-->
Cara Kerja Transmisi Otomatis Motor Matic

Cara Kerja Transmisi Otomatis Motor Matic

Kita tahu bahwa tugas transmisi adalah mengubah rasio kecepatan antara mesin dan roda kendaraan. Transmisi menggunakan dua roda gigi dengan diameter yang berbeda. Sehingga putaran dari poros engkol, dapat diubah agar memiliki torsi yang lebih besar dengan kecepatan yang lebih rendah.

Tapi bagaimana dengan transmisi otomatis? apakah komponen ini menggunakan tautan roda gigi atau tidak ?

Pada artikel ini, kita akan belajar tentang transmisi CVT. Yang mana transmisi ini, banyak digunakan pada sepeda motor matic.

Tidak seperti transmisi manual, continuous variable transmission (CVT) tidak memiliki kotak roda gigi dengan jumlah roda gigi tertentu, yang berarti mereka tidak memiliki roda bergigi yang saling berhubungan. Jenis CVT yang paling umum digunakan pada motor matic adalah tipe variable pulley yang memiliki rasio gigi tidak terbatas.

Untuk mengubah rasio kecepatan, CVT menggunakan variable diameter pulley. pulley ini memiliki kemampuan untuk mengubah diameter, sesuai dengan putaran mesin.

Untuk lebih mudahnya, saya akan menjelaskannya tiap bagian secara detail.

Anda bisa lihat, komponen ini disebut drive pulley. Sedangkan yang satu lagi, dinamakan driven pulley. Drive pulley dipasang pada bagian poros engkol. Sehingga pulley ini akan berputar pada saat mesin hidup, dan kecepatannya dipengaruhi oleh kecepatan putar poros engkol.

Sedangkan driven pulley, terletak di bagian belakang. Terhubung dengan roda, dan kecepatannya sama dengan putaran roda.

Kedua pulley, dihubungkan oleh sabuk V.

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, bahwa transmisi ini menggunakan variable diameter pulley. Ini mengacu pada puli penggerak, dan puli yang digerakkan. Keduanya memiliki kemampuan untuk mengubah diameternya, tetapi dengan cara yang berlawanan.

Artinya, ketika drive pulley memperbesar diameter, diameter driven pulley akan menyusut.

Dan itu juga berlaku sebaliknya.

Dasar dari CVT untuk mengubah rasio kecepatan

Dasarnya sangat sederhana. Pada RPM rendah, puli penggerak selalu berada pada diameter terkecil. Sedangkan puli yang digerakkan, ada pada diameter maksimum. Pada posisi ini, puli penggerak memiliki diameter yang lebih kecil dari puli yang digerakkan.

Jadi, itu akan mengurangi kecepatan output. Dan torsi, meningkat.

Saat motor kita gas, RPM mesin naik. Semakin cepat RPM mesin, semakin besar diameter drive pulley. Jadi, kenaikan RPM ini akan menaikkan diameter drive pulley. Ketika diameter drive pulley meningkat, maka secara otomatis pulley yang digerakkan akan mengecilkan diameternya.

Itu membuat, kedua puli memiliki diameter yang sama. Jadi putaran mesin diteruskan ke roda dengan kecepatan yang sama.

Pada RPM tinggi, diameter drive pulley terus bertambah. Hal ini membuat puli penggerak memiliki diameter yang lebih besar dari puli yang digerakkan. Jadi putaran roda, akan lebih cepat dari RPM mesin.

Tapi bagaimana cara drive pulley mengubah diameter?

Drive pulley, menggunakan gaya sentrifugal untuk mengubah diameter. Untuk lebih detail, mari kita bahas kedalamnya.

Drive pulleyy terdiri dari tiga bagian utama. Frame. Ini adalah komponen statis, yang terhubung langsung ke poros engkol mesin. Pelat geser. Merupakan komponen yang bergerak, yang berfungsi untuk memperbesar atau memperkecil diameter.

Sedangkan komponen silinder ini disebut roller. Ini seperti pemberat untuk mengontrol pergerakan bagian slider. Roler dipasang di sekitar poros. Ketika itu berputar, gaya sentrifugal akan muncul. Gaya sentrifugal adalah gaya dengan arah keluar dari poros rotasi.

Secara sederhana, gaya sentrifugal akan membuat roller menjauh dari sumbu. Namun, karena roller memiliki jalur yang bengkok, gerakan roller akan mendorong pelat slider.

Setiap pelat terbuat dari dua kerucut 20 derajat yang saling berhadapan. Sebuah v belt dikalungkan diantara dua komponen kerucut tersebut. Ketika roller dekat dengan poros (low RPM),posisi slider ada pada posisi terjauh. Dan ini membuat posisi Vbelt ada pada posisi diameter terkecil.

Semakin jauh posisi roller dengan poros, maka posisi slider akan semakin dekat. Dan ini membuat posisi diameter V belt semakin membesar.

Untuk menjaga agar sabuk tetap kencang, puli belakang akan menyesuaikan diameter puli depan. pulley ini, memiliki pegas yang selalu mendorong pelat dalam posisi dekat.

Komponen utama lainnya pada transmisi otomatis adalah kopling sentrifugal.

Kopling ini akan membuat roda tetap diam, saat mesin berjalan pada RPM idle. Kopling ini terletak di driven pulley, pada sumbu roda.

Ini menggunakan serangkaian komponen seperti sepatu rem. Sepatu ini, terhubung ke katrol yang digerakkan. Pada RPM idle, kita bisa melihat celah antara sepatu dan tromol di mana tromol terhubung ke roda. Tetapi jika kecepatan meningkat, sepatu akan bergerak keluar. Ini akan menghilangkan celah, sehingga roda akan berputar sesuai dengan kecepatan putaran pulley.

Continuous Variable Transmission (CVT) Working Principle

Continuous Variable Transmission (CVT) Working Principle

 We already know that the job of the transmission is to change the speed ratio between the engine and the wheels of an automobile. The transmission use two gears with different diameters. So that the rotation from the crankshaft, can be change to make it has more torque with lower speed.

But how about automatic transmission ? did this thing using several gears or not ?

In this article, we will learn about CVT transmission. Which is this transmission, widely use in automatic motorcycles.

Basic of Automatic Transmission

Unlike traditional automatic transmissions, continuously variable transmissions don't have a gearbox with a set number of gears, which means they don't have interlocking toothed wheels. The most common type of CVT operates on an ingenious pulley system that allows an infinite variability between highest and lowest gears with no discrete steps or shifts.

To change the speed ratio, CVT use variable diameter pulley. This pulley has ability to change the diameter, according to the engine speed.

To make it easier, I will dissemble every part of continuous variable transmission on motorcycles.

You can see, this component called drive pulley. While the other one, is driven pulley. Drive pulley is installed on the crankshaft section. So that, this pulley will rotate when the engine run, and the speed is influenced by crankshaft rotational speed.

While the driven pulley, located In the back. Attached with the wheel, and the speed is same as wheel rotation.

Both of the pulley, connected by a V belt.

As I tell before, that this transmission using variable diameter pulley. It refer to drive pulley, and driven pulley. Both of them has ability to change their diameter, but in opposite way.

It mean, when drive pulley increase the diameter, the diameter of driven pulley will shrink.

The basic of CVT to change the speed ratio

The basic is very simple. In low RPM, the drive pulley always on the smallest diameter. While the driven pulley, in maximum diameter. In this position, the drive pulley has smaller diameter than the driven pulley.

So, it will decrease the output speed. And the torque, is increase.

When we pull the throttle, engine RPM raise. The faster the engine RPM, the bigger the drive pulley’s diameter. So, this RPM increase will rise the diameter of drive pulley. When the drive pulley’s diameter is raising, the driven pulley will decrease it’s diameter automatically.

It make, both of the pulley have same diameter. So the engine speed is continued to the wheel in same speed.

In high RPM, the drive pulley’s diameter keep increase. It make the drive pulley has bigger diameter than the driven pulley. So the wheel rotation, will be faster than the engine RPM.

But how the drive pulley change the diameter ?

The drive pulley, use centrifugal force to change the diameter. To be more understand, let’s dissemble the drive pulley.

The drive pulley consist of three main part. The frame. This is a static component, that directly connected to the engine crankshaft. The slide plate. This is a moving component, that has function to make the diameter bigger, or shrink.

While this cylinder components, called roller. It’s like a ballast to control the movement of slider part. The roller are installed around the shaft. When it rotate, the centrifugal force will rise. Centrifugal force is an outflow force from the rotational movement.

In simple way, the centrifugal force will make the roller stay away from the axis. But, due to roller have crooked path, the roller movement will push the slider plate.

Each plate is made of two 20 degree cones facing each other. A belt rides in the groove between the two cones. When the two cones of the plate are far apart, the belt rides lower in the groove. and the radius of the belt loop going around the pulley, gets smaller. When the cones are close together, the belt rides higher in the groove. and the radius of the belt loop going around the pulley gets larger.

To keep the belt tight, the rear pulley will adapt the front pulley diameter. This pulley, has a spring that always push the plate in close position.

Another main component on automatic transmission, is centrifugal clutch.

This clutch will make the wheel stay quite, while the engine run on idle RPM. This clutch located in the driven pulley, at the wheel axis.

It use a series of component like a brake shoe. This shoe, connected to the driven pulley. In idle RPM, we can see the gap between the shoe and the drum where the drum connected to the wheel. But if the speed increase, the shoes will move outway. It will lose the gap, so the wheel will rotate according to the pulley rotational speed.

That’s how CVT works. It is very simple right ? what do you think ? type in comment below.

10 Ciri-Ciri Penelitian Kualitatif Menurut Para Ahli

10 Ciri-Ciri Penelitian Kualitatif Menurut Para Ahli

Kalau kita cari definisi penelitian kualitatif, itu adalah sebuah metode penelitian yang mengedepankan kualitas atau kedalaman data-data yang sedang diteliti.

Tapi kalau kita merujuk pada definisi saja, kadang kita susah untuk mengidentifikasi apakah sebuah penelitian masuk dalam metode kualitatif atau bukan.

Nah, di artikel ini autoexpose akan membagikan ciri-ciri atau karakteristik penelitian kualitatif. Tentu ini bukan pendapat saya pribadi, melainkan ini menurut para ahli.

Karakteristik Penelitian Kualitatif

Secara umum ada 10 karakteristik penelitian kualitatif, yaitu.

  1. Naturalistic inquiry yaitu mempelajari situasi dunia nyata secara alamiah, tidak melakukan manipulasi, transparan pada apapun hasil yang diamati.
  2. Inductive analysis yaitu mendalami rincian dan kekhasan data guna menemukan kategori, dimensi, dan keterhubungan tiap data.
  3. Holistic perspective yaitu seluruh gejala yang dipelajari dipahami sebagai sistem yang kompleks lebih dari sekedar penjumlahan bagian-bagiannya.
  4. Qualitative data yaitu deskripsi terinci, atau kajian dilakukan sangat mendalam
  5. Personal insight yaitu peneliti punya hubungan langsung dan bergaul erat dengan orang-orang, situasi dan gejala yang sedang dipelajari.
  6. Dynamic systems yaitu memperhatikan proses, menganggap perubahan bersifat konstan dan terus berlangsung baik secara individu maupun budaya secara keseluruhan.
  7. Unique case orientation yaitu menganggap setiap kasus bersifat khusus dan khas.
  8. Context Sensitivity yaitu menempatkan temuan dalam konteks sosial, historis dan waktu.
  9. Emphatic Netrality yaitu penelitian dilakukan secara netral agar obyektif tapi bersifat empati.
  10. Design flexibility yaitu desain penelitiannya bersifat fleksibel, terbuka beradaptasi sesuai perubahan yang terjadi (tidak bersifat kaku).

Selain itu, ada juga ciri penelitian kualitatif menurut pendapat bodgan dan biklen yang sudah disintesiskan dengan pendapat lincoln, guba dan moleong (Suharsaputra 2012:186).

Ada 11 ciri penelitian kualitatif

  1. Latar alamiah, yaitu penelitian dilakukan pada situasi alamiah dalam suatu keutuhan.
  2. Manusia sebagai alat, artinya manusia/peneliti merupakan alat pengumpulan data yang utama.
  3. Metode kualitatif (metode yang digunakan adalah metode kualitatif).
  4. Analisis data secara induktif yang mengacu pada temuan di lapangan.
  5. Teori dari dasar/grounded theory (menuju pada arah penyusunan teori berdasarkan data).
  6. Deskriptif, atau data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka.
  7. Lebih mementingkan proses daripada hasil.
  8. Ada batas yang ditentukan oleh fokus, atau perlu batas penelitian atas dasar focus yang timbul sebagai masalah dalam penelitian.
  9. Adanya kriteria khusus untuk keabsahan data (punya versi lain tentang validitas, reliabilitas dan objektivitas).
  10. Desain bersifat sementara (desain penelitian terus berkembang sesuai dengan kenyataan lapangan).
  11. Hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama (antarpeneliti dengan sumber data)

Jadi kalau disimpulkan, penelitian kualitatif itu punya ciri utama pada hasil penelitian yang umumnya berbentuk narasi. Penelitian kualitatif biasanya dilakukan untuk meneliti kualitas hubungan antar orang, hal-hal yang bersifat sosial budaya dan hal lain yang tidak berhubungan dengan data-data Yang tidak dapat diukur oleh angka yang pasti.

Oleh sebab itu, metode penelitian ini juga dipengaruhi oleh bagaimana peneliti menginterprestasikan data.

Ciri lain yang khas dari penelitian kualitatif, adalah tujuan penelitian. Penelitian kualitatif biasanya tidak dilakukan untuk menemukan solusi dari permasalahan yang spesifik, penelitian ini lebih banyak bertujuan untuk menggambarkan, atau menjelaskan sebuah fenomena sosial yang terjadi di lingkungan sosial.

Lalu bagaimana dengan ciri-ciri penelitian kuantitatif ?

Penelitian ini punya tujuan untuk menemukan solusi dari permasalahan spesifik, biasanya penelitian ini memiliki teori dasar yang berasal dari penelitian yang dilakukan sebelumnya. Peneliti akan mengumpulkan data-data yang dapat diukur, jadi data yang diperoleh biasanya berbentuk angka.

Hasil penelitian, biasanya berbentuk konfirmasi. Karena peneliti sebenarnya sudah menduga solusi atas permasalahan yang sedang teliti yang berasal dari penelitian yang sudah ada. Penelitian ini dilakukan untuk menguji apakah solusi tersebut memiliki pengaruh nyata untuk mengatasi masalah atau tidak.

Ada 14 ciri penelitian kuantitatif

  1. Metode penelitian kuantitatif dilakukan untuk mengukur satu atau lebih variable penelitian. Lebih dari itu penelitian kuantitatif dilakukan untuk mengukur hubungan atau korelasi atau pengaruh antara dua variabel atau lebih
  2. Pada metode penelitian kuantitatif Permasalahan penelitiannya adalah menanyakan tentang tingkat pengaruh atau keeratan hubungan antara dua variabel atau lebih
  3. Penelitian kuantitatif dilakukan untuk menguji teori yang sudah ada yang dipilih oleh peneliti
  4. Metode penelitian kuantitatif memfungsikan teori sebagai titik tolak menemukan konsep yang terdapat dalam teori tersebut, yang kemudian dijadikan variabel.
  5. Penelitian kuantitatif menggunakan hipotesis sejak awal ketika peneliti telah menetapkan teori yang digunakan.
  6. Penelitian kuantitatif lebih mengutamakan teknik pengumpulan data kuesioner.
  7. Penelitian kuantitatif penyajian datanya berupa tabel distribusi pilihan jawaban para responden yang ditentukan oleh peneliti berupa angka.
  8. Penelitian kuantitatif menggunakan prespektif etik, yaitu data yang dikumpulkan dibatasi atau ditentukan oleh peneliti dalam hal pilihan indikator atau atribut variabel baik jumlah maupun jenisnya.
  9. Metode penelitian kuantitatif menggunakan definisi operasionalisasi kerana hendak mengukur variabel, karena definisi operasional pada dasarna merupakan petunjuk untuk mengukur variabel
  10. Penelitian kuantitatif penentu ukuran jumlah responden atau sampel dengan menggunakan presentase, rumus atau table populasi-sampel, sebagai penerapan prinip keterwakilan.
  11. Peneliti kuantitatif menggunakan alur penarikan kesimpulan berproses secara deduktif, yaitu konsep, variabel ke data.
  12. Metode penelitian kuantitatif instrument penelitiannya berupa kuesioner atau angket, yang juga berfungsi sebagai teknik pengumpulan data
  13. Analisis yang digunakan dalam penelitian kuantitatif dilakukan setelah data terkumpul, dengan menggunakan perhitungan angka-angka atau analisis statistic.
  14. Penelitian kuantitatif kesimpulannya berupa tingkat hubungan antar variabel, sedangkan dalam penelitian kualitatif kesimpulannya berupa temuan konsep yang tersembunyi di balik data rinci berdasarkan interpretasi atau kesepakatan dari para responden atau informan.

Mobil Sekarang Itu Nggak Perlu Dipanaskan, Benarkah Itu ?

Hai gays, balik lagi bareng gua di blog autoexpose.

Manasin mesin, adalah aktfitas rutin yang sering dilakukan pemilik kendaraan. Tapi kalau kita serch di googel, ada artikel yang mengatakan kalau mobil sekarang itu nggak perlu dipanasin.

Dan artikel artikel itu, dibikin oleh media besar. Yang mereka tuh, kalo bikin artikel pasti berdasarkan narasumber yang memang ahli.

Jadi, benarkah mobil sekarang nggak perlu dipanasin ?


Di artikel ini, gua ajak kalian semua belajar sama sama tentang mesin. Jadi perlu nggak perlunya manasin mobil, itu bisa kita temukan jawabannya.

Pertama, gua bakal jelasin tujuan proses pemanasan mesin. Jadi, manasin mesin mobil itu punya tiga tujuan.

1. Manasin Mesin Untuk Mempersempit Celah Antar Komponen Mesin

Pertama, memanaskan mesin akan membuat komponen mesin memuai.

Komponen mesin, terbuat dari logam. Dan logam, punya sifat memuai jika dipanaskan. Pemuaian ini, bisa berakibat buruk terhadap mesin. Contohnya piston dan blok silinder. Kalau kedua komponen ini memuai, maka diameter silinder akan mengecil dan diameter piston akan membesar.

Akibatnya, piston akan terjebak didalam silinder dan nggak bisa gerak.

Untuk mengatasi hal itu, setiap komponen mesin yang berinteraksi, diberi semacam celah sebagai toleransi terhadap pemuaian.

Tapi efeknya, mesin jadi loyo pas masih dingin. Oleh sebab itu, pemanasan mesin dilakukan agar komponen mesin memuai. sehingga celah toleransi bisa lebih rapat.

2. Manasin Mesin Untuk Menyiapkan Pelumasan

Tujuan yang kedua, manasin mesin akan meratakan oli ke semua bagian mesin.

Ketika mesin mati dalam waktu yang lama, maka oli akan turun dan berkumpul didalam carter. Itu membuat komponen yang terletak dibagian atas seperti piston dan mekanisme katup, tidak mendapatkan pelumasan yang cukup.

Apa yang terjadi kalau mobil langsung digeber ?

Komponen mesin pasti akan tergores.

Memanaskan mesin, berarti kita menyalakan mesin dalam posisi idle. Dan itu akan membuat oli bersirkulasi ke semua bagian mesin. Sehingga pas mobil kita gas, komponen mesin sudah mendapatkan pelumasan yang cukup.

 3. Manasin mesin untuk membuat mesin mencapai suhu kerja

Tujuan yang ketiga, sama seperti namanya. Manasin mesin, itu bertujuan untuk menaikan suhu mesin.

Mesin itu dapat bekerja secara efisien kalau mesin berada pada suhu kerja. Ini ada penjelasannya.

Kalau mesin masih dingin, maka bensin yang terbawa oleh aliran udara intake, akan mengembun pada dinding intake manifold. Sehingga, bensin yang masuk ke ruang bakar itu lebih sedikit. Sehingga tenaga yang dihasilkan mesin saat masih dingin itu lebih rendah.

Selain itu, panas hasil pembakaran yang harusnya dikonversi ke energi gerak, akan merambat ke komponen mesin. Sehingga, hasil pembakaran yang dapat dikonversi ke energi gerak, tidak sampai 100 persen.

Inilah yang membuat mesin kurang efisien kalau dipaksa jalan saat masih dingin.

Lalu mengapa mobil mobil sekarang nggak perlu dipanasin ?

Ternyata, perkembangan teknologi pada mesin mobil, mampu mengatasi masalah masalah yang tadi kita bahas.

Celah toleransi antar komponen lebih rapat

Mesin mesin sekarang, itu memiliki celah toleransi yang sangat rapat. Hal itu disebabkan material dasar yang digunakan untuk membuat komponen mesin, dibuat dengan campuran khusus sehingga laju pemuaian bisa dikurangi.

Oli sekarang mampu melekat lebih lama

Lalu untuk masalah pelumasan. Oli yang diproduksi saat ini, sudah dicampur dengan berbagai zat aditif. Sehingga kemampuan oli meningkat. Salah satunya, oli mampu melekat pada komponen mesin dalam waktu yang lama.

Jadi kalau mobil berhenti satu atau dua hari, maka lapisan oli tetap melekat pada komponen mesin.

Sehingga mobil siap jalan meski masih dingin.

 Sistem injeksi elektronik sangat berpengaruh

Teknologi injeksi elektronik juga memberikan dampak yang signifikan. Jadi ketika mesin dinyalakan pas masih dingin, maka injektor akan menyemprotkan lebih banyak bensin. RPM mesin, juga bakal naik secara otomatis kalau masih dingin.

Sehingga loss energi yang dialami mesin pas masih dingin, itu tidak menimbulkan efek terhadap performa mesin.

Video Mobil Tidak Perlu Dipanasin



Tapi menurut gua pribadi, manasin mesin itu tetap perlu gays. Karena mesin bakal lebih efisien, kalo dibuat jalan pas suhunya udah anget.

Selain itu, manasin mesin juga bisa buat ngecek kondisi mesin sebelum dipake jalan. Apalagi mobil injeksi itu, penyakitnya suka muncul tiba tiba. Terutama kipas pendingin. Kalo mesin masih dingin, kipas ini nggak bakal nyala. Jadi kita nggak tau apa kipas itu berfungsi apa nggak.

Salah satu cara buat tau kondisi kipas pendingin, itu dengan menyalakan ase. Pas ase dinyalakan, kipas juga bakal nyala. Kalo kipas nyala, berarti kipas masih berfungsi.

Manasin mesin mobil sekarang, juga nggak usah lama lama gays. Cukup 1 sampai 2 menit sampai mesin anget, itu udah cukup.

Kelamaan manasin mesin, malah bikin boros bensin.

Kalo menurut kalian, manasin mesin masih perlu nggak sih ?

Can a Car Battery Charge Itself ?

Vehicle battery is a component that store electrical energy for the vehicle use. Note that the battery is only a stored component. It mean the battery only use to save the electricity.

So, the battery (in general ) has 12 Volt voltage at full charge.

When we use the battery, there is discharge voltage that makes the battery voltage drop in slowly.

But because the battery has no ability to recharge, it make the battery going to empty if it use for long time.

But, we never change the battery daily right ? it mean the batteries voltage always stable in 12 Volt.

What makes the battery stable even it always use ?


The answer is simple, the vehicle has charging system. The battery has no ability to recharge so that we need another system to recharge the battery.

Battery Function in Vehicle

the main responsibility of a vehicle battery is to provide the starting current needed to start the car, it is also responsible for powering all the other electrical components of the car, such as the headlights and the radio.

But, the battery job only on the beginning.

Once the engine run, we don’t need the battery anymore. Why ? because the charging system will active following the engine. The charging system will provide electricity for vehicle electrical needs and to recharge the battery.

How Charging System Work ?

Charging system use an alternator to change the rotational motion into electrical energy. The alternator connected to engine pulley, so that when engine run the alternator rotor rotate.

The alternator rotation will make the electromagnetic interception that makes the electron movement. It result electricity.

But the electricity provide by alternator sill in Alternate current. While the vehicle and battery need direct current. So that, it is not connected directly to vehicle electrical system.

But there is a diode bridge to change the AC current to DC. After passed the diode bridge, the electricity can be used to power up the vehicle electrical system (head light, horn, radio).

The thing you need to advice that the amount of voltage from charging system is not stable. When the engine run in low RPM, the resulting voltage can be lower than 12 Volt. In this condition, charging system can not use as electricity provider.

It mean battery still need to power vehicle electrical.

But when engine run at high RPM, the charging voltage can be higher than 12 Volt. It is bigger than standar voltage. So that every vehicle has voltage regulator. It use to regulate the amount of voltage to the vehicle electrical system.

So in conclusion, can a car battery charge is self ?

No, the car battery has no ability to recharge. It is only an electrical stored component.

But the vehicle electrical system has charging system. It makes the battery in the car keep stable, so we don’t need to replace it everyday because the battery never in empty voltage.

What is Material Use in Electric Car Batteries ?

What is Material Use in Electric Car Batteries ?

 The battery use in electric vehicle is different from battery use in engine powered vehicle. Electric vehicle totally use electricity as source of energy to drive the electric motor. So, rotation from the motor will rotate the wheel and it move the vehicle.

But what makes it different ? what is the material use to make electric car batteries ?

Electric vehicle use a battery know as li-ion battery. This batteries had been widely use in electronic devices such as gadget, and laptop.

So what is the different between li-ion and lead acid battery on vehicle ?

Lithium, Nickel, and cobalt are the main container of electric vehicle battery.

1. What is Lithium ?

Lithium is a silvery-white alkali metal that is light and malleable. It is the lightest metal available. The Earth's crust has about 20 parts per million of lithium, and the oceans have 0.17 parts per million; the atmosphere has only trace quantities.

With some very basic chemistry, the amount of lithium that a battery must produce can be measured. Lithium, like the other alkali metals, has only one oxidation state and produces only positive-charged ions. [6] This means that regardless of the chemistry of the lithium battery, the basic electrochemical reaction is the same., must be:

Li → Li+ + e-

The reaction in the case of a lithium-ion rechargeable battery goes like this: One lithium atom at the negative electrode divides into a lithium ion and an electron as the battery discharges, and the lithium ion migrates into the battery's internal structure.

As the electron leaves the battery and travels through the circuit to which it is connected, the lithium ion and electron recombine at the positive electrode. During recharging, the same reaction occurs in reverse.

As a result, a lithium battery must contain one mole of lithium to drive one mole of electrons through a circuit. A mole of electrons has a charge of 26.80 ampere-hours (Ah), and a mole of lithium has a charge of 6.941 10-3 lb. [number six] These figures are divided by two., if we calculate that for any lithium battery, the charge capacity per kg of lithium is

3861 A·h/kg (theoretical limit).

2. What is Nickel ?

Nickel is an important component of lithium-ion battery chemistries, which are used to power electric cars, medical equipment, and cordless power tools, as well as to store renewable energy.

Li-ion batteries are made by combining lithium compounds with other materials. Nickel is present in two of the most widely used Li-ion battery chemistries.

NCA (Nickel cobalt aluminium) battery contain 80% of nickel.

NMC (Nickel Manganese Cobalt) battery contain 33% of nickel.

Because of the high demand for battery-powered goods, the lithium ion battery industry will continue to expand. For applications such as electric cars and renewable energy storage, demand for energy-dense nickel-containing batteries will rise. Nickel is currently used in 39% of Li-ion batteries. This is expected to rise to around 58% by 2025.

Nickel in car batteries provides higher energy capacity and storage at a lower cost, allowing cars to travel further distances, which is currently one of the barriers to EV adoption.4

3. Cobalt

The majority of cobalt is extracted as a byproduct of copper and nickel processing. Battery manufacturers are looking for alternatives because of the high cost, but cobalt cannot be completely eliminated. Cobalt was the first commercial Li-ion battery cathode material.

Since the lithium ion has a positive charge when it is removed from the oxide (in the cathode), the cobalt changes its oxidation state, keeping the oxide electrically neutral. To account for the elimination of the lithium ion, a small amount of cobalt changes its electronic character from oxidation state +3 to +4,” said Abraham.

The transition metal portion compensates for the charge when the lithium ion enters or departs in the cathode. Oxides of transition metals such as nickel, cobalt, copper, iron, chromium, zinc, or manganese are widely used as cathodes because they can change valence to preserve neutrality. 

What Type of Battery Is In an Electric Car ?

What Type of Battery Is In an Electric Car ?

Electric vehicle become the new interest for several people. The main reason, electric vehicles do not cause carbon residue.

As the name implies, the electric vehicle uses an electric power source as a substitute for fuel oil. So that in an electric car there is no combustion engine, that is what makes the electric vehicle not cause bad emissions.

just like other electronic equipment, the source of electricity in the electric vehicle is stored in the battery.

Then we have a question, what type of batteries use in electric vehicle ?

It is impossible to use lead acid battery because it has low capacity if it use to drive the car. So what kind of battery ?

Lithium Ion Battery

The lithium-ion battery is the most common type of battery used in electric vehicles. This type of battery is used in most portable devices, including mobile phones and computers, so it may sound familiar.

Lithium-ion batteries have a good high-temperature output, a high power-to-weight ratio, and a high energy efficiency. In practice, this means that the batteries can store a lot of energy for their weight, which is important for electric cars since lighter cars can go further on a single charge.

Lithium-ion batteries also have a low "self-discharge" rate, which means they retain their capacity to carry a full charge longer than other batteries.

Furthermore, most lithium-ion battery parts are recyclable, making these batteries an environmentally friendly choice. This battery is used in both AEVs and PHEVs, but its chemistry differs from that of consumer electronics batteries.

How Lithium-Ion Battery Work ?

One or more power-generating compartments called cells make up a lithium-ion battery. Each cell consists of three parts: a positive electrode (connected to the battery's positive or + terminal), a negative electrode (connected to the battery's negative or - terminal), and an electrolyte in the center.

The positive electrode is usually made of lithium-cobalt oxide (LiCoO2) or, in newer batteries, lithium iron phosphate (LiFePO4) (LiFePO4). The negative electrode is usually made of carbon (graphite), and the electrolyte varies depending on the type of battery—but this isn't critical to understanding how the battery works.

Lithium-ion Battery Discharge and Charge

Lithium ions migrate through the electrolyte from the positive electrode to the negative electrode during charging. Electrons flow from the positive to the negative electrode as well, although they take a longer route around the outer circuit.

At the negative electrode, electrons and ions combine to deposit lithium. The battery is completely charged and ready to use when no more ions circulate.

During discharging, ions flow back from the negative electrode to the positive electrode via the electrolyte. Via the outer circuit, electrons flow from the negative electrode to the positive electrode, charging your laptop. Lithium is deposited at the positive electrode as ions and electrons mix.

When all of the ions have returned to their original positions, the battery is completely discharged and must be recharged.

Lithium-Ion Battery Advantages

In general, lithium ion batteries are more durable than older systems like nickel-cadmium batteries, and they don't suffer from the "memory effect," which causes nicad batteries to become more difficult to charge even if they've been completely discharged first.

  • High energy density paves the way for even greater capacities.
  • When fresh, there is no need to prime it for a long time. All that is needed is a single daily charge.
  • Self-discharge is less than half that of nickel-based batteries, indicating that they have a poor self-discharge.
  • Low Maintenance: There is no need for a periodic discharge, and there is no memory.
  • Specialty cells can provide a large amount of current to applications like power tools.

Lithium-Ion Battery Disadvantages

When considering the disadvantages of lithium-ion batteries, it's important to remember what we're comparing them to. We just need to equate them to gasoline, not other types of batteries, as a power source for automobiles.

  • Despite significant advancements over the years, rechargeable batteries still only hold a fraction of the energy that regular gas does; in more technical terms, they have a much lower energy capacity.
  • To keep voltage and current within safe limits, a security circuit is required.
  • Even if not in service, the battery will age if not stored in a cool position with a 40 percent charge.
  • Transportation constraints - larger-scale shipments can be subject to regulatory oversight. Personal carry-on batteries are exempt from this ban.
  • Manufacturing costs are about 40% higher than nickel-cadmium.
  • Metals and chemicals are constantly evolving, so this technology isn't completely mature.