Cara Kerja Intercooler, Komponen Penambah Tenaga Mesin

Cara Kerja Intercooler, Komponen Penambah Tenaga Mesin

Apakah anda tau kalau tenaga mesin bisa dinaikan tanpa perlu menaikan kapasitas atau cc nya ? ini bisa terjadi karena ternyata yang mempengaruhi tenaga mesin itu bukan cuma kapasitas mesinnya.

salah satu hal yang mempengaruhi performa mesin adalah suhu udara yang masuk kedalam mesin. mungkin anda pernah menyadari ketika sedang berkendara di area pegungungan yang udaranya sejuk, mesin terasa lebih bertenaga dan tarikan lebih enteng jika dibandingkan dengan berkendara di perkotaan yang panas.

ini terjadi karena suhu udara di area pegunungan itu lebih rendah, nah suhu udara yang lebih rendah molekulnya lebih kecil. jadi dalam volume yang sama, masa udaranya bisa lebih banyak apabila suhunya rendah.

inilah yang membuat mesin lebih bertenaga, karena lebih dingin suhunya berarti lebih banyak masanya. dan lebih banyak masanya tentu daya yang dihasilkan oleh pembakaran mesin jadi lebih besar.

disini intercooler berperan. jadi gampangnya, intercooler berfungsi sebagai alat untuk mendinginkan udara yang akan dimasukan kedalam ruang bakar mesin.

namun tidak semua kendaraan dilengkapi komponen intercooler ini. contoh kendaraan yang pakai intercooler, adalah kendaraan bermesin diesel.

mengapa ?

karena mesin-mesin diesel sekarang umumnya sudah pakai turbo, dan dampak penggunaan turbo, udara yang melintasi komponen turbo tersebut jadi naik suhunya. sehingga penggunaan turbo juga harus dilengkapi dengan komponen intercooler. tanpa intercoooler, efek turbo tidak akan terlalu berasa pada kendaraan.

Lalu Bagaimana Cara Kerja Intercooler ?



Intercooler itu bentuknya seperti radiator, dimana disitu terdapat saluran pipih yang dirangkai secara sejajar, dan diantara saluran saluran tersebut terdapat plat plat tipis. pada ujung kedua saluran terdapat inlet tank dan outlet tank.

karena bentuknya sama kaya radiator, cara kerjanya pun sama. tapi disini yang membedakan hanya pada apa yang didinginkan. kalau radiator, itu mendinginkan air, nah intercooler mendinginkan udara.

jadi udara yang dihembuskan dari turbo akan masuk ke inlet tank intercooler. kemudian udara tersebut akan dibagi ke semua selang selang pipih. panas yang teradapat pada udara akan dirambatkan pada selang selang pipih hingga merambat juga ke plat plat disekitar selang pipih tersebut.

disaat yang sama, kipas berputar sehingga udara dari luar yang suhunya lebih rendah berhembus mengenai intercooler. ini membuat panas yang tersebar di permukaan intercooler berpindah ke udara yang dihembuskan kipas.

sehingga suhu udara yang dihembuskan oleh turbo, jadi turun. nah suhu yang lebih rendah ini kemudian dimasukan ke ruang bakar untuk proses pembakaran mesin.

Dengan mekanisme seperti ini, suhu udara yang masuk ke ruang bakar bisa dikondisikan tetap agar tidak terlalu tinggi meskipun udara tersebut melewati turbo yang notabene, turbo itu terhubung ke gas buang yang panas.

Anda bisa menemukan komponen turbo pada mesin diesel turbocharger pada mobil maupun truk. biasanya pada mobil, intercooler dipasang didepan raidator dengan ukuran yang lebih kecil.
6 Kelebihan dan Kekurangan Rem Hidrolik Sepeda Motor

6 Kelebihan dan Kekurangan Rem Hidrolik Sepeda Motor

 sistem rem hidrolik yang dipakai pada sepeda motor dinilai punya efeksititas tingkat tinggi. namun yang namanya sistem apapun, pasti punya kelemahan.

nah di artikel ini kita akan membedah apa saja kelebihan dan kekurangan yang ada pada sistem rem hidrolik sepeda motor.

umumnya, rem hidrolik akan dikawinkan dengan rem cakram sebagai aktuatornya. sekedar pengetahuan, pada sepeda motor ada dua jenis rem. yakni rem cakram yang biasa dipakai pada rem depan, dan semoua motor sekarang baik matic, bebek, atau sport menggunakan sistem hidrolik untuk rem depan ini.

lalu ada rem tromol. rem tromol sering dijumpai pada rem belakang motor matic. rem tromol itu desainnya tertutup, dan biasanya menggunakan kawat atau rem mekanis.

lalu untuk rem hidrolis apa kelebihannya ?

1. Rem lebih pakem

rem hidrolik memiliki kerugian tenaga yang nihil. jadi sistem hidrolik ini fungsinya buat menyalurkan tenaga dari tuas rem menuju aktuator rem. tipikal rem hidrolik ini bisa menyalurkan tanaga tanpa adanya kerugian tenaga, karena pada sistem hidrolik tekanan akan diteruskan ke segala arah dengan besar yang sama.

berbeda dengan rem mekanis, dimana kawat bisa bergesekan dengan kabel yang menyelubunginya. sehingga ada kerugian tenaga.

ini membuat rem hidrolik lebih pakem.

2. Perawatan yang minim

Salah satu perawatan pada rem adalah dengan menyetel jarak tuasnya. terutama pada rem tromol mekanis, kita harus sering menyetel jarak ini karena kawat yang bahannya logam itu bisa memuai. sehingga bisa mempengaruhi kinerja pengereman.

tapi pada rem hidrolik karena menggunakan fluida yang tidak memuai, maka ini lebih free maintenance. dalam artian rem hidrolik tidak perlu perawatan yang sering.

meski demikian, fluida atau minyak rem ini harus diganti dalam interval 2 tahunan untuk menjaga performanya tetap baik.

3. Terlihat lebih sporty

Motor motor dengan segmen sport hampir semuanya menggunakan rem cakram hidrolik pada roda depan dan belakang. selain karena tuntutan daya pengereman yang harus mengimbangi kecepatan motor, alasan estetika juga bisa dijadikan acuan.

karena kalau kita melihat motor-motor yang pakai rem cakram hidrolik ini pasti tampilannya jadi lebih keren.

Lalu apa kekurangannya ?

1. Lebih sering blong

rem blong bisa terjadi pada jenis rem apapun, tapi pada rem hidrolik kadang rem blong ini bisa muncul secara tiba-tiba. rem blong pada sistem hidrolik muncul karena ada udara masuk kedalam selang rem. sifat udara yang dapat dikompresi akan menyerap tekanan minyak rem.

sehingga tidak ada tekanan untuk mengaktifkan rem cakram. ini membuat rem blong meski kita tekan full tuas remnya.

2. Perawatan lebih rumit

kalau menurut saya perawatan rem hidrolik itu lebih rumit, meski rem ini tidak terlalu membutuhkan perawatan. tapi yang namanya sistem, harus ada perawatannya mengingat rem ini cukup krusial fungsinya pada kendaraan.

dikatakan rumit karena kita tidak bisa tangan kosong, alias ada alat untuk melakukan perawatan. contohhnya untuk mengisi minyak rem, kita perlu membuka reservoir yang letaknya didekat tuas rem yang dikunci menggunakan sekrup. dan tak jarang sekrup yang dipakai berjenis sekrup bintang yang jarang.

lalu ketika terjadi masuk angin, kita perlu keahlian khusus buat membuang udara dari dalam selang rem supaya rem tidak blong lagi.

3. Roda gampang kotor

Desain rem cakram hidrolik yang terbuka, membuat serpihan dari kampas rem bisa menempel pada area disekitar rem cakram. sehingga kalau tidak dibersihkan secara rutin, ini akan mengganggu pemandangan.

ini tentu beda dengan rem tromol yang lebih tertutup. desainnya yang tertutup membuat serpihan kampas akan terjaga didalam. sehingga tidak mengotori area luarnya.

itulah enam kelebihan dan kekurangan sistem rem hidrolik pada sepeda motor. semoga menambah wawasan kita semua.

Cara Kerja Rem Hidrolik Pada Sepeda Motor

Cara Kerja Rem Hidrolik Pada Sepeda Motor

Sistem rem menjadi perangkat yang sangat amat penting pada sepeda motor. dengan perangkat rem ini pengendara mampu mengendalikan laju kendaraan terutama ketika sedang menemui hambatan.

namun semakin kesini, kendaraan yang diproduksi punya performa mesin yang semakin tinggi. motor bisaa semakin kencang kecepatannya. oleh sebab itu butuh sistem pengereman yang cukup mumpuni. salah satu sistem rem yang paling sering dipakai adalah rem cakram hidrolik.

lalu bagaimana cara kerja rem hidrolik pada motor ini ? simak selengkapnya dibawah.

Cara Kerja Rem Hidrolik Pada Motor

Rem hidrolik adalah sistem pengereman yang menggunakan fluida sebagai media untuk menyalurkan tenaga input ke outpunya. jadi, untuk mengaktifkan rem itu kan pada dasarnya hanya menggunakan perpindahan energi.

perpindahan energi yang dimaksud adalah perpindahan energi dari tuas rem, menuju ke aktuator remnya yang ada pada roda.

jadi ketika kita tekan tuas rem, energi yang kita kenakan pada tuas rem akan disalurkan ke aktuator rem yang ada pada roda sehingga rem aktif. semakin kuat kita tekan tuasnya, semakin besar juga gaya pengeremannya.

namun pada rem mekanis, terkadang ada kerugian tenaga yang dihasilkan karena gesekan. rem mekanis kan pakai kawat, dan kawat ini selalu bergesekan dengan kabel yang menyelubunginya. sehingga tenaga yang kita kenakan pada tuas rem tidak akan sampai 100% ke aktuator rem.

disinilah rem hidrolik masuk sebagai solusi.

rem hidrolik sesuai namanya menggunakan zat cair atau fluida sebagai media untuk memindahkan energi dari input ke aktuator rem. fluida dipilih sebagai media, karena sifat fluida yang mampu menyesuaikan tempat atau liquid dan volumenya padat. dalam artian ketika diberi tekanan, volume fluida itu tidak mengecil.

hal ini berbeda dengan gas yang volume bisa mengecil ketika diberi tekanan. sehingga gas tidak dapat digunakan untuk sistem hidrolik ini.

Prinsip kerjanya seperti ini,,

Ketika kita tekan tuas rem, tuas rem akan mendorong piston yang ada pada master rem. master rem, adalah komponen yang letaknya pada pangkal tuas rem. disini biasanya ada reservoir tempat minyak rem diisi.

didalam master rem ini, ada piston kecil. ketika piston tertekan oleh tuas rem, itu akan mendorong minyak rem didalamnya. sehingga tekanan minyak rem naik.

minyak rem yang tertekan, akan mendorong segala sisinya. hingga sampai ke aktuator rem, yakni kaliper rem.

didalam kaliper rem ini juga terdapat piston tapi ukurannya lebih besar dari piston yang ada pada master rem. tekanan pada minyak rem akan mendorong piston pada kaliper. sehingga piston bisa menekan kampas rem untuk menjepit piringan rem. dan pengereman pun terjadi.

dengan konsep seperti ini, bukan cuma lebih efisien. tapi gaya yang dihasilkan pada kaliper rem itu bisa lebih besar daripada yang kita kenakan pada tuas rem.

Bagaimana bisa ?

hal itu karena ada perbedaan diameter piston antara piston pada master silinder sebagai input, dan piston pada kaliper sebagai outputnya. dengan input yang lebih kecil, gaya yang diperlukan itu juga cenderung lebih kecil. karena gaya itu dipengaruhi oleh luas penampang. jadi semakin kecil diameternya, maka total gaya yang diperlukan untuk menekan tuas rem juga semakin kecil.

tapi sebagai gantinya, piston kecil ini membuat jarak tempuh piston semakin panjang. jadi meski tuas rem terasa ringan, namun kita butuh menekan tuas rem lebih dalam agar pengereman bisa maksimal.

nah sementara pada piston output, luas penampangnya semakin lebar. sehingga dengan tekanan yang sama yang diberikan pada input, akan dikalikan dengan luas penampangnya. sehingga gaya yang dihasilkan pada piston output itu menjadi lebih besar.

itulah sebabnya sering sekali kejadian motor slip terutama pada roda depannya ketika direm. padahal kita ngeremnya nggak terlalu kencang. karena memang sistem rem hidrolik didesain supaya kita, para pengendara tidak perlu energi besar buat ngerem,

mungkin itu saja artikel tentang cara kerja rem hidrolik pada motor. semoga bisa menambah wawasan kita semua.

3 Komponen Utama Rem Hidrolik Sepeda Motor

3 Komponen Utama Rem Hidrolik Sepeda Motor

Rem hidrolik yang dipakai pada kendaraan bermotor menggunakan sistem fluida, dimana fluida ini memililki kemampuan untuk menyalurkan tenaga tanpa adanya kerugian tenaga.

artinya ketika kita kasih 5 kilogram gaya input maka outputnya juga setara 5 kilogram. oleh sebab itu kendaraan bermotor khususnya sepeda motor, menggunakan rem hidrolik terutama untuk rem depannya.

bagaimana rem hidrolik pada motor ini bekerja, telah kita bahas pada artikel sebelumnya. pada artikel ini kita akan membahas komponen rem hidrolik pada sepeda motor.

4 Komponen Utama Rem Hidrolik

4 komponen tersebut terdiri dari input, selang rem, aktuator, dan minyak rem. mari kita bahas satu persatu.

1. Input

pada rem hidrolik sepeda motor, input ini bukan cuma handle rem. pada ujung handle rem, terdapat komponen lagi yang namanya master rem. jadi tuas rem pada motor, ketika ditekan akan mendorong piston yang ada didalam master rem.

fungsi master rem adalah untuk mengubah gaya mekanis dari tuas rem menjadi tekanan hidrolik.

2. Selang rem

Komponen berikutnya adalah selang rem. Selang yang dipakai pada sistem hidrolik bukanlah selang yang sembarangan. karena selang ini harus lentur tapi juga bisa menahan tekanan.

oleh sebab itu selang rem biasanya terbuat dari bahan khusus agar dua hal tadi bisa kehandle. fungsi selang rem adalah untuk menyalurkan minyak rem dari master rem ke aktuator.

3. Aktuator

Aktuator adalah komponen untuk mengubah tekanan fluida yang ada pada minyak rem untuk diubah menjadi energi mekanis untuk menjepit piringan rem. sehingga rem cakram bisa aktif.

aktuator yang dipakai pada rem hidrolik motor umumnya berjenis rem cakram. komponen untuk menjepit piringan disebut kaliper rem. didalam kaliper juga terdapat piston tapi ukurannya lebih besar. sehingga ketika minyak rem bertekanan masuk ke kaliper, itu akan mendorong piston.

4. Minyak rem

Minyak rem bertindak sebagai fluida yang fungsinya untuk memediasi antara input dan aktuator. jadi seperti namanya, hidrolik itu berhubungan dengan benda cair atau fluida. sehingga sistem hidrolik tidak bisa dilepaskan dari yang namanya fluida.

fluida cair ini dipilih karena karakter zat cair yang mampu menyesuaikan segala tempat dan molekulnya padat. jadi ketika diberi tekanan, volumenya akan tetap. sehingga fluida bisa dipakai untuk menyalurkan tekanan.

berbeda dengan gas, meski sama sama fleksibel atau bisa menyesuaikan segala tempat tapi molekul gas juga lunak. sehingga ketika diberi tekanan volumenya mengecil. ini tentu tidak bisa digunakan untuk menyalurkan tekanan.

itulah 4 komponen utama yang ada pada sistem rem hidrolik sepeda motor, semoga bisa menambah wawasan kita semua.

Sistem Rem Hidrolik Pada Sepeda Motor

Sistem Rem Hidrolik Pada Sepeda Motor

sistem hidrolik pada rem sepeda motor, antara efektifitas dan bahaya yang terlintas.

mungkin ada beberapa dari anda yang pernah mendengar atau bahkan mengalami kondisi rem blong apalagi sedang berada pada jalanan turunan. itu kan sangat berbahaya, karena bisa mengancam nyawa pengendara dan nyawa orang lain.

kebanyakan kasus rem blong ini ternyata dialami pada rem hidrolik. padahal, rem ini dinilai lebih baik daripada rem mekanis. mengapa justru bisa begitu ?

nah di artikel ini kita akan mengulas secara detail sistem rem hidrolik pada sepeda motor, bagaimana cara kerjanya, dan apa kelebihan dan kekurangannya.

Prinsip Kerja Rem Hidrolik

Rem hidrolik dipakai untuk mengatasi kerugian tenaga pada rem mekanis. jadi pada rem mekanis yang pakai kawat, ada kerugian karena kawat itu kan bergesekan dengan selongsongnya. dan gesekan ini memangkas energi pengereman.

dengan kata lain, butuh lebih banyak tenaga untuk mengerem. ditambah ada pemuaian dari kawat yang membuat kadang rem ini perlu distel.

sementara rem hidrolik, itu tidak pakai kawat melainkan pakai fluida atau minyak rem. prinsipnya menggunakan hukum pascal.

jadi gampangnya begini, tekanan yang diberikan pada tuas rem itu akan diteruskan ke kaliper rem dengan besar tekanan yang sama tanpa ada kerugian tenaga. namun, gaya atau tenaga diantara input dan output bisa direkayasa dengan mengubah diameter input dan outputnya.

ketika diameter piston input lebih kecil daripada diameter piston output, maka tenaga yang dihasilkan pada piston output akan lebih besar dari tenaga yang kita berikan pada piston input.

nah mungkin anda belum tahu, kalau piston ini adalah komponen untuk mendorong fluida didalam sistem hidrolik. tuas rem akan terhubung ke piston input sehingga ketika ditekan, itu akan mendorong piston input. dorongan piston input akan menekan fluida sehingga tekanan fluida naik.

fluida bertekanan akan menekan piston output yang ada di kaliper rem. piston output yang tertekan akan terdorong keluar sehingga menekan kampas rem.

nah jadi dengan rekayasa diameter piston input dan output yang berbeda, tenaga yang diperlukan untuk menekan tuas rem lebih kecil namun energi pengeremannya tetap besar.

itulah mengapa rem hidrolik itu lebih pakem. itulah salah satu kelebihan yang paling dominan pada rem hidrolis. cukup tekan tuas rem sedikit saja, rem sudah pakem.

Tapi apa kekurangannya ?

Rawan masuk angin

jadi fluida yang dipakai pada sistem rem hidrolik itu sifatnya padat. artinya ketika ditekan volumenya tetap. ketika sistem hidrolik ini kemasukan udara, udara itukan sifatnya bisa dikompresi. artinya ketika ditekan, tekanannya naik tapi volumenya semakin kecil. nah itu akan menghilangkan daya pengereman.

jadi apakah bisa sistem hidrolik ini kemasukan udara ?

tentu bisa. ketika kita tidak mengecek reservoir minyak rem yang ada didekat tuas rem depan, bisa saja minyak rem disitu sedikit. ketika motor berada pada jalan miring (turunan atau tanjakan), posisi inlet ke saluran hidrolik bisa terekspos udara sehingga udara bisa masuk.

ini  akan menimbulkan rem tiba-tiba ngempos atau blong ketika direm tanpa melambatkan kendaraan.

Terpengaruh suhu

Ketika kita berada pada turunan, dan terus mengaktifkan rem maka rem lebih cepat panas. panas yang merambat sampai ke minyak rem bisa mempengaruhi struktur dari minyak rem itu sendiri, sehingga rem bisa kehilangan daya tekanannya.

ini biasanya terjadi pada motor-motor yang sudah berumur dan minyak remnya belum pernah diganti.

Minyak rem menggumpal

ketika minyak rem tidak diganti selama bertahun tahun, maka struktur minyak rem bisa berubah dari yang awalnya berbentuk fluida atau cair berubah menjadi kental seperti gel. nah minyak yang berbentuk jel ini kurang bisa masuk ke saluran saluran sempit.

dan gel ini malah bisa menghambat saluran saluran minyak rem. sehingga ketika motor minyak remnya tidak pernah diganti, rem bisa tiba-tiba mengalami blong.

jadi, sistem rem hidrolik itu wajib sekali dirawat. ada interval penggantian minyak rem sekitar 2 tahun sekali.

itulah penjelasan tentang sistem rem hidrolik pada sepeda motor. semoga bisa menambah wawasan kita semua.

8 Komponen Sistem Pendingin Air Pada Mobil dan Motor

 sistem pendingin radiator adalah mekanisme pendinginan pada mesin kendaraan yang menggunakan sebuah radiator untuk melepaskan panas mesin ke udara bebas.

Nah di artikel ini, kita akan mengulas komponen apa saja yang berperan dalam sistem pendingin radiator ini untuk dapat bekerja secara optimal.

Komponen Sistem Pendingin

komponen komponen yang saya jelaskan dibawah, merupakan komponen yang terdapat pada sistem pendingin pada umumnya. dan tidak menutup kemungkinan, pada brand tertentu ada penambahan komponen pendingin karena tiap brand otomotif punya teknologi sendiri-sendiri.

nah ke 7 komponen tersebut adalah

1. Radiator

2. Reservoir

3. Termostat

4. Water jacket

5. Pompa air

6. Selang radiator

7. Kipas radiator

8. Sensor ECT

sekarang kita bahas satu persatu fungsinya.

1. Radiator


Radiator adalah komponen yang ukurannya paling besar dan mencolok pada sistem pendingin. pada motor, anda bisa melihat radiator ini didepan mesin, kalau pada mobil ada dibalik gril atau bemper depan.

nah bentuk radiator yang bersirip sirip kaya seperti sarang tawon ini punya fungsi untuk melepaskan panas.

jadi fungsi radiator adalah untuk melepaskan panas dari mesin yang terbawa oleh air pendingin ke udara bebas. air akan masuk kedalam selang pipih pada radiator, lalu suhu panas pada air tersebut akan berpindah ke sirip sirip pada radiator.

lalu udara dihembuskan melalui sirip tersebut, sehingga panas bisa berpindah ke udara bebas. nah seperti itu konsep perpindahan panas pada radiator.

2. Reservoir

Reservoir berfungsi untuk menampung cadangan air pendingin dan menampung penguapan air pendingin didalam radiator agar tidak keluar.

jadi yang namanya air pendingin apalagi berhubungan dengan panas, maka bisa menguap. kalau air ini menguap ke udara bebas, air didalam radiator bisa cepat habis. oleh sebab itu, air pendingin yang menguap akan disalurkan kedalam genangan air dingin yang ada didalam reservoir. sehingga air tidak jadi menguap tapi masuk ke reservoir.

air didalam reservoir ini, kembali masuk ke radiator ketika suhu air didalam radiator sudah dingin kembali.

3. Termostat


Termostat adalah semacam katup yang berfungsi menutup dan membuka aliran air pendingin dari radiator. jadi termostat ini layaknya pintu yang bisa terbuka dan tertutup secara otomatis berdasarkan suhu air pendingin.

jika suhu air pendingin masih dingin (dibawah 70 derajat celcius), termostat akan tertutup. sehingga air didalam blok mesin, tidak dapat bersirkulasi ke radiator. ini, akan mempercepat proses pemanasan mesin.

ketika suhunya mencapai 80 derajat, termostat terbuka. sehingga air didalam blok mesin bisa bersirkulasi kedalam radiator untuk pendinginan.

termostat bekerja menggunakan semacam material lilin yang volumenya dapat berubah sesuai suhu. ketika suhu panas, lilin akan mengembang sehingga mendorong katup agar terbuka.

4. Water jacket


Water jacket adalah komponen yang letaknya menyatu pada blok silinder. fungsi water jacket adalah untuk tempat sirkulasi air didalam mesin. jadi supaya air ini tidak masuk ke ruang bakar dan tidak bercampur dengan oli, maka air pendingin punya jalur sirkulasi sendiri didalam blok mesin.

nah, kalau kita bongkar blok silinder mesin berpendingin radiator, kita akan melihat banyak sekali lubang disekitar blok silinder. itu ada lubang baut, ada lubang buat oli dan ada juga lubang buat air pendingin.

5. Pompa air

Pompa air berfungsi untuk membuat air pendingin bersirkulasi ke semua komponen. jadi pompa air ini biasanya terhubung ke poros engkol mesin. sehingga begitu mesin menyala, pompa otomatis berputar.

6. Selang radiator

Selang radiator berfungsi untuk mensirkulasikan air dari blok mesin ke radiator dan sebaliknya. selang ini bersifat spesial karena harus lentur dan tahan panas. oleh sebab itu selang radiator dibuat dari bahan karet yang tebal agar lebih tahan panas.

7. Kipas radiator

Kipas radiator berfungsi untuk menghembuskan udara melewati radiator. Hembusan udara ini diperlukan untuk melepaskan panas yang terkumpul pada sirip radiator, ke udara bebas. sehingga siklus pendinginan bisa terus berlanjut.

Kipas radiator pada kendaraan sekarang, umumnya sudah elektrik. kalau dulu, kipas terhubung ke pulley menggunakan fan belt. tapi sekarang kipas sudah pakai motor elektrik. jadi berputarnya kipas itu kondisional hanya ketika suhu mesin dalam posisi panas.

8. Sensor ECT

ECT adalah engine temperatur sensor. komponen ini sebenarnya masuk kedalam sistem EFI tapi ini juga mempengaruhi proses pendinginan mesin pada sistem pendingin radiator pada kendaraan masa kini.

jadi acuan kipas pendingin untuk berputar, itu ada pada ECT ini. ECT akan mendeteksi suhu mesin. ketika suhunya dingin, maka kipas tidak akan menyala. namun ketika suhu terdeteksi panas, kipas akan menyala.

Itulah 8 komponen sistem pendingin radiator pada mobil dan motor. semoga bisa menambah wawasan kita semua.

Berapa Lama Freon AC Mobil Habis ?

Berapa Lama Freon AC Mobil Habis ?

 Pada artikel sebelumnya kita sudah pernah membahas apakah freon itu bisa habis meski AC tidak bocor ? jawabannya tentu bisa. Tapi berapa lama freon itu habis tanpa ada bocor ?

di artikel ini, kita akan mengupasnya.

jadi perlu saya singgung kembali bahwa freon adalah gas yang dipakai untuk mendinginkan udara didalam kabin. oleh sebab itu, bisa dibilang freon ini adalah nyawanya sistem AC.

perawatan pada bagian freon ini, harus selalu diperhatikan. salah satunya, mengukur berapa volume freon yang ada didalam sistem.

ini penting, karena ketika volume AC kurang dari standarnya maka AC cenderung kurang dingin. nah, kalau itu dibiarkan lama kelamaan, AC jadi tidak dingin sama sekali. sehingga kita didalam kabin jadi berasa sumuk.

apalagi freon itu merupakan gas bermolekul kecil, yang mudah sekali menguap. sehingga meskipun kalau di cek pakai alat, tidak terdeteksi adanya kebocoran freon pada sistem AC. bukan berarti freon aman dan tidak akan bocor.

justru karena faktor penggunaan, freon ini bisa bocor sedikit demi sedikit melalui celah yang ada pada sambungan tiap komponen AC. sehingga dalam kurun waktu 2 tahunan freon tau tau sudah habis.

sekarang kita masuk ke pertanyaan utamanya

Berapa Lama Freon Pada AC Mobil Bisa Habis ?

itu tergantung, tergantung dari pemakaiannya.

maksudnya seperti ini, jadi dalam menyalakan AC kadang tiap orang berbeda-beda. ada orang yang cukup udara adem, yang penting tidak kepanasan nggak perlu dingin. ada juga kalau pakai AC harus pakai yang paling dingin.

suhu yang kita atur pada panel AC, itu mempengaruhi kinerja sistem ACnya.

jadi misal kita pakai AC dengan suhu paling dingin, maka kompresor AC akan berkerja pada titik maksimal. ini membuat tekanan freon, lebih sering berada di puncak daripada di titik rendahnya. nah freon yang bertekanan ini, tentu lebih mudah bocor lewat celah-celah kecil pada sambungan komponen yang tadi kita singgung.

jika dibandingkan dengan AC yang diset di suhu sedang, maka kompresor akan bekejera tidak seintens sebelumnya. sehingga tekanan frein bisa di maintain tidak pada puncak tertingginya.

ini akan mengurangi dorongan freon yang bocor lewat celah-celah tadi.

jadi intinya, freon itu bisa habis dalam kurun waktu 1 hingga 3 tahun tergantung seberapa sering kita pakai mobil, dan seberapa dingin kita set suhu ACnya.

Mungkin itu saja artikel untuk menjawab pertanyaan berapa lama AC mobil habis, semoga menambah wawasan kita semua.