fungsinya untuk membagi putaran output dari transmisi ke masing-masing roda.

4. Diferential

Fungsi diferensial adalah untuk membuat putaran roda kiri dan kanan berbeda saat belok agar tidak terjadi selip.

Komponen ini bisa ditemui pada machine yang masih menggunakan roda seperti wheel loader dan dump truck. Sementara untuk alat berat yang menggunakan tracker, menggunakan bevel gear.

Beberapa jenis differential antara lain ;

  • Open differential/standar, tipe ini banyak digunakan pada hampir semua kendaraan. Pada tipe ini, putaran roda kiri dan kanan bisa berbeda tergantung lintasan (biasanya saat belok).
  • Limited slip differential, tipe ini memungkinkan adanya sedikit slip pada roda saat belok untuk menunjang power tetap tersalur dengan maksimal. Tipe ini lebih populer pada race car.
  • Lock differential, tipe ini menggunakan pin pengunci untuk menyamakan putaran roda kiri dan kanan dan pin tersebut akan terlepas saat kendaraan berbelok. Tipe ini lebih sering dipakai pada kendaraan-kendaraan yang beroperasi pada medan off-road.
  • Spool differential, tipe ini menyatukan poros roda sehingga putaran roda kiri dan kanan akan selalu sama meski sedang belok.


5. Drive shaft

Drive shaft merupakan poros yang dijadikan penghubung antara dua komponen powertrain yang lokasinya berjauhan. Tidak semua alat berat dilengkapi drive shaft, hanya alat berat yang menggunakan roda yang dilengkapi drive shaft.

6. Final drive

Final drive adalah gigi terakhir yang menghubungkan tenaga dari komponen powertrain ke roda/track, selain sebagai penghubung final drive juga akan mereduksi putaran input untuk menaikan torsi putaran memanfaatkan perbedaan mata gigi. Final drive juga berperan untuk mengubah arah tenaga dari powertrain secara tegak lurus. Sehingga bisa diteruskan ke roda.

Sekian artikel singkat tentang komponen dan fungsi sistem powertrain pada alat berat, semoga dapat menambah wawasan kita semua.

Excavator Hidrolis - Mengenal Komponen dan Jenis-Jenisnya

Excavator adalah salah satu alat berat yang memiliki kerangjang dan serangkaian lengan untuk melakukan fungsi pengerukan.

Excavator biasa digunakan untuk mengeruk permukaan tanah secara efisien, tak heran alat ini biasa ditemukan pada area pertambangan atau pengerukan dasar sungai.

Tapi, kegunaan excavator tidak terbatas pada pengerukan saja. Beberapa fungsi excavator antara lain ;

  • Menggali tanah (digging)
  • Memuat material ke truk (loading)
  • Mengangkat material
  • Mengikis tebing
  • Meratakan permukaan tanah
  • Menghancurkan bangunan


Untuk menunjang aktifitasnya, excavator dibuat agar mampu melewati medan apapun. Lalu, apa saja komponen-komponen yang ada pada excavator ? kita akan membahasnya dibawah.

Nama Komponen Excavator Beserta Fungsinya

img : excavatorrepairparts.com

1. Bucket

Bucket adalah keranjang yang berfungsi untuk menunjang fungsi utama excavator untuk mengeruk. Bentuk bucket ini seperti keranjang dengan ujung bucket terdapat beberapa jari-jari. Fungsi jari-jari ini seperti garpu yang mempermudah proses pengerukan.

Ada beberapa jenis bucket, antara lain ;

  • Ripper bucket, merupakan jenis bucket yang paling umum digunakan untuk pengerukan tanah.
  • Rock bucket, jenis ini memiliki gigi lebih renggang namun kuat dan tajam fungsinya untuk menembus bebatuan atau mencabut akar pohon.
  • Slope bucket, jenis ini tidak memiliki gigi namun dimensinya cukup lebar, biasa digunakan untuk meratakan permukaan.
  • Clamshell bucket, memiliki dua bucket yang bergerak mencapit, berguna mengeruk dengan arah tegak lurus.


2. Bucket cylinder

Bucket cylinder merupakan aktuator sistem hidrolik yang berbentuk silinder, lokasinya ada pada arm atau lengan excavator. Fungsi bucket cylinder, adalah untuk menggerakan bucket agar bisa bergerak mengayun.

3. Arm

Arm atau lengan excavator berfungsi untuk mengayunkan bucket lebih jauh, berkat adanya lengan ini jarak ayunan bucket bisa lebih jauh sehingga mampu menunjang fungsi lebih luas. Selain sebagai pengayun, arm ini juga dijadikan tempat peletakan bucket cylinder.

4. Arm cylinder

Arm cylinder adalah aktuator hidrolik berbentuk tabung yang terletak pada boom excavator, fungsinya untuk menggerakan arm agar dapat mengayun.

5. Boom

Boom adalah lengan besar yang terhubung langsung ke excavator, fungsi boom ini adalah untuk mengayunkan arm lebih jauh lagi sehingga jangkauan gerak bucket bisa lebih jauh.

6. Boom cylinder

Boom cylinder merupakan aktuator hidrolik yang terdapat pada boom, fungsinya untuk menggerakan boom naik turun. Silinder ini sama seperti arm cylinder dan bucket cylinder. Namun dalam sebuah excavator umumnya memiliki dua boom cylinder, mengingat beban angkat boom cylinder paling berat dibandingkan silinder lain.

7. Track

Track adalah kaki excavator, kaki excavator tidak terbuat dari ban seperti kendaraan pada umumnya. Kaki excavator terbuat dari rantai besi mirip tank. Ini dimaksudkan agar excavator mampu bergerak pada medan curam sekalipun.

Track sendiri, ada beberapa bagian lagi ;

  • Track frame, merupakan batang besi sebagai rangka roda excavator.
  • Final drive, roda gigi yang berfungsi menggerakan rantai track.
  • Roller, merupakan kumpulan roda gigi statis sebagai tumpuan excavator.
  • Front idler, merupakan roda gigi untuk mengubah arah putaran rantai track.
  • Track shoes, adalah rantai track yang akan menyentuh permukaan jalan secara langsung.


8. Swing drive

Berfungsi sebagai engsel antara body excavator dengan track excavator, komponen ini memungkinkan body excavator berputar 360 derajat.

9. Cabin

Cabin adalah ruang pengoperasian excavator, fungsinya sebagai ruang operator untuk mengendalikan excavator.

10. Engine/Hydraulic pumo room

Ini terletak dibagian belakang body excavator, fungsinya untuk meletakan mesin dan perangkat pompa hidrolis yang digunakan sebagai sumber penggerak excavator.

Bagaimana Cara Kerja Excavator ?


Pada dasarnya, excavator bekerja menggunakan prinsip hidrolik. Tujuan utama excavator adalah menggerakan bucket untuk mendorong atau mengeruk sesuatu. Untuk menunjang tujuan itu, tiga buah silinder (bucket cylinder, arm cylinder, boom cylinder) bekerja secara bergantian untuk menggerakan bucket.

Dilihat dari bentuknya, excavator sendiri dibagi dalam beberapa jenis antara lain ;

1. Crawler Excavator



Jenis ini memiliki bentuk seperti yang kita ulas diatas, dengan bucket yang kecil fungsinya lebih condong ke pengerukan permukaan tanah.

2. Backhoe Excavator



Backhoe excavator memiliki bentuk yang lebih kompak dengan dilengkapi roda (bukan track). Namun, jenis ini memiliki bucket yang lebih besar. Tipe ini lebih cocok digunakan untuk memindahkan material dari satu tempat ke tempat lain.

3. Dragline Excavator



Jenis ini merupakan excavator terbesar, fungsinya hampir sama dengan crawler namun pengaplikasiannya lebih luas dan lebih efektif. Berbeda dengan tipe lainnya, crawler excavator umumnya tidak menggunakan hidrolik, melainkan menggunakan tali kawat yang ditarik untuk menggerakan bucket.

Alat ini sering ditemukan pada area pertambangan dan umumnya.

Demikian artikel singkat tentang komponen dan jenis excavator hidrolis. Semoga bisa menambah wawasan kita semua.

8 Komponen Utama Sistem Hidrolik Beserta Fungsinya

Kalau anda melihat alat besar seperti exavator, atau yang paling mudah truk pengangkut pasir memiliki sebuah mekanisme hidrolik untuk mengangkat bak berisi pasir yang bobotnya bisa sampai puluhan ton.

Yang jadi pertanyaan, bagaimana bisa lengan sekecil itu mengangkat beban cukup besar tanpa patah ? dan dari mana sumbernya ?

Beberapa dari anda mungkin sudah paham, ini adalah tugas sistem hidrolik.

Secara sederhana, sistem hidrolik adalah perangkat konversi energi yang dapat melipat gandakan tenaga ouput dengan efisien melalui bantuan zat cair.

Artinya, kalau kita lihat kekuatan lengan hidrolik tersebut mungkin dalam benak kita, pasti tenaga yang dibutuhkan untuk menggerakan lengan hidrolik tersebut cukup besar.

Padahal, kenyataanya tenaga input tidak sebesar itu. Sistem hidrolik mampu mengangkat beban sangat besar itu karena ada manipulasi momentum. Manipulasi momentum ini memungkinkan sistem hidrolik mengangkat beban cukup berat meski hanya menggunakan tenaga yang kecil.

Mengapa bisa demikian ?

Ini disebabkan sistem hidrolik memanfaatkan hukum pascal, namun lebar penampang input dibuat lebih kecil dibandingkan lebar penamang ouput. Cara ini, bisa melipatkgandakan momentum sehingga lengan excavator sanggup mengangkat beban yang sangat berat.

Anda bisa mempelajarinya lebih lanjut pada artikel berikut ; prinsip kerja sistem hidrolik.

Diartikel ini, kita akan bahas komponen-komponen yang berinteraksi pada sistem hidrolik.

8 Komponen Hidrolik + Fungsinya

img : cicb.com

Secara sederhana, sistem hidrolik mampu bekerja apabila ada tiga komponen berikut.

  • Input power (pompa hidrolik)
  • Unit penyalur (oli didalam selang hidrolik)
  • Aktuator.


Saat input power memberikan tenaga dorongan pada oli didalam saluran hidrolik, maka oli tersebut akan meneruskan daya dari motor untuk dikonversi menjadi gerakan mekanis melalui aktuator. Tapi dalam aplikasinya, ada sekitar 7 komponen pada sistem hidrolik. Yakni ;

1. Pompa hidrolik sebagai input power

Pompa hidrolik berfungsi sebagai tenaga yang memulai mekanisme hidrolik pada sistem hidrolik. Pompa ini akan mengubah gerakan mekanik menjadi energi hidrolik. Cara kerjanya, pompa akan bergerak untuk memicu pergerakan fluida hidrolik.

Pergerakan fluida inilah yang menaikan tekanan hidrolik sehingga aktuator dapat bergerak sesuai tekanan pada fluida.

Namun, pompa hidrolis memerlukan tenaga dari luar agar bisa bergerak. Untuk alat-alat berat menggunakan mesin diesel sebagai penggerak pompa hidrolik. Namun pada perangkat hidrolik kecil seperti car lift, sistem ABS (pada rem mobil) menggunakan motor listrik sebagai penggerak pompa hidrolik.

Ada tiga jenis pompa hidrolik yang banyak digunakan. Antara lain ;

  • Tipe gear pump, tipe ini memanfaatkan pergerakan dua roda gigi untuk menimbulkan aliran hidrolik.
  • Tipe piston pump, tipe ini mirip kompresor dimana fluida akan terhisap didalam silinder dan piston akan mendorongnya melalui katup outlet sehingga aliran fluida bisa terbentuk.
  • Tipe vane pump, tipe ini mirip pompa air pada rumah yang memafaatkan kipas pada sebuah rotor yang akan menghisap fluida saat berputar.


2. Directional Control valve

Directional control valve berfungsi layaknya pintu yang akan menutup dan membuka saluran untuk mengarahkan aliran fluida ke output tertentu. Sehingga bisa dikatakan control valve berfungsi sebagai pengatur arah tekanan fluida.

Control valve ini bisa ditemukan pada sistem hidrolik dengan multi aktuator. Apa itu ? yakni sistem hidrolik dimana ada lebih dari satu tabung hidrolik. Contohnya lengan excavator.

Namun untuk sistem hidrolik single aktuator seperti pada pengangkat pasir atau car lift tidak memerlukan control valve karena hanya ada satu saluran.

Beberapa macam valve selain directional control valve pada sistem hidrolik antara lain ;

  • Sequence valve, untuk memastikan sirkuit hidrolik telah maju sepenuhnya sebelum sirkuit lain bergerak.
  • Relieve valve, mengalirkan fluida ke reservoir apabila tekanan fluida berlebihan.
  • Regulating valve, menjaga tekanan hidrolik tetap stabil di titik tertentu.
  • Check valve, memastikan arah aliran fluida searah.


3. Unit aktuator

Unit aktuator berfungsi mengubah energi yang terkandung dalam aliran fluida (dikatakan juga tekanan fluida) menjadi gerakan mekanis. Dari komponen inilah perangkat hidrolik dapat menggerakan benda.

Ada dua macam aktuator yang sering dipakai, yakni ;

  • Tipe tabung/piston, ini dipakai pada hampir semua sistem hidrolik. Tipe ini menggunakan piston didalam tabung yang akan bergerak maju/searah saat tertekan oleh fluida. Gerakan piston dimanfaatkan untuk menggerakan benda. Contohnya, lengan excavator, car lift, hydraulic crane, dan sistem rem hidrolis.
  • Tipe rotary, pada tipe ini aktuator akan bergerak berputar saat diberi tekanan fluida. Contohnya torque converter pada sistem transmisi otomatis mobil.


4. Reservoir tank

Reservoir tank berfungsi sebagai tanki penyimpanan fluida. Didalam tanki ini tersimpan cadangan fluida yang diperlukan saat proses hidrolik berlangsung. Pada tanki ini pula, seorang teknisi memeriksa kondisi fluida dalam sistem hidrolis apakah masih bagus, atau perlu diganti/ditambah.

5. Unit penyalur hidrolik

Unit ini terdiri dari selang hidrolis. Selang hidrolis berfungsi mengalirkan fluida. Namun ini bukan selang biasa, selang hidrolik harus mampu bertahan dalam tekanan tinggi. Ini karena tekanan fluida saat sistem hidrolik bekerja bisa sangat besar, sehingga bahan selang ini kebanyakan terbuat dari bahan logam.

6. Fluida cair

Fluida menjadi penghantar energi dari pompa ke aktuator. Sistem hidrolis, pada dasarnya hanya memindahkan energi dari pompa ke aktuator. Sebenarnya, zat cair dan gas apapun bisa dijadikan fluida untuk sistem ini.


Namun, oli hidrolis cair ini digunakan karena molekulnya lebih besar serta lebih tahan terhadap panas. Sehingga cocok diberi tekanan tinggi tanpa bocor.

7. Filter

Filter berfungsi menyaring segala jenis kotoran yang ikut terbawa dalam aliran fluida agar tidak masuk ke sirkuit hidrolik. Kotoran ini akan dihalau oleh filter sebelum oli memasuki saluran hidrolik, sehingga sistem hidrolik akan lebih aman.

8. Oil cooler

Pada beberapa jenis sistem hidrolik, memerlukan oil cooler sebagai pengatur suhu fluida. Fungsi oil cooler untuk mendinginkan fluida, fluida yang telah digunakan (diberi tekanan tinggi) suhunya akan meningkat. Fluida dengan temperatur tinggi ini akan mengalami penurunan kualitas, serta beresiko merusak komponen lain. Sehingga perlu didinginkan.

Rangkaian Sistem Hidrolik Sederhana


Supaya lebih mudah dipahami, rangkaian sistem hidrolik ini bisa digambarkan pada skema berikut.

Saat dikendalikan maju
Saat dikendalikan kebelakang
Dari gambar diatas, harusnya bisa dipahami,

  • Komponen A, berperan sebagai tuas pengendali
  • Komponen B, berperan sebagai input device atau pada sistem hidrolik yang lebih kompleks komponen ini diganti menggunakan pompa hidrolik.
  • Komponen C, berperan sebagai selang
  • Komponen D, berperan sebagai aktuator yang mengubah tekanan hidrolik menjadi gerakan.
  • Komponen E, adalah output device


Ketika tuas pengendali dimajukan, piston pada komponen B akan menekan fluida berwarna biru. Hasilnya, piston pada komponen D mendorong output untuk bergerak.

Begitu pula saat tuas pengendali ditarik mundur, piston pada komponen B akan menyedot fluida. Hasilnya, piston pada komponen D juga ikut tertarik sehingga output juga bergerak mengikuti tarikan piston.

Sementara pada sistem hidrolik yang lebih kompleks, akan ada tambahan komponen seperti control valve, oil cooler, dan filter yang terletak diantara unit input dan aktuator.

Konstruksi Ban, Mengenal Fungsi Komponen Pada Ban

Ban, siapa yang tidak mengenal komponen ban ini ? komponen yang paling mencolok pada kendaraan ini, tentunya berfungsi cukup penting. Tidak hanya sebagai alas atau sepatu pada roda mobil, sebuah ban juga dituntut agar mudah di handling serta mampu menyerap getaran kecil pada permukaan jalan.

Oleh sebab itu, meski ban terlihat seperti gulungan karet namun apabila kita bedah konstruksi ban itu terdiri dari berbagai bagian.

Diartikel ini, kita akan belajar bagian-bagian ban mobil beserta fungsinya.

A. Bagian dan Konstruksi Ban


Secara umum, ban pada mobil dibagi menjadi 5 bagian yakni ;

  1. Inner tire/lapisan ban dalam
  2. Belt package/serangkaian sabuk ban
  3. Tread/lapisan permukaan ban yang menyentuh jalan
  4. Sidewall/lapisan karet samping ban
  5. Bead/komponen yang bersentuhan dengan rims atau velg


Masing-masing bagian, juga tersusun atas beberapa komponen. Lalu apa saja ? simak ulasannya dibawah.

1. Inner tire

Lapisan ban dalam terbuat dari bahan karet tipis yang memiliki pori cukup kecil hingga tak mampu ditembus molekul udara. Fungsi lapisan ban dalam ini, adalah untuk menjaga angin ban agar tidak keluar sehingga ban bisa menggelembung dan bisa digunakan.

2. Belt package


img : discounttiredirect.com

Serangkaian sabuk ban adalah komponen inti yang membentuk lingkaran ban. Pada bagian ini, terdapat banyak susunan komponen antara lain ;

  • Carcass, merupakan rangka ban yang terbuat dari kawat baja. Carcass ini disebut juga sebagai tulang ban yang membentuk ban agar berbentuk melingkar sehingga lapisan lain bisa diletakan.
  • Crown plies, merupakan layer nylon/polyester yang terletak diatas cascass. Fungsinya sebagai lapisan utama ban yang memberi efek peredam getaran serta membuat ban menjadi fleksibel.
  • Cap plies, merupakan layer yang terletak diatas crown plies. Fungsinya untuk menjaga bentuk ban saat berputar pada kecepatan tinggi agar gaya sentrifugal yang terbentuk tidak merusak struktur ban.
  • Edge plies, merupakan layer tambahan yang terletak pada sudut ban. Fungsinya untuk memperkuat bentuk bahu ban/sudut ban agar handling bisa lebih mudah.
  • Radial plies
  • Radial cords, merupakan garis-garis yang terletak dibawah lapisan sidewall untuk menambah elastisitas sidewall sehingga kenyamanan berkendara bisa lebih baik.


3. Tread



Lapisan terluar ban yang bersentuhan langsung dengan ban disebut dengan tread ban. Fungsi utama dari tread adalah untuk menambah daya cengkram ban terhadap jalan, sehingga ban tidak mudah selip. Dibagian ini juga tersusun atas beberapa bagian antara lain ;

  • Tread area, merupakan semua area dimana permukaan ban akan bersentuhan langsung dengan permukaan jalan.
  • Shoulder, disebut juga bahu ban/sudut ban dimana disinilah titik temu antara sidewall dan tread area.
  • Grooves, garis yang membelah tread area menjadi beberapa bagian.
  • Tread blocks, merupakan blok yang dipisahkan oleh garis grooves.

Sipes, merupakan garis kecil ditengah-tengah tread block.

4. Sidewall

Sidewall adalah lapisan karet tebal disamping ban, fungsi lapisan ini antara lain untuk menutup area belt package, melindungi area samping ban dari korosi, dan sebagai tempat untuk menuliskan logo serta spesifikasi ban. Berbeda dengan tread, sidewall umumnya terbuat dari satu lapisan karet.

5. Bead



Bead adalah komponen ban yang bertugas sebagai frame ban yang bersentuhan dengan velg. Dengan kata lain, bead ini seperti tangan yang membuat ban tetap bisa menempel pada velg.

Secara umum, bead terbuat dari kawat baja. Namun ada beberapa lapisan lain yang mendukung yakni ;

  • Bead chipper, berfungsi melindungi area sidewall paling bawah.
  • Bead flipper, menjaga posisi bead agar tidak bergeser baik saat ban digunakan atau saat penggantian ban.
  • Bead, merupakan serangkaian kawat baja yang berfungsi untuk merapatkan koneksi antara ban dan velg.
  • Bead chafer, merupakan pembungkus bead.


B. Pola-Pola Tread Ban


Ternyata, ban yang dijual dipasaran memiliki pola tread yang berbeda. Dan perbedaan pola tersebut mempengaruhi banyak hal seperti handling, dan daya cengkram ban.

Dilansir dari pepboys.com ada 4 jenis pola tread ban yakni ;


  1. Directional, merupakan pola tread ban searah yang artinya ban akan efektif apabila dipakai pada satu arah saja. Ban direct, juga anti air sehingga bisa terlindungi dari efek hydroplanning. Namun kelemahannya, ban harus digunakan dengan arah rotasi yang tepat.
  2. Simetris, merupakan pola tread yang sama apabila dibolak-balik (simetris) sehingga bisa digunakan dengan dua arah rotasi sekaligus. Ban tipe ini banyak dipakai pada mobil penumpang seperti low-MPV dab LCGC karena lebih awet dan bisa di rotasi pada posisi mana saja.
  3. Asimetris, ban tipe asimetris memiliki pola yang berbeda antara bagian luar dan dalam ban. Ini dimungkinkan agar handling dan daya cengkram ban bisa lebih baik pada segala kondisi. Ban ini banyak ditemukan pada sportcar, sementara untuk rotasi ban juga ada aturan tersendiri.
  4. Directional/asimetris, merupakan kombinasi antara tipe direct dan asimetris. Hasilnya ban bisa anti air (anti hydroplanning) serta grip ban juga sangat bagus pada kondisi kering. Sementara untuk aturan rotasi ban, anda harus melihat arah rotasi pada ban.


Demikian artikel singkat tentang pengertian, komponen dan konstruksi ban. Semoga bisa menambah wawasan kita.