7 Komponen Power Supply / Catu Daya Beserta Fungsinya

Barang elektronika seperti TV, komputer memiliki perangkat yang namanya power supply. Power supply sendiri kalau diartikan menjadi “pemasok tenaga” Mungkin anda yang masih awam akan bingung ? mengapa power supply dibutuhkan ? mengapa tidak langsung dari stop kontak saja ?

Kita akan bahas semuanya dibawah.

Power supply adalah perangkat elektronika yang digunakan untuk mengolah sumber kelistrikan pada barang elektronika yang kompleks.

Jadi kalau disederhanakan, power supply itu Cuma mengolah sumber listrik dari stop kontak.

Mengapa power supply dibutuhkan ?

Alasannya, pada barang elektronika yang kompleks seperti komputer, Radio, dan TV ada banyak sekali perangkat elektronika yang membutuhkan arus DC dengan besar tegangan berbeda-beda. Sementara sumber listrik dari stop kontak itu AC 220V.

Jadi fungsi power supply itu untuk mengubah arus AC 220 V menjadi arus listrik dengan besar tegangan yang sesuai dengan kebutuhan tiap perangkat didalam barang elektronika tersebut.


Lalu bagaimana cara kerjanya ?

Sebelum sampai kesitu, anda perlu memahami rangkaian dan fungsi tiap komponennya terlebih dahulu. Dibawah sudah kami berikan 7 komponen power supply beserta fungsinya masing-masing.

Komponen Power Supply dan Fungsinya


7 komponen dibawah terdiri dari 4 komponen utama, yakni transformator, dioda, capacitor, dan IC voltage regulator. Serta 3 komponen tambahan seperti saklar, sekering, dan lampu indikator.


1. Transformator

Transformator atau banyak orang menyebutnya “trafo” adalah komponen elektronika yang bisa mengubah tegangan listrik. Trafo ada dua jenis, yakni trafo step up dan trafo step down.

Sesuai namanya, trafo step up dapat menaikan tegangan sementara trafo step down dapat menurunkan tegangan.

Pada power supply, jenis trafo yang dipakai adalah trafo step down karena tegangan yang dibutuhkan umumnya kecil, sehingga pada power supply transformator berfungsi mengubah arus input (AC 220 V) menjadi arus AC dengan tegangan lebih kecil.

2. Dioda

Dioda adalah komponen yang unik, karena satu sisi dapat meloloskan arus namun disisi yang berlawanan dapat memblok arus.

Kemampuan dioda yang unik ini dimanfaatkan pada power supply untuk mengubah arus AC menjadi DC. Pengubahan ini terjadi karena setengah gelombang arus AC terblok oleh dioda, sehingga menghasilkan arus setengah gelombang atau DC.


Agar pengubahan arus lebih efektif, dioda umumnya dirangkai membentuk lingkaran yang disebut dioda bridge. Dioda bridge terdiri dari empat dioda, dua input, satu output dan satu ke ground.

3. Capacitor

Capacitor adalah komponen elektronika multi fungsi, komponen ini dapat menyimpan arus apabila dihubungkan dengan sumber arus, dan langsung melepaskannya saat sumber arus hilang.

Namun pada power supply, capacitor digunakan untuk menyaring tegangan DC yang tidak stabil dari dioda bridge (tegangan riple). Perlu diketahui juga, besarnya tegangan setelah melewati pengubahan arus pada dioda bridge kadang menjadi tidak stabil.

Sehingga perlu komponen untuk menstabilkan frekuensi gelombangnya, komponen ini adalah kapasitor yang dirangkai secara paralel setelah dioda bridge.

4. IC voltage regulator

IC regulator adalah perangkat mikro-kontroler yang berfungsi untuk mengubah besar tegangan DC menjadi tegangan yang siap pakai oleh semua perangkat elektronika.

Jadi, ibaratnya IC regulator yang mematangkan tegangannya. Tegangan dari IC regulator ini bisa langsung dihubunkan sebagai sumber arus untuk perangkat elektonika tertentu.

5. Saklar

Saklar merupakan komponen tambahan pada power supply yang artinya kalau komponen ini tidak ada, sebenarnya power supply masih berjalan baik. Namun komponen tambahan ini digunakan agar power supply lebih mudah dalam pengoperasian.

Saklar berfungsi untuk mengaktifkan dan menonaktifkan power supply tanpa mencabut stekernya.

Jadi kalau power supply ada saklarnya, maka kita tinggal menekan tombol untuk mengaktifkan atau menonaktifkan power supply. Pada barang elektronika, saklar ini menyatu dengan saklar untuk menghidupkan alat tersebut jadi misal kita menekan tombol ON saat menghidupkan komputer maka secara tidak langsung saklar power supply menjadi aktif sehingga power supply bekerja.

6. Sekering

Sekering adalah komponen yang berfungsi mengamankan komponen utama power supply, jadi sekering sebenarnya hanya sebagai jaga-jaga apabila ada arus besar yang masuk ke power supply.

Hal ini penting karena arus yang terlalu besar dapat merusak kompone seperti dioda dan IC regulator, karena tiap komponen memiliki kapasitasnya, kalau ternyata terjadi korsleting sehingga ada lonjakan arus sampai melebihi kapasitas komponen elektronika maka power supply akan rusak.

Oleh sebab itu, meski hanya sebagai pengaman (bukan komponen utama) sekering sudah seperti wajib.

Cara kerja sekering adalah dengan memutuskan jalur input ke transformator saat terdeteksi lonjakan arus.

7. Lampu indikator

Lampu indikator juga hanya sebagai komponen tambahan karena fungsinya Cuma sebagai indikator bahwa power supply sedang bekerja.

Umumnya, lampu yang digunakan adalah lampu LED yang memiliki daya kecil. LED ini disambungkan setelah capacitor atau sebelum masuk ke IC regulator.

Mengapa tidak diletakan pada output regulator ?

Ini karena output dari IC regulator biasanya tidak hanya satu, karena power supply tidak hanya memasok listrik untuk satu perangkat saja tapi semua perangkat didalam sistem elektronika.

Bagaimana power supply bekerja ?

Untuk mempelahari cara kerja power supply bisa anda lanjutkan pada artikel berikutnya Cara kerja power supply

9 Macam Power Tools Beserta Fungsi dan Cara Penggunaannya

Power tools adalah perkakas yang menggunakan tenaga non manusia sebagai penggeraknya, tenaga non manusia ini bisa berupa motor listrik, engine, tekanan angin ataupun tekanan hidrolik.

Fungsi power tools adalah untuk meringankan beban kerja manusia, umumnya power tools ini dibuat dari hand tools tapi diberi sistem tenaga sehingga dalam penggunaannya manusia hanya mengoperasikan alat tersebut melalui tombol.

Lalu apa saja yang termasuk dalam power tools ?

Ternyata ada banyak sekali, tapi kami akan membahas 9 power tools yang banyak diaplikasikan pada bengkel – bengkel mobil.

1. Air impact wrench



Air impact wrench atau pada bengkel biasa disebut impact saja merupakan sebuah alat yang berfungsi sebagai pemutar kunci shock. Kunci shock sendiri berfungsi untuk mengendorkan dan mengencangkan mur/baut sehingga dengan kata lain impact wrench berfungsi untuk melepas atau memasang mur/baut.

Namun impact tidak menggunakan tenaga manusia seperti kunci pada umumnya, impact digerakan oleh angin bertekanan.

Jadi, sebuah niple udara dari kompressor dihubungkan pada impact lalu saat kita menekan tombol pada impact secara otomatis impact berputar. Impact ini biasa dipakai untuk melepas mur roda dengan lebih cepat.

2. Gerinda portable/gerinda tangan

Gerinda portable berfungsi sebagai alat pemotong, pada alat pemotong manual kita memajumundurkan gergaji untuk memotong benda kerja dan itu memerlukan waktu lebih lama.

Dengan gerinda portable ini, pekerjaan bisa menjadi lebih cepat karena gerinda digerakan oleh motor listrik. sehingga kita tinggal menekan tombol pada gerinda maka mata gerinda akan berputar dan siap untuk memotong segala hal.

Sebenarnya gerinda bisa digunkan untuk memotong berbagai bahan dari mulai besi, kayu, atau keramik. Namun setiap bahan memerlukan mata gerinda yang berbeda, hal ini tentu lebih baik daripada gergaji biasa yang memiliki alat yang beda dari gergaji kayu dan gergaji besi.

Disebut juga portabel karena gerinda ini bisa dibawa kemana-mana sehingga cocok digunakan untuk memotong benda yang menempel pada objek. Pada bengkel, gerinda ini biasa dipakai dalam kepentingan modifikasi biasanya untuk memotong chasis.

3. Bench grinder machine/gerinda duduk



Bench grinder merupakan jenis mesin gerinda lainnya, namun yang ini tidak portable alias ditempatkan pada suatu meja.

Jenis gerinda ini memiliki bentuk lebih besar tapi fungsinya biasanya tidak untuk memotong tapi untuk menghaluskan permukaan, pada bengkel biasanya menggunakan alat ini untuk mengamplas kampas rem atau permukaan komponen lainnya.

4. Bor listrik portable

Bor listrik portable merupakan alat untuk yang berfungsi untuk melubangi benda kerja juga bisa digunakan untuk memasang sekrup.

Bor listrik ini juga menggunakan motor listrik sebagai penggeraknya.

Umumnya, yang banyak menggunakan bor listrik adalah para pengrajin logam, adapun pada bengkel biasa digunakan dalam kepentingan modifikasi untuk mengcustom body kendaraan.

5. Air gun



Air gun adalah alat yang berbentuk semprotan namun yang dikeluarkan adalah udara bertekanan. Air gun ini biasa digunakan untuk membersihkan komponen-komponen pada kendaraan seperti mesin atau kaki kaki dari debu atau air.

Air gun menggunakan tekanan angin sama seperti impact wrench, bedanya air gun langsung mengeluarkan udara tersebut saat tuas ditekan.

6. Heat gun



Heat gun atau alat pemanas portable merupakan alat khusus yang digunakan untuk memanaskan permukaan benda. Contohnya untuk memasang kaca film pada kaca mobil, biasanya dibantu dengan heat gun supaya kaca film bisa merekat lebih rapi.

Contoh lainnya adalah pemasangan skotlet atau sticker pada body kendaraan juga menggunakan heat gun sebagai alat bantunya.

Alat ini bekerja dengan memanfaatkan elemen pemanas yang bisa mengubah energi listrik menjadi panas.

7. Obeng pneumatic



Obeng pneumatic adalah versi power tool dari obeng biasa, fungsinya juga sama seperti obeng yakni untuk melepas dan memasang sekrup.

Namun obeng pneumatic ini lebih mudah dan lebih cepat.

Sesuai namanya, obeng pneumatic menggunakan tekanan angin sebagai tenaga penggeraknya. Alat ini sebenarnya jarang dipakai pada bengkel-bengkel namun pada industri manufaktur banyak menggunakan obeng pneumatic karena lebih cepat dan efisien.

8. Air chisel



Air chisel adalah alat pemahat otomatis, fungsinya juga sama seperti pahat pada umumnya namun alat ini biasa digunakan untuk memotong paku keling atau memotong kepala sekrup yang tidak bisa dilepas.

Alat ini bekerja dengan memanfaatkan tekanan angin untuk dirubah menjadi gerakan seperti pahatan.

9. Air chuck



Air chuck banyak kita jumpai pada tukang tambal ban di pinggir jalan, bagi yang tidak tahu air chuck itu nama alat yang digunakan untuk mengisi angin ban.

Alat ini digunakan dengan memasangnya pada niple selang udara. Ujung chisel dimasukan pada niple ban secara otomatis angin masuk untuk mengisi ban. Air chisel merupakan versi power tools dari pompa ban manual.

Mungkin 9 hal diatas yang masuk dalam power tools yang banyak dipakai khususnya dibengkel-bengkel kendaraan. Semoga bisa menambah wawasan kita semua.

5 Advantages of Electronic Ignition System

Electronic ignition system is one type of vehicle ignition system that is widely applied nowdays.

Why the electronic ignition become main option ?

Of course, electronic ignition systems have better performance in overall. It is very necessary in this time where energy-efficient cars are the new choices.

So what are the advantages of an electronic ignition system if it compared to breaker point ignition system?


At least we found 5 advantages of electronic ignition systems compared to conventional ignition systems.

1. Does not overload the engine combustion

The conventional ignition system uses a distributor device to drive the breaker point, and to distribute the secondary coil voltage to each spark plug. This distributor device is connected to the crankshaft engine, so it can be said that conventional ignition systems overload the engine's performance.

While the electronic ignition system does not overload the performance of the engine because it does not use mechanical devices, the electronic ignition system work electrically without power from crankshaft.

Breaker point, has been replaced using a transistor while the distributor is replaced with an ignition coil module. The device does not work mechanically but works electrically so that it does not overload the engine's performance.

This results in higher efficiency.

2. Bigger fire produced by the spark plug

Electronic ignition systems do not use distributors to distribute secondary voltage, but use a single coil where each coil will be connected directly to each spark plug.


It makes the connection shorter and no voltage is wasted as it is on the distributor, so the secondary voltage is used as a whole to ignite the spark plug. That makes the bigger fire on spark plug.

Then what is the effect if the fire on the spark plug is bigger?

Actually, larger fire is also not good for engine performance, but a clearer flame will certainly make combustion easier. In addition, no secondary voltage is wasted so that the input current on the coil can be reduced. So it saves more electricity.

3. No electrical energy is wasted

As I said above, the electronic ignition system is very effective and saves electricity because no voltage is wasted.

Wasted voltage can occur on improper plate connections. just like distributors, if we study about conventional ignition system we know that distributors work by rotating plates that have been exposed to secondary voltage, the plates will stick to each terminal in turn.

Of course there is the potential for wasted voltage if the connection plate with the terminal does not fit.

In addition, at the breaker point there is a spark. Sparks on the breaker point are absorbed by the capacitor, but from the capacitor the electric current that is absorbed is also directly neutralized to the ground so that there is wasted voltage.

By using electronic parts such as transistors, the above mechanism can be replaced with an electronic scheme without any loss-energy.

See also ; 2 Type of Electronic Ignition System and Differences

4. Suitable for high RPM

We know, the higher the engine RPM, the faster the sparking interval. The faster the sparking interval, the faster the induction interval on the coil.

Meanwhile, conventional ignition only has one ignition coil and one breaker point that will work at intervals according to the induction interval on the coil. So, when the RPM is high, the induction of the ignition coil is less than the maximum so that the fire produced is also relatively smaller.

But in electronic ignition, it has at least two ignition coil and has transistor according to the number of spark plugs. So that the induction interval for each ignition coil is not too fast even at high RPMs. it keeps the fire produced stable.

5. Zero maintenance

That means, the electronic ignition system does not require adjusment as in conventional ignition.

We know, conventional ignition systems use breaker points to trigger induction on the coil. In some time, the opening angle of the breaker point will shift because this is one of the moving parts and there is definitely a wear usage. So it needs an adjusment called dwell angle adjusment.

But in electronic ignition, it is not necessary. The reason, there is no moving part in electronic ignition. So it only relies on the quality of electronic component materials.

When one of the electronic components in the ignition is damaged, then repairs will be done. But as long as there is no damage, no treatment is needed.

2 Penyebab Busi Mobil Cepat Rusak + Cara Antisipasinya

Anda pasti setuju kalau busi itu menjadi salah satu komponen mesin yang rewel, artinya kalau sudah rusak biasanya menimbulkan gejala yang menyusahkan bahkan kadang bisa merembet ke komponen lainnya.

Tapi kan ada rekomendasi umur busi, biasanya kalau servis dibengkel kita akan diberi tahu apabila pemakaian busi sudah mendekati masa pakainya pihak bengkel merekomendasikan kita untuk menggantinya.

Itu benar sekali untuk busi yang normal, tapi ada beberapa kondisi yang membuat busi cepat rusak sehingga meski belum mencapai batas sudah ada gejala kerusakan.

Nah diartikel ini saya akan membagikan hal apa saja yang bisa mempengaruhi umur busi.

1. Bahan bakar yang digunakan kurang bagus

Dilansir dari Gridoto.com, Diko Oktaviano selaku Technical Support and Product Specialist NGK Busi Indonesia membenarkan hal tersebut.

Menurutnya, Kualitas bahan bakar yang kurang bagus akan membuat jelaga atau kerak karbon di ruang bakar, menempel dipermukaan piston dan lama kelamaan akan menempel di busi.


Jelaga atau kerak karbon ini merupakan isolator atau bahan yang tidak dapat menghantarkan arus listirk, sementara busi kita tahu sendiri bisa hidup karena listrik.

Itu artinya, kerak karbon ini bisa menghambat proses pemercikan api pada busi sehingga api busi menjadi lebih kecil.

Api busi yang kecil akan menyebabkan misfire, sehingga gejala lainnya mesin akan brebet.

Sebenarnya, apabila busi langsung dibersihkan busi masih bisa selamat. Yang jadi masalah, hal itu dibiarkan sehingga kerak tersebut benar-benar melekat dan terus menumpuk.

Kalau kerak sudah menumpuk, dibersihkan pakai apapun juga akan sangat susah sehingga busi harus diganti.

2. Air Fuel Ratio yang tidak pas

Air fuel ratio itu kadar bensin yang masuk ke ruang bakar, kadar bensin ini tidak asal disemprotkan lewat injektor tapi ada perhitungannya. Idealnya, perbandingan antara bensin dan udara adalah 1 : 14 artinya 1 molekul bensin demgan 14 molekul udara.

Kalau kurang atau lebih, itu akan berdampak pada performa mesin juga berdampak pada komponen yang ada didalam ruang bakar salah satunya bensin.

Kadar bensin yang terlalu banyak akan menyebabkan asap hitam, mungkin anda pernah lihat kebakaran pada SPBU, itu mengeluarkan asap hitam karena ada banyak sekali bahan bakar yang terbakar.

kebakaran SPBU, bogor.tribunnews.com

Begitu pula didalam mesin, kalau kadar bensin terlalu banyak maka akan menghasilkan asap hitam. Kalau asap hitam itu melekat pada busi, maka kejadiannya sama persis dengan yang pertama, busi terselimuti kerak dan susah untuk dibersihkan sehingga perlu diganti.

Lalu apa solusinya ?

Yang pertama, gunakan bensin dengan oktane tinggi apalagi kalau mobil anda sudah injeksi. Yang kedua bersihkan filter udara dan filter bahan bakar secara rutin (bisa dengan servis rutin ke bengkel) maka busi mobil anda bisa lebih awet.

Two Types Of Electronic Ignition Systems and Differents

Electronic ignition system is an ignition system that does not use a braker point (breakerless ignition).

Instead, there are electronic devices consisting of transistors and resistors. From there the name of the electronic ignition system was taken.

But, the electronic ignition system has some type.

Today we will discuss two types of electronic ignition systems that are widely diplomatic in vehicles.

1. Transistor ignition system

As the name implies, transistorized ignition system is an ignition system that uses transistors to change the breaker point.

We will repeat a little about the breaker point, the breaker point is the mechanism for disconnecting the primary circuit of the ignition coil. Termination of the primary circuit is intended to trigger the induction of the ignition coil.

The breaker point works like a normal switch which if the plate is stretched the primary circuit will be broken and when the plate is tight the primary circuit is re-connected.

The weakness of the breaker point is the wear on the plate. This is because the plate will always be rubbing against the cam. So that in a certain time it will change the angle and reduce the ignition system performance.

Then what about the transistor?

Transistors are electronic components that has a function like electronic switches.

We know that transistors have three legs, a collector, an emitter and a base. The collector is the input of the primary circuit, the emitter is the output of the transistor going to ground while the base is the transistor controller.

The transistor is working if there is current at the base, it will connect the collector and emitter so in this point, the primary voltage will be continue to the ground. While if the current at the base is stopped, then the emitter and the collector will be disconected.

You can see the transistorized ignition system diagram below


Additional components of the transistorized ignition system;

Pick up coil, this component serves to detect ignition timming. It works by flowing an electric wave where in that wave there is a voltage drop, the voltage drop indicates ignition timming.

The advantages of a transistorized system

  • Do not use breaker points so there is no need to adjust the breaker points.
  • Ignition timing is more accurate
  • Have a simpler scheme

However, transistorized ignition systems still use distributors to distribute high-voltage electricity from the secondary ignition coil to each spark plugs. So it still has mechanical components, therefore it is also called the semi electronic ignition system.

2. Distributorless ignition system

Distributorless ignition system is an ignition system that does not use a distributor. Distributors are required to distribute the high voltage from the secondary output ignition coil circuit.

This component works mechanically, so there is a usage limit where when the limit is reached then the connection to the distributor will weaken so that the spark plug fire weakens.

But on the DLI system, we did not find a distributor. That's because the DLI system already has a full electronic computerized ignition system.

That means, in addition to being full electronic the DLI system has also implemented computer-based calculations as a controller.

In a simple DLI system scheme you can see in the diagram below;

You can see for yourself there are many circuits on the DLI system. It has three main parts, they are ECU, Ignition coil module, and ignition coil pack

ECU is a microcontroller device that functions to regulate the performance of the ignition coil, especially when the ignition coil is active. In doing its job, the ECU is assisted by many sensors such as the crankshaft position sensor to detect ignition timing and camshaft position sensors to detect ignition timming on cylinder 1.

The sensor will send data to the ECU, then the ECU processes the data and the results are sent to the output device, the Ignition coil module.

Ignition coil module actually consists of several transistors, the function is the same as a transistor ignition system that is as an electronic switch. However, this has more numbers. The number of transistors in the ignition coil module matches the number of coil.

Ignition coil pack, is a feature of the DLI system. Coil pack consists of several mini coil. Generally there are two coil (dual coil pack) and four coil (single coil pack).

For dual coil packs, a coil is used for two spark plugs. This causes two spark plugs ignite at the same time, while in a single coil pack one coil is used for one spark plug so that all spark plugs will ignite alternately.

Advantages of DLI systems

  • No maintenance at all because it is full electronic
  • Transfer voltage from the coil is more effective
  • Ignition timing is more accurate


While the disadvantages, DLI systems have quite complicated circuits. For the technicians who hasn't the knowledge will difficult to solve the problem on DLI system. Usually, the error can be detected using a a scanner so that it is more inconvenient and expensive when damage occurs.

18 Macam Hand Tools Yang Banyak Digunakan + Fungsinya

Bicara soal perkakas, ternyata banyak jenisnya. Ada hand tools, ada power tools dan ada SST (special service tools).

Apa itu hand tools ?

Sesuai namanya, hand (tangan) tools (perkakas) adalah alat atau perkakas yang penggunaannya mengandalkan tenaga tangan manusia.

Jadi bisa dikatakan, hand tools itu sebuah alat bantu dalam melakukan service, pembongkaran, atau pemasangan sebuah engine atau mekanisme lainnya.

Ada banyak perkakas yang masuk dalam kategori hand tools, beberapa contoh hand tools yang paling umum dan banyak digunakan pada ranah otomotif akan kita bahas dibawah.

Macam Macam Hand Tools Beserta Fungsinya

Macam macam perkakas tangan dibawah kami kelompokan berdasarkan jenis alatnya, ada 5 kategori pada hand tools yakni ;

A. Kunci/Wrench

Apabila anda akan mengganti oli sepeda motor, satu alat yang dibutuhkan adalah kunci untuk melepas baut olinya. Kunci atau dalam bahasa Inggris disebut wrench berfungsi sebagai alat bantu untuk memudahkan kita dalam melepas baut atau mur.

Kunci ini memiliki banyak jenis antara lain ;

1. Kunci pas


Kunci pas adalah sebuah kunci dengan bentuk segienam (tidak penuh) yang pas atau sesuai dengan ukuran kepala baut. Kunci ini banyak digunakan untuk melepas baut atau mur yang memiliki sela yang cukup sempit.

Namun karena bentuknya tidak melingkari baut secara keseluruhan, kunci ini kurang cocok saat dipakai untuk melepas baut yang sangat keras.

2. Kunci ring


Kunci ring adalah sebuah kunci yang memiliki bentuk segi 12 yang melingkari kepala baut. Kunci ini memiliki bentuk segi yang lebih banyak sehingga bisa digunakan pada sudut yang lebih leluasa.

Berbeda dengan kunci pas, kunci ring sangat baik saat digunakan untuk melepas baut yang keras karena bentuknya yang melingkari baut tentu bisa lebih aman.

3. Kunci kombinasi (pas ring)


Merupakan kunci yang memiliki dua bentuk yang berbeda pada kedua ujungnya, yakni ujung kunci pas dan kunci ring. Kunci ini dibuat untuk memudahkan mekanik dalam melepas/memasang baut yang kadang selanya menyulitkan.

4. Kunci T


Kunci T adalah sebuah kunci berbentuk T dengan ujung bawah berupa shock atau tabung yang masuk kedalam kepala baut.

Kunci ini biasa digunakan untuk melepas baut yang posisinya didalam lubang, dimana tidak memungkinkan kita melepasnya menggunakan kunci ring atau pas.

5. Kunci shock


Kunci shock adalah kunci berbentuk tabung yang masuk kedalam kepala baut seperti kunci T pada umumnya, namun kunci shcok ini bisa dilepas antara shocknya dengan handlenya jadi kita bisa menukan shock dengan ukuran sesuai ukuran baut.

6. Hexagonal L key


Hex key adalah kunci yang berbentuk segi enam kebalikan dari baut biasa, jadi kalau baut biasa itu berbentuk segi enam yang menonjol sementara baut ini memiliki bentuk cekungan segi enam sehingga butuh kunci segi enam yang bisa masuk kedalam cekungan tersebut.

Kunci ini biasanya dibuat dengan bentuk L sehingga sering disebut juga kunci L, tapi selain berbentuk L kunci hexagonal ini juga dibuat dalam bentuk shock yang dapat dipasang pada gagang shock biasa.

7. Torx L key


Kunci ini mirip dengan kunci Hexagonal, tapi bentuknya bukan segi enam melainkan bintang. Mobil-mobil Eropa dan Amerika banyak menggunakan baut bintang sehingga kunci ini juga sering digunakan untuk menservice mobil-mobil tersebut.

Sama seperti hexagonal key, kunci torx ini juga biasa dibuat dalam bentuk L dan ada pula yang dibuat dalam bentuk shock.

8. Adjustable wrench (kunci inggris)


Mungkin tidak perlu dijelaskan lagi, kunci ini bisa digunakan pada hampir semua jenis baut/mur segi enam karena memang kunci ini bisa diset sesuai ukuran baut/mur.

B. Tang

Kategori kedua adalah tang, tang merupakan alat khusus yang memiliki banyak sekali kegunaan. Bisa untuk menjepit, memotong, ataupun mencengkram.

Beberapa jenis tang yang banyak digunakan antara lain ;

1. Tang potong

Merupakan tang untuk memotong kabel, kawat atau logam tipis. Bentuk tang ini mirip seperti gunting dengan ujung pendek namun lebih kokoh.

2. Tang lancip


Tang ini memiliki ujung lancip seperti gunting, fungsi utamanya adalah sebagai penjepit terutama untuk komponen yang memiliki pegangan kecil. Dengan ujung lancip, tang ini mampu masuk ke sela sempit.

3. Tang kombinasi


Merupakan tang multifungsi yang bisa digunakan untuk memotong, ataupun menjepit. Jenis tang ini banyak sekali anda temukan karena yang paling umum digunakan pada perkakas rumah atau bengkel.

C. Obeng


Obeng adalah hand tools yang digunakan untuk melepas atau memasang sekrup. Meski demikian, bentuk obeng yang seperti tuas juga dimanfaatkan untuk hal lainnya seperti untuk mencongkel contohnya saat menyetel rem tromol.

Obeng secara umum hanya ada dua jenis yakni obeng + dan obeng -, keduanya dibedakan dari ujung obengnya.

Selain berbentuk + dan -, obeng sekarang juga bisa kita temukan dalam bentuk Torx (kunci bintang) dan hexagonal.

D. Handle shock

Merupakan alat bantu untuk mengaplikasikan kunci shock, alasan kita memisahkan ini dari kategori lain itu karena handle shock ini juga punya banyak jenis. Dan ini bersifat bongkar pasang, jadi bisa dirangkai dengan kunci shock apapun.

1. Ratchet handle


Merupakan handle shock yang dapat mengencangkan atau mengendorkan baut dengan mudah. Dengan ratchet ini, kita tidak perlu melepas kunci shock dari baut saat sedang mengendorkan/mengencangkan cukup bolak balikan handlenya.

2. T handle


Bentuknya seperti T yang dapat digeser, sehingga selain berfungsi sebagai T handle juga bisa difungsikan sebagai gagang shock yang lebih panjang.

3. Offset handle


Ini adalah handle shock yang panjang, biasanya digunakan untuk melepas baut besar dengan momen baut yang besar pula seperti mur roda dan baut-baut blok mesin.

4. Extension

Extension atau pemanjang adalah gagang shock yang berfungsi sebagai pemanjang sehingga kita bisa melepas baut/mur yang posisinya ada didalam dengan gagang shock masih diluar.

5. Adaptor


Merupakan sambungan khusus untuk menyambungkan kunci shock kecil dengan handle yanh lebih besar ataupun sebaliknya.

E. Palu

Palu atau hammer mungkin tidak perlu dijelaskan lagi anda pasti sudah tahu, standar pada bengkel biasanya memiliki dua jenis palu yakni palu besi (ball peen hammer) dan palu karet. Khusus Palu karet biasanya digunakan untuk melepas komponen yang mudah retak atau penyok.

Transistorized Ignition System Working and Diagram

Transistorized ignition system is an ignition scheme that reduces the use of mechanical devices, the purpose of transistorized ignition system is to improve the efficiency of the ignition system performance by replacing moving parts such as breaker points.

The main principle of transistorized ignition systems is to use transistors as electronic switches instead of breaker points.

For those of you who already know about vehicle ignition systems, you should know the breaker point or platinum.

Breaker point is a device used to break the primary coil current in the ignition coil so that electromagnetic induction can occur. This breaker point works mechanically by utilizing a cam that can stretch the breaker point gap.

However, the use of breaker points is considered to be less effective, it is because the rubbing components will erode so that it can affect the overall ignition system performance. In addition, when the breaker point is stretched, frequent sparking occurs at the breaker point so that the induction power of the ignition coil is reduced.

That's why there is breaker point gap adjustment.

By utilizing transistors the two things above can be overcome. So we don't need to set the gap.

Why are transistors used instead of breaker points?

As we said at the beginning, the transistor has a function as an electronic switch. There are three legs on the transistor namely base, collector, and emitter.

Collector is input, while emitter is output. The base as a controller, if there is an electric current (low voltage) flows at the base then the current at the input (collector) will flow to the output (emitter).

However, when the electric current at the base stops, the collector is cut off again with an emitter.

So in conclusion, the transistor can be used in the ignition system because of its characteristics that can disconnect and connect lines quickly.

To control the performance of the transistor, we need one additional sensor, the pick up coil. This sensor will send a low-voltage current with pauses according to the ignition timming at the base foot. So that the transistor performance will be matched with the engine RPM.

How does the coil pick up work?

Pick up coil consists of three parts, namely rotor with cam, permanent magnet and coil.


The three components are placed as shown, it is confirmed that the permanent magnet emits a magnetic field that hits the rotor. While the rotor is made of metal which is able to be attracted by magnets.

Cam on the rotor serves to shorten the gap between the rotor with a permanent magnet.

This changing gap causes the current in the pickup coil to be zig-zag. When the cam is parallel to the permanent magnet there is an electric current, but when the cam shifts the current disappears. This drop voltage is used as timming to break the primary current in the ignition coil.

Transistorized Ignition System diagram



  • Battery
  • Ignition switch
  • Ignition coil input
  • Primary coil output
  • Secondary coil output
  • Transistor
  • Pick up coil
  • distributor
  • Spark plug


Transisorized ignition system working procedure

When the engine is started, the crankshaft will rotate the pick up coil so that the pick up coil generates a low voltage current. This will cause the transistor base to be active so that the collector is connected to the emitter.

In the ignition coil, the current from the battery will flow in both coil in the ignition coil.

As explained above, the pickup coil will generate zig-zag electric current. Current from the pick up coil is then transmitted to the base leg of the transistor.

Induction in the ignition coil occurs when the base foot does not get an electric current, but it lasts for an instant, therefore in one cycle of the 4 cylinder engine can occur four times the induction process.

The induction produces high voltage which is distributed to the distributor to be distributed to each spark plug according to the firing order.