-->

Cara Kerja Rem ABS Pada Kendaraan

Rem harusnya jadi perangkat untuk keselamatan saat berkendara. Tapi, karena rem juga kadang kecelakaan bisa terjadi.

Contohnya saat jalanan licin. Rem yang terlalu pakem justru bisa mengakibatkan roda slip, dan terjadilah kecelakaan.

Namun sekarang, ada teknologi ABS. Katanya, ini akan mencegah roda slip meski kita mengerem pada jalan yang licin.

Benarkah demikian ? Lalu bagaimana cara kerjanya ?

Simak artikel berikut. Kita bahas sedetail mungkin.



Pertama, kita bahas dulu konsep rem abs mengapa bisa mencegah slip.

Slip adalah posisi roda yang terkunci karena direm. Ketika roda terkunci, maka roda tidak lagi berputar, namun kendaraan masih tetap melaju.

Bagaimana untuk melepaskan kuncian ini ?

Mudah saja. tinggal lepas remnya, otomatis roda kembali berputar karena Tidak ada lagi yang menahan roda.

Namun selepas itu, rem harus kembali diaktifkan. Karena tujuan awal mengerem itu untuk memperlambat laju kendaraan.

Proses ini bertujuan agar roda kembali mendapatkan gripnya. Jadi ketika roda terdeteksi slip, sistem ABS akan menetralkan tekanan fluida. Sehingga roda bisa muter lagi.

Ketika roda baru muter, sistem ABS langsung menaikan tekanan fluida. Jadi, rem aktif lagi.

Kalau diilustrasikan, maka konsepnya kurang lebih seperti ini.

Tapi, proses itu berlangsung sangat cepat. Sehingga, kita tidak merasakannya.

Dibagian kedua, kita bedah didalam sistem ABS itu ada apa aja ? Bagaimana cara kerjanya ?

Komponen yang paling khas pada sistem ABS adalah unit pompa ABS ini. Komponen ini, punya banyak sekali selang hidrolik rem.



Komponen ini, sudah sepaket lengkap yang terdiri dari pompa hidrolik untuk menaikan tekanan minyak rem, ada juga katup hidrolik untuk menaik turunkan tekanan minyak rem, modulator untuk mengatur kinerja katup, dan ada soket yang menghubungkan sensor putaran roda.

Jadi ketika kita menekan pedal rem, tekanan minyak rem akan naik dan katup inlet akan menutup jalur minyak rem dari pedal.

Sehingga tekanan minyak rem dapat dipertahankan dalam posisi rem aktif.

Ketika salah satu roda slip, itu akan terdeteksi oleh sensor roda. Sensor yang mendeteksi slip, akan mengirimkan sinyal ke modulator. sehingga jalur minyak rem ke roda tersebut, akan di netralkan.

Hasilnya, roda kembali berputar.

Ketika roda sudah terdeteksi berputar, sensor kembali mengirimkan sinyal ke modulator untuk membuka jalur minyak rem. Hasilnya, rem pada roda tersebut kembali aktif.



Semua proses tadi, berjalan secara otomatis. Jadi, pengoperasian rem ABS ini sama saja seperti rem hidrolik biasa.

Saat kita lepas injakan pedal rem, Sensor tekanan akan menginformasikan ke modulator untuk membuka katup inlet. Sehingga minyak rem bisa balik ke reservoir dan rem terlepas.

Mungkin ada yang penasaran. bagaimana cara menetralkan, dan menaikan kembali tekanan minyak rem ke kaliper ?

Ini memang agak rumit. Tapi kita coba bahas sesimpel mungkin.



Kalau kita bongkar bagian modulator, kita akan melihat banyak sekali solenoid.

Fungsinya, untuk memaju-mundurkan katup.

Batangan besi ini, adalah katup-katupnya. Jadi masing-masing katup punya solenoidnya sendiri. Sehingga bisa dikendalikan secara individual.

Sebelumnya, sudah dijelaskan. Saat kita injak pedal rem, maka akan ada katup inlet yang menutup saluran minyak rem ke pedal.

Setelah katup itu tertutup, pompa akan hidup sejenak. Sehingga, kita akan melihat dua saluran dengan tekanan berbeda.

Saluran pompa sampai ke kaliper, punya tekanan tinggi. Sementara saluran yang tertutup katup inlet, tekanannya netral.

Pada saluran ini pula, terdapat ruang netralisir yang dilengkapi piston dan pegas. Fungsinya untuk apa ? Nanti anda juga bakal tahu.

Pada posisi ini, posisi kaliper dalam posisi mengerem. Karena tekanan minyak ke kaliper tinggi.

Untuk menetralkan tekanan minyak rem, salah satu katup akan menutup saluran dari pompa, dan satu lagi katup akan membuka saluran ke ruang netralisir.

Itu membuat minyak rem, masuk ke ruang netralisir. Dan karena disini terdapat piston plus pegas, maka minyak rem dapat masuk ke ruang netralisir tanpa menaikan tekanannya.

Apa hasilnya ?

Betul sekali, tekanan minyak rem ke kaliper akan turun. Ini membuat kaliper melepaskan cengkramannya, sehingga roda bisa muter.

Untuk menaikan tekanannya lagi, tinggal dibalik. Katup ke ruang netralisir akan tertutup, dan katup ke pompa akan terbuka. Lalu pompa menyala, sehingga tekanan minyak rem naik, dan rem aktif lagi.

Cukup canggih bukan, subscribe channel kami untuk mendapatkan pengetahuan otomotif lainnya.
Bisakah Motor Nyala Tanpa Aki ? Ini penjelsan Detailnya

Bisakah Motor Nyala Tanpa Aki ? Ini penjelsan Detailnya

 Aki tekor menjadi salah satu problem yang sering kali dialami para pemilik motor.

Tapi apa yang terjadi kalau aki dicopot, alias motor nggak pakai aki. Apa motor masih bisa nyala ?

Di artikel ini kita akan bahas hal itu dengan detail. Jadi jangan lewatkan sedetikpun.

Aki atau baterai adalah alat untuk menyimpan energi listrik. Listrik pada baterai ini, akan dipakai untuk menghidupkan lampu, klakson, serta untuk menghidupkan mesin sendiri kita perlu energi listrik.

Jadi bisa dikatakan, kelistrikan pada kendaraan bukan cuma sebagai aksesoris. Tapi itu juga jadi hal penting supaya mesin bisa menyala.

Meski kelistrikan itu penting, sebenarnya baterai bukan jadi komponen yang mempengaruhi mesin.

Kenapa bisa begitu ?

Kalau motor anda akinya tekor, apa mesinnya akan sama sekali mogok ? Tidak juga.

Aki tekor, akan membuat starter mesin mati. Jadi kita harus pakai kick starter. Setelah itu mesin bisa nyala, dan lampu juga bisa nyala meski redup meski akinya tekor.

Itu artinya aki bukan jadi komponen utama yang mempengaruhi nyala tidaknya mesin.

Lalu kenapa bisa begitu ?

Ini terjadi karena baterai cuma sebagai penyimpan listrik. Perlu diingat, baterai atau aki tidak bisa memproduksi listrik. Komponen ini berfungsi layaknya power bank yang kalau di cas, dia akan menyimpan arus listrik.

Lalu dari mana asal kelistrikan pada motor ?

Kami perkenalkan, ini adalah spul. Atau dinamo pengisian pada sepeda motor.

Dinamo ini akan menghasilkan arus listrik saat mesin berputar.

Untuk menghasilkan arus listrik, sebenarnya sangat sederhana. Spul ini terdiri dari beberapa kumparan sebagai stator, dan magnet permanen sebagai rotor.

Rotor magnet ini, terhubung ke poros engkol mesin. Jadi, ketika mesin nyala, otomatis rotor ini akan berputar.

Ketika rotor berputar, terjadi persinggungan antara garis gaya magnet pada rotor magnet, dengan kumparan pada stator.

Sehingga terbentuklah aliran arus listrik.

Arus listrik inilah yang dipakai motor sebagai sumber untuk lampu, klakson, menghidupkan busi hingga untuk mengisi aki.

Jadi ketika mesin dimatikan, aki selalu dalam posisi full charge.

Namun, dinamo pengisian ini masih memiliki kelemahan. Tegangan yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh putaran mesin.

Standar tegangan pada kendaraan itu 12 volt. Namun, saat kecepatan tinggi tegangan yang dihasilkan dinamo ini bisa lebih dari 12 volt.

Ketika tegangan kelistrikan melebihi batas, maka itu bisa merusak komponen kelistrikan lainnya.

Untuk mengatasinya, spul selalu dipasang sepaket dengan volteg regulator. Atau orang-orang suka menyebutnya dengan kiprok.

Kiprok akan membatasi tegangan dari dinamo agar tidak melebihi 12 volt, meski mesin sedang pada RPM tinggi.

Dengan dua komponen ini, harusnya tidak masalah kalau aki dilepas. Karena ketika anda menghidupkan mesin menggunakan kick start, poros engkol akan berputar. Dan putaran dari kick start, sudah bisa menghasilkan aliran listrik untuk menghidupkan busi.

Ketika busi berhasil menyala, maka mesin akan hidup dan listrik akan tersuplai dengan sendirinya.

Tapi bagaimana dengan motor injeksi ?

Khusus untuk motor injeksi, ada komponen yang namanya pompa bensin. Pompa ini bekerja secara elektrik, dan sebelum mesin nyala pompa harus nyala sejenak agar tekanan bensin naik.

Oleh sebab itu, motor injeksi harus punya sumber listrik sebelum mesin nyala.

Sumber listrik ini bukan berari aki. Karena pada beberapa motor, sudah dilengkapi dengan kapasitor. Kapasitor ini sebenarnya mirip seperti baterai tapi versi lebih mini.

Jadi ketika kunci kontak on, kapasitor akan melepaskan arus listrik ke sistem injeksi. Sehingga pompa masih bisa nyala. Ketika kita nyalakan pakai kick starter, mesin akan nyala.

Namun, tidak semua motor menggunakan kapasitor. Jadi ada motor injeksi yang bisa nyala tanpa aki, ada juga yang tidak bisa.

Mungkin itu saja info untuk video kali ini, semoga bermanfaat dan jangan lupa subscribe.

How Hydraulic Jack Lift Heavy Weight With Small Input Force ?

Hydraulic jack always be an option if we work with heavy equipment. For example when we want to change car’s wheel. To do that, we need to lift the vehicle. And hydraulic jack is a good choice to do that job.

But how the hydraulic jack can lift the heavy weight with small input force ?

in this article, I will show you inside the hydraulic jack when it works.

hydraulic jack animation


Hydraulic jack work using pascal’s law. With this principle, the hydraulic jack has an ability to lift a weight that has two or three time heavier than the input weight.

But here, I want to talk a lot about physics. I just want to show you how powerful this pascal principle, of course in simple explanation.

So, it can be said that the area very influence the weight can be hold. If you ever see a raft. When you stand in the raft with small area, you can sink. But if we make the raft larger, it can accommodate two or three people without sink.

It is a proof that the area very affected with the weight can be accommodate. In small area, we just need small force to make it sink. The larger the area, the bigger the force we need to make it sink.

Now we back to pascal’s law.

You can see there is a container with different diameter. Input diameter has smaller diameter than the output. Then, we put a piston on each cylinder. If we putting the load on the piston, then piston will move down and it contain the pressure.

Just like what we discuss before, due to small area on input piston it make the value of pressure bigger. The pressure will be continued to the output piston with the same value. But because the area of output piston is larger, the weight or force contained from the piston is larger.

To make it simple, if the output piston two times larger so the output force two times bigger. If it three time larger, so the output force three times bigger.

So the conclusion, hydraulic jack capable to lift high load due to there is a significant differ between input and output piston.

Following the principle, when we press the input piston the output piston will move up. And when we release the input piston, the output piston should be move down. But in fact, the output piston keep on position when we release the input piston.

Even when we press input piston for the second time, the output piston will move up again and again.

It happened because hydraulic have a pair of one valve. This mechanism only allow the fluid to pass in a direction depending the pressure value.

Just like this ilustration. When we give a pressure on the right side, the valve will open. And the fluid flow through the valve. But when we change the pressure on left side, the valve will close. And it will cut the flow, so the fluid is not flow back to the right side.

The hydraulic jack have two one way valve. This is located between the cylinder, and the one located on the reservoir path. Both of them have opposite direction. So, when we press the input piston, the first valve open, and another one will close. It make the fluid flow to the output cylinder.

It makes the piston rise.

When we release the input piston, there are increase of volume in the input cylinder. It will change the valve position. In this position, reservoir valve open and another one closed. So this volume enlargement, will suck the fluid from the reservoir tank.

To move the output piston down, we use a screw to bypass the fluid directly to the reservoir.

Cara Kerja Transmisi Otomatis Motor Matic

Cara Kerja Transmisi Otomatis Motor Matic

Kita tahu bahwa tugas transmisi adalah mengubah rasio kecepatan antara mesin dan roda kendaraan. Transmisi menggunakan dua roda gigi dengan diameter yang berbeda. Sehingga putaran dari poros engkol, dapat diubah agar memiliki torsi yang lebih besar dengan kecepatan yang lebih rendah.

Tapi bagaimana dengan transmisi otomatis? apakah komponen ini menggunakan tautan roda gigi atau tidak ?

Pada artikel ini, kita akan belajar tentang transmisi CVT. Yang mana transmisi ini, banyak digunakan pada sepeda motor matic.

Tidak seperti transmisi manual, continuous variable transmission (CVT) tidak memiliki kotak roda gigi dengan jumlah roda gigi tertentu, yang berarti mereka tidak memiliki roda bergigi yang saling berhubungan. Jenis CVT yang paling umum digunakan pada motor matic adalah tipe variable pulley yang memiliki rasio gigi tidak terbatas.

Untuk mengubah rasio kecepatan, CVT menggunakan variable diameter pulley. pulley ini memiliki kemampuan untuk mengubah diameter, sesuai dengan putaran mesin.

Untuk lebih mudahnya, saya akan menjelaskannya tiap bagian secara detail.

Anda bisa lihat, komponen ini disebut drive pulley. Sedangkan yang satu lagi, dinamakan driven pulley. Drive pulley dipasang pada bagian poros engkol. Sehingga pulley ini akan berputar pada saat mesin hidup, dan kecepatannya dipengaruhi oleh kecepatan putar poros engkol.

Sedangkan driven pulley, terletak di bagian belakang. Terhubung dengan roda, dan kecepatannya sama dengan putaran roda.

Kedua pulley, dihubungkan oleh sabuk V.

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, bahwa transmisi ini menggunakan variable diameter pulley. Ini mengacu pada puli penggerak, dan puli yang digerakkan. Keduanya memiliki kemampuan untuk mengubah diameternya, tetapi dengan cara yang berlawanan.

Artinya, ketika drive pulley memperbesar diameter, diameter driven pulley akan menyusut.

Dan itu juga berlaku sebaliknya.

Dasar dari CVT untuk mengubah rasio kecepatan

Dasarnya sangat sederhana. Pada RPM rendah, puli penggerak selalu berada pada diameter terkecil. Sedangkan puli yang digerakkan, ada pada diameter maksimum. Pada posisi ini, puli penggerak memiliki diameter yang lebih kecil dari puli yang digerakkan.

Jadi, itu akan mengurangi kecepatan output. Dan torsi, meningkat.

Saat motor kita gas, RPM mesin naik. Semakin cepat RPM mesin, semakin besar diameter drive pulley. Jadi, kenaikan RPM ini akan menaikkan diameter drive pulley. Ketika diameter drive pulley meningkat, maka secara otomatis pulley yang digerakkan akan mengecilkan diameternya.

Itu membuat, kedua puli memiliki diameter yang sama. Jadi putaran mesin diteruskan ke roda dengan kecepatan yang sama.

Pada RPM tinggi, diameter drive pulley terus bertambah. Hal ini membuat puli penggerak memiliki diameter yang lebih besar dari puli yang digerakkan. Jadi putaran roda, akan lebih cepat dari RPM mesin.

Tapi bagaimana cara drive pulley mengubah diameter?

Drive pulley, menggunakan gaya sentrifugal untuk mengubah diameter. Untuk lebih detail, mari kita bahas kedalamnya.

Drive pulleyy terdiri dari tiga bagian utama. Frame. Ini adalah komponen statis, yang terhubung langsung ke poros engkol mesin. Pelat geser. Merupakan komponen yang bergerak, yang berfungsi untuk memperbesar atau memperkecil diameter.

Sedangkan komponen silinder ini disebut roller. Ini seperti pemberat untuk mengontrol pergerakan bagian slider. Roler dipasang di sekitar poros. Ketika itu berputar, gaya sentrifugal akan muncul. Gaya sentrifugal adalah gaya dengan arah keluar dari poros rotasi.

Secara sederhana, gaya sentrifugal akan membuat roller menjauh dari sumbu. Namun, karena roller memiliki jalur yang bengkok, gerakan roller akan mendorong pelat slider.

Setiap pelat terbuat dari dua kerucut 20 derajat yang saling berhadapan. Sebuah v belt dikalungkan diantara dua komponen kerucut tersebut. Ketika roller dekat dengan poros (low RPM),posisi slider ada pada posisi terjauh. Dan ini membuat posisi Vbelt ada pada posisi diameter terkecil.

Semakin jauh posisi roller dengan poros, maka posisi slider akan semakin dekat. Dan ini membuat posisi diameter V belt semakin membesar.

Untuk menjaga agar sabuk tetap kencang, puli belakang akan menyesuaikan diameter puli depan. pulley ini, memiliki pegas yang selalu mendorong pelat dalam posisi dekat.

Komponen utama lainnya pada transmisi otomatis adalah kopling sentrifugal.

Kopling ini akan membuat roda tetap diam, saat mesin berjalan pada RPM idle. Kopling ini terletak di driven pulley, pada sumbu roda.

Ini menggunakan serangkaian komponen seperti sepatu rem. Sepatu ini, terhubung ke katrol yang digerakkan. Pada RPM idle, kita bisa melihat celah antara sepatu dan tromol di mana tromol terhubung ke roda. Tetapi jika kecepatan meningkat, sepatu akan bergerak keluar. Ini akan menghilangkan celah, sehingga roda akan berputar sesuai dengan kecepatan putaran pulley.

Continuous Variable Transmission (CVT) Working Principle

Continuous Variable Transmission (CVT) Working Principle

 We already know that the job of the transmission is to change the speed ratio between the engine and the wheels of an automobile. The transmission use two gears with different diameters. So that the rotation from the crankshaft, can be change to make it has more torque with lower speed.

But how about automatic transmission ? did this thing using several gears or not ?

In this article, we will learn about CVT transmission. Which is this transmission, widely use in automatic motorcycles.

Basic of Automatic Transmission

Unlike traditional automatic transmissions, continuously variable transmissions don't have a gearbox with a set number of gears, which means they don't have interlocking toothed wheels. The most common type of CVT operates on an ingenious pulley system that allows an infinite variability between highest and lowest gears with no discrete steps or shifts.

To change the speed ratio, CVT use variable diameter pulley. This pulley has ability to change the diameter, according to the engine speed.

To make it easier, I will dissemble every part of continuous variable transmission on motorcycles.

You can see, this component called drive pulley. While the other one, is driven pulley. Drive pulley is installed on the crankshaft section. So that, this pulley will rotate when the engine run, and the speed is influenced by crankshaft rotational speed.

While the driven pulley, located In the back. Attached with the wheel, and the speed is same as wheel rotation.

Both of the pulley, connected by a V belt.

As I tell before, that this transmission using variable diameter pulley. It refer to drive pulley, and driven pulley. Both of them has ability to change their diameter, but in opposite way.

It mean, when drive pulley increase the diameter, the diameter of driven pulley will shrink.

The basic of CVT to change the speed ratio

The basic is very simple. In low RPM, the drive pulley always on the smallest diameter. While the driven pulley, in maximum diameter. In this position, the drive pulley has smaller diameter than the driven pulley.

So, it will decrease the output speed. And the torque, is increase.

When we pull the throttle, engine RPM raise. The faster the engine RPM, the bigger the drive pulley’s diameter. So, this RPM increase will rise the diameter of drive pulley. When the drive pulley’s diameter is raising, the driven pulley will decrease it’s diameter automatically.

It make, both of the pulley have same diameter. So the engine speed is continued to the wheel in same speed.

In high RPM, the drive pulley’s diameter keep increase. It make the drive pulley has bigger diameter than the driven pulley. So the wheel rotation, will be faster than the engine RPM.

But how the drive pulley change the diameter ?

The drive pulley, use centrifugal force to change the diameter. To be more understand, let’s dissemble the drive pulley.

The drive pulley consist of three main part. The frame. This is a static component, that directly connected to the engine crankshaft. The slide plate. This is a moving component, that has function to make the diameter bigger, or shrink.

While this cylinder components, called roller. It’s like a ballast to control the movement of slider part. The roller are installed around the shaft. When it rotate, the centrifugal force will rise. Centrifugal force is an outflow force from the rotational movement.

In simple way, the centrifugal force will make the roller stay away from the axis. But, due to roller have crooked path, the roller movement will push the slider plate.

Each plate is made of two 20 degree cones facing each other. A belt rides in the groove between the two cones. When the two cones of the plate are far apart, the belt rides lower in the groove. and the radius of the belt loop going around the pulley, gets smaller. When the cones are close together, the belt rides higher in the groove. and the radius of the belt loop going around the pulley gets larger.

To keep the belt tight, the rear pulley will adapt the front pulley diameter. This pulley, has a spring that always push the plate in close position.

Another main component on automatic transmission, is centrifugal clutch.

This clutch will make the wheel stay quite, while the engine run on idle RPM. This clutch located in the driven pulley, at the wheel axis.

It use a series of component like a brake shoe. This shoe, connected to the driven pulley. In idle RPM, we can see the gap between the shoe and the drum where the drum connected to the wheel. But if the speed increase, the shoes will move outway. It will lose the gap, so the wheel will rotate according to the pulley rotational speed.

That’s how CVT works. It is very simple right ? what do you think ? type in comment below.

10 Ciri-Ciri Penelitian Kualitatif Menurut Para Ahli

10 Ciri-Ciri Penelitian Kualitatif Menurut Para Ahli

Kalau kita cari definisi penelitian kualitatif, itu adalah sebuah metode penelitian yang mengedepankan kualitas atau kedalaman data-data yang sedang diteliti.

Tapi kalau kita merujuk pada definisi saja, kadang kita susah untuk mengidentifikasi apakah sebuah penelitian masuk dalam metode kualitatif atau bukan.

Nah, di artikel ini autoexpose akan membagikan ciri-ciri atau karakteristik penelitian kualitatif. Tentu ini bukan pendapat saya pribadi, melainkan ini menurut para ahli.

Karakteristik Penelitian Kualitatif

Secara umum ada 10 karakteristik penelitian kualitatif, yaitu.

  1. Naturalistic inquiry yaitu mempelajari situasi dunia nyata secara alamiah, tidak melakukan manipulasi, transparan pada apapun hasil yang diamati.
  2. Inductive analysis yaitu mendalami rincian dan kekhasan data guna menemukan kategori, dimensi, dan keterhubungan tiap data.
  3. Holistic perspective yaitu seluruh gejala yang dipelajari dipahami sebagai sistem yang kompleks lebih dari sekedar penjumlahan bagian-bagiannya.
  4. Qualitative data yaitu deskripsi terinci, atau kajian dilakukan sangat mendalam
  5. Personal insight yaitu peneliti punya hubungan langsung dan bergaul erat dengan orang-orang, situasi dan gejala yang sedang dipelajari.
  6. Dynamic systems yaitu memperhatikan proses, menganggap perubahan bersifat konstan dan terus berlangsung baik secara individu maupun budaya secara keseluruhan.
  7. Unique case orientation yaitu menganggap setiap kasus bersifat khusus dan khas.
  8. Context Sensitivity yaitu menempatkan temuan dalam konteks sosial, historis dan waktu.
  9. Emphatic Netrality yaitu penelitian dilakukan secara netral agar obyektif tapi bersifat empati.
  10. Design flexibility yaitu desain penelitiannya bersifat fleksibel, terbuka beradaptasi sesuai perubahan yang terjadi (tidak bersifat kaku).

Selain itu, ada juga ciri penelitian kualitatif menurut pendapat bodgan dan biklen yang sudah disintesiskan dengan pendapat lincoln, guba dan moleong (Suharsaputra 2012:186).

Ada 11 ciri penelitian kualitatif

  1. Latar alamiah, yaitu penelitian dilakukan pada situasi alamiah dalam suatu keutuhan.
  2. Manusia sebagai alat, artinya manusia/peneliti merupakan alat pengumpulan data yang utama.
  3. Metode kualitatif (metode yang digunakan adalah metode kualitatif).
  4. Analisis data secara induktif yang mengacu pada temuan di lapangan.
  5. Teori dari dasar/grounded theory (menuju pada arah penyusunan teori berdasarkan data).
  6. Deskriptif, atau data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka.
  7. Lebih mementingkan proses daripada hasil.
  8. Ada batas yang ditentukan oleh fokus, atau perlu batas penelitian atas dasar focus yang timbul sebagai masalah dalam penelitian.
  9. Adanya kriteria khusus untuk keabsahan data (punya versi lain tentang validitas, reliabilitas dan objektivitas).
  10. Desain bersifat sementara (desain penelitian terus berkembang sesuai dengan kenyataan lapangan).
  11. Hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama (antarpeneliti dengan sumber data)

Jadi kalau disimpulkan, penelitian kualitatif itu punya ciri utama pada hasil penelitian yang umumnya berbentuk narasi. Penelitian kualitatif biasanya dilakukan untuk meneliti kualitas hubungan antar orang, hal-hal yang bersifat sosial budaya dan hal lain yang tidak berhubungan dengan data-data Yang tidak dapat diukur oleh angka yang pasti.

Oleh sebab itu, metode penelitian ini juga dipengaruhi oleh bagaimana peneliti menginterprestasikan data.

Ciri lain yang khas dari penelitian kualitatif, adalah tujuan penelitian. Penelitian kualitatif biasanya tidak dilakukan untuk menemukan solusi dari permasalahan yang spesifik, penelitian ini lebih banyak bertujuan untuk menggambarkan, atau menjelaskan sebuah fenomena sosial yang terjadi di lingkungan sosial.

Lalu bagaimana dengan ciri-ciri penelitian kuantitatif ?

Penelitian ini punya tujuan untuk menemukan solusi dari permasalahan spesifik, biasanya penelitian ini memiliki teori dasar yang berasal dari penelitian yang dilakukan sebelumnya. Peneliti akan mengumpulkan data-data yang dapat diukur, jadi data yang diperoleh biasanya berbentuk angka.

Hasil penelitian, biasanya berbentuk konfirmasi. Karena peneliti sebenarnya sudah menduga solusi atas permasalahan yang sedang teliti yang berasal dari penelitian yang sudah ada. Penelitian ini dilakukan untuk menguji apakah solusi tersebut memiliki pengaruh nyata untuk mengatasi masalah atau tidak.

Ada 14 ciri penelitian kuantitatif

  1. Metode penelitian kuantitatif dilakukan untuk mengukur satu atau lebih variable penelitian. Lebih dari itu penelitian kuantitatif dilakukan untuk mengukur hubungan atau korelasi atau pengaruh antara dua variabel atau lebih
  2. Pada metode penelitian kuantitatif Permasalahan penelitiannya adalah menanyakan tentang tingkat pengaruh atau keeratan hubungan antara dua variabel atau lebih
  3. Penelitian kuantitatif dilakukan untuk menguji teori yang sudah ada yang dipilih oleh peneliti
  4. Metode penelitian kuantitatif memfungsikan teori sebagai titik tolak menemukan konsep yang terdapat dalam teori tersebut, yang kemudian dijadikan variabel.
  5. Penelitian kuantitatif menggunakan hipotesis sejak awal ketika peneliti telah menetapkan teori yang digunakan.
  6. Penelitian kuantitatif lebih mengutamakan teknik pengumpulan data kuesioner.
  7. Penelitian kuantitatif penyajian datanya berupa tabel distribusi pilihan jawaban para responden yang ditentukan oleh peneliti berupa angka.
  8. Penelitian kuantitatif menggunakan prespektif etik, yaitu data yang dikumpulkan dibatasi atau ditentukan oleh peneliti dalam hal pilihan indikator atau atribut variabel baik jumlah maupun jenisnya.
  9. Metode penelitian kuantitatif menggunakan definisi operasionalisasi kerana hendak mengukur variabel, karena definisi operasional pada dasarna merupakan petunjuk untuk mengukur variabel
  10. Penelitian kuantitatif penentu ukuran jumlah responden atau sampel dengan menggunakan presentase, rumus atau table populasi-sampel, sebagai penerapan prinip keterwakilan.
  11. Peneliti kuantitatif menggunakan alur penarikan kesimpulan berproses secara deduktif, yaitu konsep, variabel ke data.
  12. Metode penelitian kuantitatif instrument penelitiannya berupa kuesioner atau angket, yang juga berfungsi sebagai teknik pengumpulan data
  13. Analisis yang digunakan dalam penelitian kuantitatif dilakukan setelah data terkumpul, dengan menggunakan perhitungan angka-angka atau analisis statistic.
  14. Penelitian kuantitatif kesimpulannya berupa tingkat hubungan antar variabel, sedangkan dalam penelitian kualitatif kesimpulannya berupa temuan konsep yang tersembunyi di balik data rinci berdasarkan interpretasi atau kesepakatan dari para responden atau informan.

Mobil Sekarang Itu Nggak Perlu Dipanaskan, Benarkah Itu ?

Hai gays, balik lagi bareng gua di blog autoexpose.

Manasin mesin, adalah aktfitas rutin yang sering dilakukan pemilik kendaraan. Tapi kalau kita serch di googel, ada artikel yang mengatakan kalau mobil sekarang itu nggak perlu dipanasin.

Dan artikel artikel itu, dibikin oleh media besar. Yang mereka tuh, kalo bikin artikel pasti berdasarkan narasumber yang memang ahli.

Jadi, benarkah mobil sekarang nggak perlu dipanasin ?


Di artikel ini, gua ajak kalian semua belajar sama sama tentang mesin. Jadi perlu nggak perlunya manasin mobil, itu bisa kita temukan jawabannya.

Pertama, gua bakal jelasin tujuan proses pemanasan mesin. Jadi, manasin mesin mobil itu punya tiga tujuan.

1. Manasin Mesin Untuk Mempersempit Celah Antar Komponen Mesin

Pertama, memanaskan mesin akan membuat komponen mesin memuai.

Komponen mesin, terbuat dari logam. Dan logam, punya sifat memuai jika dipanaskan. Pemuaian ini, bisa berakibat buruk terhadap mesin. Contohnya piston dan blok silinder. Kalau kedua komponen ini memuai, maka diameter silinder akan mengecil dan diameter piston akan membesar.

Akibatnya, piston akan terjebak didalam silinder dan nggak bisa gerak.

Untuk mengatasi hal itu, setiap komponen mesin yang berinteraksi, diberi semacam celah sebagai toleransi terhadap pemuaian.

Tapi efeknya, mesin jadi loyo pas masih dingin. Oleh sebab itu, pemanasan mesin dilakukan agar komponen mesin memuai. sehingga celah toleransi bisa lebih rapat.

2. Manasin Mesin Untuk Menyiapkan Pelumasan

Tujuan yang kedua, manasin mesin akan meratakan oli ke semua bagian mesin.

Ketika mesin mati dalam waktu yang lama, maka oli akan turun dan berkumpul didalam carter. Itu membuat komponen yang terletak dibagian atas seperti piston dan mekanisme katup, tidak mendapatkan pelumasan yang cukup.

Apa yang terjadi kalau mobil langsung digeber ?

Komponen mesin pasti akan tergores.

Memanaskan mesin, berarti kita menyalakan mesin dalam posisi idle. Dan itu akan membuat oli bersirkulasi ke semua bagian mesin. Sehingga pas mobil kita gas, komponen mesin sudah mendapatkan pelumasan yang cukup.

 3. Manasin mesin untuk membuat mesin mencapai suhu kerja

Tujuan yang ketiga, sama seperti namanya. Manasin mesin, itu bertujuan untuk menaikan suhu mesin.

Mesin itu dapat bekerja secara efisien kalau mesin berada pada suhu kerja. Ini ada penjelasannya.

Kalau mesin masih dingin, maka bensin yang terbawa oleh aliran udara intake, akan mengembun pada dinding intake manifold. Sehingga, bensin yang masuk ke ruang bakar itu lebih sedikit. Sehingga tenaga yang dihasilkan mesin saat masih dingin itu lebih rendah.

Selain itu, panas hasil pembakaran yang harusnya dikonversi ke energi gerak, akan merambat ke komponen mesin. Sehingga, hasil pembakaran yang dapat dikonversi ke energi gerak, tidak sampai 100 persen.

Inilah yang membuat mesin kurang efisien kalau dipaksa jalan saat masih dingin.

Lalu mengapa mobil mobil sekarang nggak perlu dipanasin ?

Ternyata, perkembangan teknologi pada mesin mobil, mampu mengatasi masalah masalah yang tadi kita bahas.

Celah toleransi antar komponen lebih rapat

Mesin mesin sekarang, itu memiliki celah toleransi yang sangat rapat. Hal itu disebabkan material dasar yang digunakan untuk membuat komponen mesin, dibuat dengan campuran khusus sehingga laju pemuaian bisa dikurangi.

Oli sekarang mampu melekat lebih lama

Lalu untuk masalah pelumasan. Oli yang diproduksi saat ini, sudah dicampur dengan berbagai zat aditif. Sehingga kemampuan oli meningkat. Salah satunya, oli mampu melekat pada komponen mesin dalam waktu yang lama.

Jadi kalau mobil berhenti satu atau dua hari, maka lapisan oli tetap melekat pada komponen mesin.

Sehingga mobil siap jalan meski masih dingin.

 Sistem injeksi elektronik sangat berpengaruh

Teknologi injeksi elektronik juga memberikan dampak yang signifikan. Jadi ketika mesin dinyalakan pas masih dingin, maka injektor akan menyemprotkan lebih banyak bensin. RPM mesin, juga bakal naik secara otomatis kalau masih dingin.

Sehingga loss energi yang dialami mesin pas masih dingin, itu tidak menimbulkan efek terhadap performa mesin.

Video Mobil Tidak Perlu Dipanasin



Tapi menurut gua pribadi, manasin mesin itu tetap perlu gays. Karena mesin bakal lebih efisien, kalo dibuat jalan pas suhunya udah anget.

Selain itu, manasin mesin juga bisa buat ngecek kondisi mesin sebelum dipake jalan. Apalagi mobil injeksi itu, penyakitnya suka muncul tiba tiba. Terutama kipas pendingin. Kalo mesin masih dingin, kipas ini nggak bakal nyala. Jadi kita nggak tau apa kipas itu berfungsi apa nggak.

Salah satu cara buat tau kondisi kipas pendingin, itu dengan menyalakan ase. Pas ase dinyalakan, kipas juga bakal nyala. Kalo kipas nyala, berarti kipas masih berfungsi.

Manasin mesin mobil sekarang, juga nggak usah lama lama gays. Cukup 1 sampai 2 menit sampai mesin anget, itu udah cukup.

Kelamaan manasin mesin, malah bikin boros bensin.

Kalo menurut kalian, manasin mesin masih perlu nggak sih ?