6 Proses Pengolahan Minyak Bumi Beserta Hasil Olahannya

Minyak yang disuling dari perut bumi tidak bisa digunakan langsung sebagai bahan bakar, karena masih mentah. Sehingga perlu diolah terlebih dahulu supaya minyak bumi bisa dipakai sebagai bahan bakar tanpa menimbulkan masalah serius.

Pengolahan yang sering kita dengar adalah fraksinasi atau destilasi. Namun, itu cuma satu bagian dari rangkaian proses pengolahan. Jadi masih ada proses lainnya.

Lalu apa saja tahap-tahap pengolahan minyak bumi ? mari kita bahas bersama-sama.

Tahap Pengolahan Minyak Bumi


Ada 6 tahap penyulingan minyak bumi, yakni tahap destilasi atau fraksinasi, cracking, reforming, polimerasi, treating dan blending.

1. Tahap destilasi



Destilasi minyak bumi adalah proses pemisahan komponen minyak bumi bedasarkan titik didihnya. Pada artikel sebelumnya tentang komponen penyusun minyak bumi sudah dijelaskan secara tuntas bahwa minyak bumi itu sebagian besar kandungannya hidrokarbon.

Hidrokarbon sendiri memiliki beberapa jenis, seperti metana, butana, pentana, oktana dan lainnya.

Semua jenis hidrokarbon tersebut tercampur aduk pada minyak bumi, sehingga untuk memisahkannya perlu dilakukan proses destilasi bertingkat.

Destilasi bertingkat adalah proses yang dilakukan dengan memanaskan minyak bumi. Masing-masing jenis hidrokarbon memiliki titik didih yang berbeda, sehingga setiap jenis hidrokarbon akan menguap pada suhu yang berbeda pula.

Secara singkat, proses destilasi meliputi

  • Pemanasan, minyak mentah yang berasal dari perut bumi dimasukan kedalam tungku besar kemudian dipanaskan hingga suhu 350 derajat celcius.
  • Penguapan, didalam tungku terdapat beberapa selang yang terbuka pada suhu tertentu saja. Sehingga hidrokarbon yang mendidih bisa menguap dan masuk ke suatu selang terpisah.
  • Pengembunan, uap hidrokarbon yang ada pada selang akan didinginkan sehingga hidrokarbon kembali berubah ke wujud cair.


Hasilnya, berupa hidrokarbon yang lebih spesifik (tidak tercampur). Hasil dari proses destilasi ini digunakan sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar seperti bensin. solar, avtur, minyak tanah (sesuai jenis hidrokarbonnya).

2. Tahap Cracking

Cracking adalah proses penguraian senyawa hidrokarbon yang masih kompleks menjadi senyawa hidrokarbon yang lebih simple lagi.

Seperti yang dijelaskan diawal, senyawa penyusun minyak bumi itu tercampur aduk. Sehingga ada hidrokarbon yang memiliki senyawa sangat kompleks dan beberapa juga memiliki banyak atom C per molekulnya.

Agar hasil olahan minyak bumi bisa lebih efektif, maka senyawa yang kompleks tersebut perlu diurai lagi melalui tahap cracking.

Ada tiga jenis cracking, yakni ;

  • Thermal cracking, yakni penguraian dengan memanaskan hidrokarbon pada suhu tinggi dalam tekanan yang rendah.
  • Catalytic cracking, penguraian hidrokarbon dengan bantuan kataliastor/bahan eksternal untuk memicu penguraian senyawa hidrokarbon,
  • Hydrocracking, merupakan paduan antara thermal cracking dan catalytic cracking.


Hasil dari proses cracking ini adalah senyawa hidrokarbon yang lebih spesifik lagi sehingga bisa untuk menjadi bahan bakar dengan spesifikasi tertentu.

3. Tahap Reforming

Secara sederhana, reforming adalah merubah struktur hidrokarbon. Salah satu alasan perubahan struktur ini diperlukan, karena hasil dari reforming ini merupakan jenis hidrokarbon baru yang digunakan sebagai bahan bakar tertentu.


Contohnya seperti gambar diatas, n-butana adalah hasil dari destilasi minyak bumi, setelah melalui proses reforming maka strukturnya akan berubah menjadi iso-butana, yang mana berfungsi sebagai bahan baku avgas (aviation gasoline).

Selain untuk mengubah struktur senyawa hidrokarbon, reforming juga dapat mengubah hidrokarbon parafin menjadi aromatik yang memiliki kandungan oktan tinggi. Hasil ini dipakai sebagai bahan pembuat bensin dengan nilai oktan tinggi.

Proses reforming dilakukan dengan menambahkan bahan-bahan eksternal sebagai katalis.

4. Tahap Alkilasi/Polimerisasi

Alkilasi adalah tahap penambahan atom didalam molekul hidrokarbon untuk mendapatkan molekul yang lebih panjang. Jadi, pada tahap ini atom-atom akan digabungkan ke molekul supaya molekul tersebut menjadi molekul yang sesuai dengan kebutuhan industri minyak bumi.

Pada tahap cracking molekul akan dipecahkan karena molekulnya masih berbentuk kompleks, di tahap reforming akan ada perubahan pada molekul-molekul tertentu. Dan ditahap alkilasi, atom-atom yang sebelumnya dipisahkan pada tahap cracking kembali disatukan namun dalam struktur yang ideal.

Sehingga setelah melewati tiga proses ini, molekul hidrokarbon sebenarnya sudah siap dijadikan bahan bakar. Namun, masih ada proses lanjutannya.

5. Tahap Treating

Pada tahap treating, minyak bumi yang sudah dikonversi menjadi molekul ideal akan dibersihkan dari bahan-bahan yang ikut terbawa dalam minyak bumi. Hal ini dikarenakan kandungan minyak bumi bukan hanya hidrokarbon.

Memang hidrokarbon merupakan komponen penyusun utamanya, tapi masih ada bahan lain seperti nitrogen, sulfur, oksigen dan logam.

Untuk memurnikan kandungan hidrokarbon dari bahan-bahan tersebut maka dilakukan proses treating.

Ada beberapa proses treating, yakni ;

  • Copper Sweetening, proses untuk menghilangkan bau tidak sedap.
  • Acid Treatment, proses menghilangkan warna dan kandungan lumpur
  • Dewaxing. proses menghilangkan parafin.
  • Deasphalting, proses untuk menghilangkan kandungan aspal.
  • Desulfurizing, proses untuk menghilangkan kandungan sulfur.


6. Tahap Blending

Blending adalah tahapan pencampuran fraksi-fraksi minyak bumi dengan bahan aditif untuk memperoleh kualitas tertentu. Dari proses inilah keluar produk-produk fraksi minyak bumi dengan kualitas yang berbeda-beda/

Contohnya untuk bensin, ada Premium, Pertalite dan Pertamax. Untuk oli pelumas, ada oli dengan grade kualitas seperti SG, SN, dan SL.

Setelah melewati enam proses diatas, masih ada proses lanjutan tapi tidak masuk ke penyulingan minyak bumi. Pengolahan paling akhir ini adalah pengolahan limbah minyak bumi, seperti proses untuk memperoleh kembali sulfur, dan proses pengumpulan nitrogen.

Hasil Pengolahan Minyak Bumi

Poduk-produk hasil olahan minyak bumi tidak hanya berbentuk bahan bakar cair, karena setelah melewati keenam proses diatas maka hidrokarbon bisa diubah menjadi produk-produk seperti ;

  • LPG, sebagai bahan bakar gas rumah tangga.
  • Bensin, sebagai bahan bakar mobil dan motor.
  • Solar, sebagai bahan bakar mesin diesel.
  • Minyak tanah, sebagai bahan bakar yang digunakan untuk rumah tangga.
  • Avgas dan Avtur, jenis bahan bakar khusus pesawat terbang
  • Parafin, sebagai bahan baku plastik.
  • Pelumas, untuk melumasi mesin.
  • Petrokimia aromatik, sebagai campuran bahan-bahan kimia.
  • Aspal, sebagai bahan baku pembuatan jalan.

5 Komponen Utama Penyusun Minyak Bumi

Komponen utama penyusun minyak bumi adalah hidrokarbon (CH). Namun, tidak hanya hidrokarbon, dalam minyak mentah (crude oil) juga tedapat campuran bahan-bahan lainnya.

Lalu apa saja ? mari kita bahas secara lengkap komposisi minyak bumi.


Komponen Penyusun Minyak Bumi


Pada artikel sebelumnya yang membahas proses pembentukan minyak bumi, sudah dijelaskan bahwa minyak bumi itu berasal dari material organik yang tertimbun didasar perairan selama jutaan tahun.

Hasilnya berupa minyak mentah yang memiliki sifat mudah terbakar. Bahan bakar minyak seperti bensin, minyak tanah, dan solar itu bukan komposisi dari minyak bumi melainkan hasil dari proses pengolahan minyak bumi.

Lalu apa saja kandungan/komposisi kimia didalam minyak mentah tersebut ?

Seperti yang dikemukakan diawal, hidrokarbon adalah komponen utama penyusun minyak bumi. Artinya sebagian besar minyak bumi disusun oleh material hidrokarbon.

Meski demikian, minyak bumi tidak disusun dari hidrokarbon saja. Ada material lain seperti oksigen, nitrogen, sulfur dan logam.

Komposisinya, bisa anda lihat pada tabel dibawah ini.

Presentase diatas bukan merupakan patokan, artinya kandungan tiap molekul itu dipengaruhi faktor lokasi penambangan dan kadalaman sumur minyak.

Hidrokarbon sendiri merupakan senyawa yang terdiri dari atom hidrogen dan karbon. Sifat utama dari hidrokarbon ini adalah mudah terbakar, sehingga bahan bakar minyak yang sering kita gunakan itu terbuat dari hidrokarbon ini.

Ada berapa jenis hidrokarbon ?

Dilihat dari jumlah atom karbonnya, senyawa hidrokarbon yang terkandung didalam minyak bumi ada banyak jenis. Contohnya seperti tabel dibawah.


Keterangan : Jenis hidrokarbon dengan 1 - 4 atom karbon mudah sekali menguap bahkan dibawah suhu 0 derajat celcius. Oleh sebab itu bentuknya berupa gas dan digunakan sebagai bahan bakar gas sepeti LPG. Jenis hidrokarbon dengan 5 - 8 atom karbon digunakan sebagai penyusun utama bahan bakar bensin, hidrokarbon dengan 9 - 16 atom karbon digunakan sebagai penyusun solar. Dan sisanya, digunakan sebagai oli (memiliki 25 atom C dalam satu molekul) dan aspal (memiliki lebih dari 35 atom C dalam satu molekul)

Kalau dilihat dari ikatan penyusunnya maka ada 4 jenis hidrokarbon yakni ;

  • Parafin atau alkana, merupakan hidrokarbon jenuh atau yang paling sederhana, dimana ikatannya akan membentuk rantai lurus. Didalam minyak bumi, ada sekitar 30 % kandungan parafin.
  • Naptena atau sikloalkana, merupakan hidrokarbon yang memiliki satu atau lebih cincin karbon pada molekul penyusunnya. Kandungannya didalam minyak bumi sekitar 40%.
  • Aromatik, merupakan jenis senyawa hidrocarbon yang tidak memiliki cincin H yang lengkap, kandungannya sekitar 15%.
  • Aspaltena, merupakan sisa-sisa dari senyawa hidrokarbon yang tidak masuk kedalam 3 kategori diatas, kandungannya juga hanya sekitar 6 %.
Bahan bakar seperti bensin diperoleh dari minyak bumi dengan cara destilasi betingkat yang memanfaatkan perbedaan titik didih masing-masing jenis minyak. Lebih jelasnya, simak 6 Jenis minyak yang diperoleh dari destilasi minyak bumi.

Mengenal 6 Jenis Minyak Bumi Beserta Kegunaannya

Ada berapa jenis minyak bumi ? dan apa saja kegunaan masing-masing minyak bumi ?

Kita tahu kalau minyak bumi itu minyak mentah alias harus diproses dulu supaya bisa digunakan. Hasil dari pengolahan minyak bumi tersebut adalah berbagai jenis bahan bakar minyak yang biasa dipakai pada kendaraan.

Lantas apa saja jenisnya ? mari kita bahas secara mendalam.

Jenis Jenis Minyak Bumi


Minyak mentah (crude oil) merupakan cairan yang terdiri dari hidrokarbon dan bahan-bahan lainnya. Supaya bisa digunakan sebagai bahan bakar, maka minyak mentah perlu diolah menggunakan metode khusus.

Baca juga : 6 Tahap Pengolahan Minyak Bumi

Metode tersebut akan membagi minyak bumi kedalam beberapa jenis, yakni

1. Bensin



Bensin merupakan salah satu bahan bakar yang paling familiar ditelinga kita karena jenis bahan bakar ini digunakan pada kendaraan roda dua maupun roda empat.

Bensin memiliki karakterisitik yang sangat mudah terbakar dan mudah menguap bahkan pada suhu rendah, kandungan bensin tediri dari isooktana dan n-heptana. Semakin tinggi kandungan isooktana (yang ditujukan melalui nilai oktan) maka kualitas bensin menjadi lebih baik.

Titik nyala bensin cukup rendah yakni -15 sampai -40 derajat celcius. Sehingga sangat cocok dipakai untuk mesin berkapasitas kecil.

Dalam proses aplikasinya, bensin akan melalui pengolahan lanjutan sebelum digunakan untuk bahan bakar kendaraan. pengolahan lanjutan tersebut menghasilkan berbagai jenis bensin seperti premium, petalite dan pertamax.

Bensin diperoleh dengan proses destilasi pada suhu sekitar 120 derajat celcius.

2. Kerosin



Kerosin adalah jenis bahan bahan bakar yang sering kita kenal sebagai minyak tanah. Dibandingkan bensin, suhu penguapan minyak tanah lebih tinggi sehingga tidak mudah menguap disuhu normal.

Sama seperti bensin, sebelum diedarkan kerosin akan mengalami pengolahan lanjutan. Tujuannya untuk mengurangi kadar belerang dan sifat korosinya serta menambahkan warna agar bisa membedakan mana minyak tanah dan mana air.

Kerosin didapat dari proses destilasi dengan suhu 150 - 200 derajat celcius.

3. Solar

Solar adalah bahan bakar kendaraan bermesin diesel. Solar memiliki karakteristik tidak mudah menguap dan memiliki sedikit ketukan. Solar digunakan karena memiliki daya pembakaran yang tinggi.

Sehingga dengan sedikit solar bisa menghasilkan daya seefektif mungkin. Ini membuatnya sangat irit dibandingkan bensin.

Solar memiliki titik nyala 40-100 derajat celcius, sehingga dalam aplikasinya sering digunakan pada mesin-mesin bersilinder besar.

Untuk destilasinya diperoleh pada suhu 250 - 300 derajat celcius.

4. Avtur



Avtur atau aviation turbine adalah bahan bakar pesawat yang menggunakan mesin turbin. Avtur pada dasarnya terbentuk dari kerosin atau minyak tanah namun diolah kembali sehingga cocok untuk jenis pembakaran turbin.

5. Avgas

Avgas atau aviation gasoline adalah bahan bakar pesawat yang menggunakan mesin pembakaran dalam seperti mesin piston. Kalau avtur dibuat dari kerosin, avgas dibuat dari bensin.

Dengan kata lain avgas ini merupakan bensin yang diolah supaya cocok untuk pembakaran mesin pesawat yang memerlukan RPM mesin super tinggi. Selain untuk pesawat, juga digunakan sebagai bahan bakar mobil balap.

6. Fuel oil



Fuel oli merupakan bahan bakar seperti oli yang digunakan untuk pembakaran mesin kapal atau mesin-mesin industri skala besar. Bahan bakar ini khusus digunakan mesin skala besar dengan RPM atau putaran mesin rendah.

Selain sebagai bahan bakar, fuel oli juga dijadikan bahan dasar untuk membuat oli atau pelumas mineral yang digunakan untuk melumasi mesin-mesin kendaraan.

Bahan bakar ini diperoleh dari destilasi dengan suhu sekitar 600 derajat.

Selain keenam jenis diatas, masih ada lagi yakni aspalt. Asphalt sendiri merupakan residu atau sisa dari proses penyulingan, dimana ketika keenam jenis minyak diatas sudah didapat maka sisanya berarti asphalt.

Bahas Lengkap 6 Proses Pembentukan Minyak Bumi

Pernahkah anda memikirkan soal minyak bumi ? bensin, solar, minyak tanah yang selama kita gunakan ini dari mana awal mulanya ?

Apa saja material-material yang membentuk minyak bumi dan bagaimana prosesnya ? akan kita bahas tuntas dalam satu artikel ini.

A. Teori Pembentukan Minyak Bumi


Secara sederhana, minyak bumi terbentuk dari bahan-bahan organic yang terkubur didasar laut dalam waktu yang lama sehingga menghasilkan gas dan cairan yang mudah tebakar.

Ada tiga teori yang menjelaskan pembentukan minyak bumi.

1. Teori Biogenetic

Pada teori biogenetik dijelaskan bahwa minyak bumi dan gas alam tebentuk dari berbagai jasad organik seperti hewan dan tumbuhan yang mengendap didasar perairan atau lumpur.

Jadi dengan kata lain, bahan bakar fosil seperti minyak itu berasal dari sisa penguraian tumbuhan atau hewan yang mati selama jutaan tahun. Pada dasar laut, ini akan menghasilkan minyak dan gas sementara pada daratan akan menghasilkan batu bara.

Teori ini dikemukakan Macquir, seorang berkebangsaan Prancir pada tahun 1758.

2. Teori Anorganik

Teori yang dikemukakan Barthelot (1866) dan Mendeleyev (1877) menyebutkan bahwa minyak bumi terbentuk dari unsur-unsur kimia yang terkandung dalam tanah dan dipengaruhi suhu dan tekanan tinggi.

3. Teori Duplex

Teori duplex menggabungkan antara teori biogenetic dan anorganik, pada teori ini menyebutkan bahwa minyak bumi dan gas alam berasal dari organisme yang terkubur didasar laut. Jadi organisme seperti hewan dan tumbuhan yang mati ini akan menumpuk kedasar laut.

Lama kelamaan akan membentuk sebuah endapan, dalam prosesnya selama jutaan tahun endapan organik tersebut akan terkubur dan terkubur oleh batuan/endapan lain. Sehingga akan meningkatkan suhu dan tekanannya.

endapan organik yang terkena suhu tinggi dalam waktu sangat lama itu akan menghasilkan bintik-bintik minyak dan gas.

Teori ini merupakan teori yang paling bisa diterima kalangan umum, sehingga menjadi referensi untuk menjelaskan darimana proses awalmulanya minyak bumi.

B. Proses Pembentukan Minyak Bumi


Untuk lebih detailnya, mari kita bahas satu persatu tahapan proses pembentukan minyak bumi berdasarkan teori duplex.

1. Organisme mati dan menuju dasar laut

Materi organik merupakan sumber energi dari minyak dan gas, kita semua tahu bahwa minyak dan gas merupakan energi dan energi tidak dapat dibuat atau dimusnahkan.

Jadi minyak bumi pada dasarnya hanya perubahan wujud energi dari energi yang terkandung didalam materi organik menjadi cairan dan gas yang mengandung hidrokarbon (mudah terbakar).

Pertanyaannya darimana materi organik yang telah mati mendapatkan energi ?

Untuk tanaman, energinya sumber energinya berasal dari matahari melalui fotosintesis sementara hewan sumber energinya berasal dari apa yang dimakan. Sehingga ketika ada tanaman atau hewan mati akan membawa residual energi yang bisa berubah menjadi wujud cair dan gas.

Materi-materi organik ini berasal dari mana saja, bisa dari ganggang yang hidup diperairan atau daun-daun pohon disekitar sungai yang terbawa hingga ke laut.

2. Organisme terkumpul dicekungan dasar laut

Materi organik tersebut akan terombang-ambing oleh arus didasar laut dan terkumpul pada sebuah cekungan didasar laut. Didalam cekungan inilah semua materi organik bemuara.

3. Tejadi proses pembentukan source rock/batuan induk

Materi organik akan terkumpul pada cekungan akibat arus bawah laut, tapi yang terkumpul didalam cekungan itu bukan cuma materi organik tapi juga batuan. Batuan dan materi organik yang terkumpul dalam satu tempat itu akan mengendap, endapan ini disebut source rock atau batuan induk.

Batuan induk memiliki kandungan karbon karena terbentuk dari batuan yang mengalami erosi dan materi organik. Batuan induk inilah bentuk awal dari pembentukan minyak bumi.

4. Batuan induk akan terkubur batuan-batuan lainnya

Dalam kurun waktu yang cukup lama, akan ada banyak batuan yang juga mengisi cekungan tersebut. Sehingga dalam kurun waktu tersebut, batuan induk akan terkubur. Semakin lama maka batuan induk akan terkubur semakin dalam dan semakin dalam.

5. Terjadi proses pemanasan batuan induk

Ketika batuan induk terkubur oleh batuan lainnya, maka proses pembentukan minyak dan gas berlangsung.

Prosesnya terjadi karena batuan induk yang mengandung karbon akan terkena panas dari inti bumi.

Ini sama saja seperti memanggang sesuatu namun dalam waktu ribuan tahun. Dimana inti bumi berperan sebagai kompornya, dan batuan diatas batuan induk akan menekan batuan induk sehingga pemanasan akan berlangsung lebih efektif.

Hasilnya, batuan induk tersebut akan berubah wujud menjadi bintik-bintik minyak dan gas alam. Minyak yang dihasilkan masih berbentuk minyak mentah (belum bisa digunakan). Semakin dalam batuan tertimbun, maka suhu pemanasan akan semakin tinggi dan itu akan menghasilkan minyak lebih efektif


Tabel diatas menunjukan hubungan kedalaman batuan induk beserta suhunya dengan jenis bahan bakar yang dihasilkan. Bisa dilihat, minyak mentah (Hijau) dihasilkan mulai suhu 40 derajat pada kedalaman 1.000 m dan akan semakin efektif saat mencapai suhu 100 derajat pada kedalaman 2.500-3.000 m.

Sementara yang berwarna cokelat, merupakan gas yang dihasilkan oleh aktifitas bakteri atau disebut biogenic metahane.

Baca pula 6 Jenis minyak bumi yang diperoleh dari minyak mentah

6. Minyak mentah menuju trap dan siap ditambang

Minyak mentah yang memiliki berat jenis lebih rendah daripada air akan bergerak keatas dan teperangkap pada batuan yang berbentuk mangkuk terbalik. Disinlah titik untuk mengebor/menambang minyak bumi.

6 Instrumen Penting Dalam Penelitian Kualitatif

Dalam melakukan pengambilan data penelitian kita mengenal instrumen penelitian. Secara umum, instrumen penelitian adalah alat bantu untuk kesuksesan proses pengambilan data entah itu menggunakan metode observasi, wawancara atau lainnya.

Lalu apa contoh instrumen yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif ? kita akan membahasnya secara detail diartikel ini.

Pengertian Instumen Penelitian


Menurut Suharsimi Arikuntoro, Instrumen penelitian merupakan alat bantu yang dipilih & digunakan oleh peneliti dalam melakukan kegiatannya untuk mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis & dipermudah olehnya.

Sementara menurut sugiyono, Instrumen penelitian adalah alat bantu yang dipilih & digunakan oleh peneliti dalam melakukan kegiatannya untuk mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis & dipermudah olehnya.

Jadi sudah jelas bahwa instrumen penelitian adalah alat bantu untuk mempermudah proses pengumpulan data.

Dalam melakukan riset kualitatif, kita tahu kedalaman data menjadi yang utama. Untuk bisa menjangkau data lebih dalam, maka seorang peneliti memerlukan alat-alat bantu baik digunakan oleh dirinya atau responden untuk mempemudah proses pengambilan data.

Lalu apa saja yang masuk kedalam instrumen penelitian ?

Tenyata instrumen ini sangat fleksibel karena dipengaruhi jenis penelitiannya. Sebagai contoh pada penelitian fenomena alam, maka memerlukan alat bantu yang dapat mengukur gejala-gejala alam. Sementara untuk riset sosial maka yang diperlukan adalah alat bantu untuk digunakan responden seperti angket/kusisioner.

Meski demikian, dibawah akan kita bahas instrumen penelitian yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif.

Contoh Instrumen Penelitian Kualitatif


1. Peneliti

Peneliti menjadi instrumen paling utama dalam penelitian kualitatif, lalu apa yang dilakukan seorang peneliti sebagai instrumen utama ?

Peneliti akan memberikan pandangan subjektifnya terhadap fokus penelitian. Dengan kata lain, dari semua data yang peneliti kumpulkan peneliti akan menyusun kesimpulan bedasarkan perspektif pribadinya.

Oleh sebab itu, saat akan melakukan penelitian kualitatif peneliti harus divalidasi. Karena menurut Sugiyono, Peneliti kualitatif sebagai human instrumen berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya.

Sehingga harus divalidasi akan kemampuan peneliti dalam kemampuannya memahami metode penelitian.

2. Panduan interview

Untuk peneliti yang menggunakan wawancara sebagai metode pengumpulan datanya, maka peneliti perlu menyusun interview guide atau panduan wawancara yang digunakan untuk memperlancar proses wawancara.

Panduan ini tidak digunakan untuk responden, karena responden yang diwawancarai akan menjawab sesuai apa yang ditanyakan peneliti.

Jadi panduan ini digunakan oleh peneliti itu sendiri supaya tetap on-track dalam mendalami sebuah pernyataan saat wawancara. Panduan ini berisikan kata apa yang harus dibuka untuk membuka wawancara, pertanyaan pembuka dan arah dari wawancara.

Meski demikian, ada beberapa peneliti yang tidak memerlukan panduan ini. Alasannya, peneliti tersebut sudah melakukan penelitian tersebut berulang kali sehingga sudah berpengalaman.

3. Angket/kuisioner

Angket ini sebenarnya hampir sama dengan wawancara tapi angket tidak mempertemukan secara langsung antara responden dan peneliti. Angket ini berperan  untuk menghubungkan antara peneliti dengan responden sehingga bisa dikatakan alat bantu penelitian atau instrumen penelitian.

Angket ini memang banyak digunakan pada penelitian kuantitatif, tapi bisa juga digunakan pada penelitian kualitatif dengan syarat peneliti harus memahami diluar kepala tentang apa yang sedang ditelitinya.

Karena peneliti tidak bisa mendalami secara bebas sepeti halnya saat wawancara langsung. Angket pada penelitian kualitatif umumnya berisi pertanyaan terbuka yang dijawab dengan uraian panjang oleh responden.

4. Alat tulis

Mungkin tidak perlu dijelaskan panjang lebar, alat tulis ini tidak mesti buku besar tapi juga buku harian atau lembar-lembar yang dapat mencatat data.

Tapi berbeda dengan alat bantu lainnya, alat tulis ini berfungsi pada moment-momen yang tidak diduga. Jadi seorang peneliti harus selalu membawa buku catatan dan bolpoinnya kapanpun saat melakukan observasi.

5. Alat rekam



Alat rekam juga sama seperti alat tulis, dimana fungsinya untuk merekam kejadian-kejadian tak terduga. Alat rekam juga bisa digunakan untuk merekam kejadian yang direncanakan seperti eksperimen atau wawancara.

6. Dokumen/literatur



Dalam melakukan penelitian kualitatif, ada metode pengumpulan data yang bernama studi literatur. Yakni dengan mempelajari dokumen-dokumen atau literatur yang terkait fokus penelitian sebagai bahan pembanding atau mendalami apa yang sedang diteliti.

Baca pula 5 Teknik Pengumpulan Data Kualitatif Yang Banyak Digunakan + Penjelasan

Jadi lebih simpelnya, dokumen ini bisa membantu peneliti menemukan data-data penelitian. Sehingga masuk ke instrumen penelitian.

Selain keenam contoh diatas, masih ada banyak lagi contoh instrumen penelitian seperti buku tes, software survey (apabila dilakukan online), alat-alat ukur.

5 Teknik Pengumpulan Data Kualitatif Beserta Penjelasannya

Dalam melakukan penelitian kualitatif, seorang peneliti harus mengambil data dari apa yang akan diteliti. Untuk mendapatkan data-data ini maka dikenal teknik pengumpulan data kualitatif.

Lalu seperti apa tekniknya dan ada berapa macam teknik pengumpulan data ? kita akan membahasnya secara mendalam diartikel ini.

Seperti yang kita bahas sebelumnya, metode penelitian kualitatif itu ada beberapa macam yang masing-masing memiliki perbedaan. Sehingga untuk mengumpulkan datanya juga ada beberapa teknik.

1. Teknik Studi literatur



Teknik pertama adalah studi literatur atau studi dokumen, seperti namanya teknik ini berfokus pada sumber tertulis seperti literatur, dokumen atau peninggalan apapun yang terkait obyek penelitian.

Meskipun demikian, seperti yang dikemukakan sejarawan dari University College London, G.J Renier. Dokumentasi ini memiliki 3 arti,

  • Dalam arti luas dokumentasi bisa diartikan semua sumber baik tertulis maupun lisan.
  • Dalam arti sempit, dokumentasi diartikan sumber tertulis saja.
  • Dalam arti khusus, dokumentasi meliputi surat-surat resmi dan surat negara seperti surat perjanjian, undang undang konsesi dan ghibah.


Sehingga bisa disimpulkan, studi literatur adalah aktifitas untuk mempelajari beberapa dokumen baik yang tertulis, audio video maupun karya monumental untuk memperoleh data penelitian.

Dalam sebuah penelitian, studi literatur bisa dijadikan pelengkap dari observasi dan wawancara, bahkan seperti yang dikemukakan sugiyono bahwa kredibilitas hasil penelitian akan semakin tinggi apabila melibatkan studi literatur.

2. Teknik Wawancara Mendalam


img by themuse.com

Wawancara adalah teknik mendapatkan informasi dari narasumber dengan metode bertanya langsung. Pada penelitian kualitatif, metode yang digunakan adalah teknik wawancara mendalam (in-depth interview).

  • Wawancara mendalam digunakan untuk memperoleh keterangan secara detail dan spesifik dari narasumber yang terlibat langsung dengan apa yang sedang diteliti. Teknik wawancara sendiri dibagi menjadi tiga jenis,
  • Wawancara terstruktur, yakni sebuah wawancara dimana peneliti atau pewawancara sudah mempersiapkan daftar pertanyaan.
  • Wawancara bebas, merupakan wawancara dimana pewawancara bebas menanyakan apapun tanpa mempersiapkan daftar pertanyaan.
  • Wawancara semi-terstruktur, hampir sama dengan wawancara terstruktur dimana pewawancara menyiapkan daftar pertanyaan namun tiap poin pertanyaan pewawancara bebas menggali lebih dalam dengan mengajukan pertanyaan yang tidak ada pada daftar.


Dalam melakukan wawancara, peneliti tidak hanya fokus pada jawaban responden tapi juga memperhatikan aspek psikis responden seperti intonasi, kecepatan berbicara, tatapan mata dan kepekaan non verbal.

3. Teknik Observasi



Secara sederhana, observasi adalah teknik pengumpulan data dengan memperhatikan secara langsung situasi obyek penelitian. Observasi biasanya dilakukan diawal penelitian untuk menggambarkan secara langsung situasi/kondisi apa yang diteliti untuk menentukan langkah berikutnya.

Hasil dari observasi berupa ruang/tempat, waktu, pelaku, obyek, kegiatan, perilaku, dan rasa. Salah satu manfaat observasi adalah peneliti akan mengetahui gambaran umum dari penelitian yang sedang dijalani. Sehingga mudah untuk menentukan langkah berikutnya.

Observasi sendiri memiliki 2 jenis ;

  • Observasi partisipatif, yakni aktifitas untuk mengamati dimana peneliti/pengamat melebur atau membaur dengan kelompok masyarakat yang diamati. Pada observasi ini, peneliti tidak hanya melihat tapi juga bisa merasakan.
  • Observasi non-partisipatif, yakni aktifitas untuk mengamati dimana peneliti/pengamat tidak membaur dengan kelompok yang diteliti. Dalam observasi ini, peneliti akan menciptakan jarak dan hanya melakukan tugasnya untuk mengamati apa yang dilihat. sehingga peneliti tidak merasakan aspek psikis/emosional, namun dalam segi objektifitas ini bisa lebih baik.
Lebih mendalam : Metode Observasi, Pengertian, Jenis, Tahapan dan Contohnya

4. Teknik Focus Group Discussion

Focus group discussion(FGD) adalah sebuah kelompok diskusi yang terfokus untuk memetakan masalah-masalah yang dihadapi kelompok tersebut. Format teknik ini, peneliti akan mengajak suatu kelompok (biasanya terdiri dari 4 - 5 orang) untuk berdiskusi.

Hasil dari diskusi tersebut, peneliti bisa lebih memahami letak permasalahan sebenarnya. Sehingga akan sangat membantu untuk penentuan langkah berikutnya.

Teknik ini memang mirip dengan wawancara, tapi yang membedakannya FGD memiliki suasana lebih santai mirip ngobrol dengan teman bahkan kadang ditemani camilan. Dalam melakukan FGD, peneliti hanya akan memahami sambil ikut berdiskusi tidak untuk menjadi moderator.

Karena apabila interaksi antara informan A dengan lainnya diatur oleh peneliti maka grup ini tidak lagi FGD melainkan Focus Group Interview( FGI). FGD adalah diskusi yang interaksinya berjalan secara natural antar orang dalam kelompok tersebut.

5. Teknik Angket/kuisioner

Teknik kuisioner pada dasarnya sama seperti wawancara mendalam terstruktur, namun pada kusinioner peneliti tidak harus bertatap muka secara langsung. Sebagai gantinya, peneliti akan menuliskan daftar pertanyaan dalam sebuah kertas lalu dibagikan ke responden.

Karena tidak terjadi tatap muka, maka ada hal yang harus diperhatikan demi kesuksesan pengumpulan data ini. Seperti, petunjuk pengisian harus jelas, pemilihan kata pada tiap pertanyaan harus dipahami oleh umum, kolom jawaban harus disesuaikan dengan pertanyaan.

Salah satu kelebihan teknik ini, bisa menyingkat waktu apalagi kalau ada lebih dari satu responden. Tapi kelemahannya, peneliti tidak bisa menggali lebih dalam diluar pertanyaan yang dituliskan. Sehingga tidak dianjurkan untuk pengambilan informasi yang memerlukan pemahaman mendalam.

Teknik Pengumpulan Data Observasi : Pengertian, Metode dan Contohnya

Observasi menjadi salah satu metode yang disukai peneliti dalam mengumpulkan data. Lantas, observasi itu seperti apa ? dan bagaimana cara melakukan observasi ? simak penjelasannya dibawah,

Dalam melakukan penelitian ilmiah, kita harus melakukan pengumpulan data terlebih dahulu. Untuk mengumpulkan data pada penelitian kualitatif, ada 5 teknik, anda bisa baca selengkapnya pada artikel berikut ; 5 Teknik Pengumpulan data pada penelitian kualitatif

Dari kelima teknik pengumpulan data, observasi menjadi teknik yang tidak boleh dilupakan. Pasalnya, observasi akan menentukan gambaran terkait obyek yang diteliti dan dapat membantu menentukan langkah berikutnya.

Pengertian Pengumpulan Data Observasi


Menurut Riduan, Observasi adalah teknik pengumpulan data, dimana peneliti melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan.

Sementara menurut Margono, observasi digunakan untuk melihat dan mengamati perubahan fenomena–fenomena sosial yang tumbuh dan berkembang yang kemudian dapat dilakukan perubahan atas penilaian tersebut, bagi pelaksana observer untuk melihat obyek moment tertentu, sehingga mampu memisahkan antara yang diperlukan dengan yang tidak diperlukan.

Secara sederhana observasi adalah pengamatan langsung dilapangan.

Apa saja yang diamati ?

1. Space, yakni ruang/tempat/lokasi obyek yang diteliti
2. Actors, orang-orang yang terlibat.
3. Activity, aktifitas orang-orang yang terlibat.
4. Object, benda-benda yang masih berhubungan dengan apa yang diteliti
5. Act, tindakan-tindakan tertentu.
6. Event, kejadian atau peristiwa yang terjadi seputar apa yang diteliti.
7. Time, urutan waktu setiap kejadian.
8. Goal, tujuan orang-orang melakukan tindakan-tindakan (yang diamati).
9. Feel, emosi yang dirasakan oleh aktor.

Jadi, yang diamati saat melakukan observasi adalah semuanya yang bisa diamati tidak hanya oleh mata atau telinga tapi juga hati (feel).

Manfaat melakukan observasi salah satunya peneliti akan memahami konteks akan apa yang ditelitinya secara menyeluruh. Misal apabila akan meneliti sebuah perkara maka berkat observasi peneliti bisa memahami gambaran dari masalah tersebut dari apa perkaranya, siapa pelakunya, siapa korbannya, kapan dan dimana yang dibuktikan lewat gambar/tulisan.

Maka setelah memahami konteks akan apa yang ditelitinya, peneliti akan lebih mudah mendalaminya, peneliti tahu siapa yang harus di wawancara terlebih dahulu.

Contoh dan Jenis Observasi


Secara umum ada dua metode dalam observasi, yakni observasi partisipasi dan non-partisipasi.

1. Observasi Partisipasi



Observasi partisipasi adalah pengamatan yang dilakukan dimana peneliti/observer ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang dilakukan kelompok yang diteliti. Partisipasi disini artinya peneliti ikut melakukan aktifitas/kegiatan yang sedang dilakukan kelompok yang diteliti.

Jadi meski sedang mengamati, peneliti tidak hanya menonton tapi juga ikut membaur.

Metode ini cocok untuk mengamati hal-hal yang berkaitan dengan aspek psikis seperti kesan, pemaknaan, apa yang dirasakan. Namun, dinilai kurang obyektif. Pasalnya, ketika peneliti melakukan observasi partisipasi, orang yang diteliti atau partisipan umumnya mengetahui bahwa mereka sedang diteliti.

Sehingga akan ada reaksi dimana para partisipan bisa menunjukan kesan lebih baik dari biasanya. Kesan yang dilebih-lebihkan ini membuat hasil observasi kurang akurat.

Contoh observasi partisipasi adalah ketika meneliti adat/tradisi pada kelompok masyarakat tertentu. Dalam hal ini, peneliti tidak hanya menonton tapi juga menjadi bagian dari kelompok tersebut.

2. Observasi Non-partisipasi



Artinya, peneliti atau observer tidak ikut berpartisipasi pada aktifitas yang dikerjakan kelompok yang diteliti, dengan kata lain peneliti hanya menempatkan dirinya sebagai penonton.

Berbeda dengan metode partisipasi, pada metode ini pengamatan dilakukan secara diam-diam agar partisipan tidak menyadari bahwa mereka sedang diamati. Sehingga akurasi data bisa terjamin.

Meski demikian, perlu skill dan pengetahuan yang lebih dalam melakukan metode ini karena lebih sulit mendapatkan data apabila hanya mengandalkan pengamatan.

Metode ini biasa dipakai untuk meneliti hal-hal yang berhubungan dengan sikap dan perilaku negatif. Contohnya penelitian tentang perilaku membuang sampah sembarangan siswa di sekolah tertentu.

Bahkan dalam konteks yang ekstrem, metode ini juga dilakukan untuk meneliti kelompok kriminal.

Tahapan Melakukan Observasi


Sebenarnya tidak ada aturan baku yang mengatur bagaimana observasi dilakukan, tapi agar observasi berjalan lancar pasti ada prosedurnya.


  • Tentukan apa dan tempat yang diteliti, yang paling pertama anda tentunya harus sudah tahu mau meneliti apa dan dimana.
  • Survey lokasi untuk mendapatkan gambaran umum, lakukan pengamatan awal untuk mengetahui gambaran tentang apa yang akan anda teliti.
  • Cari referensi sebanyak mungkin, setelah gambaranya sudah anda ketahui cari referensi sebanyak mungkin yang masih berhubungan dengan obyek penelitian.
  • Susun point-point yang akan anda amati, setelah anda mempelajari obyek penelitian maka anda sudah tahu point-point apa saja yang akan diamati. Point ini tidak perlu sedalam mungkin, cukup tulis garis besarnya saja nanti bisa didalami saat dilapangan.
  • Siapkan instrumen penelitian yang diperlukan terutama untuk mencatat hasil observasi seperti alat tulis dan kamera.
  • Mulai kumpulkan fakta dan data
  • Catat hasil observasi


Cara Memperoleh Hasil Observasi Berkualitas

Untuk mendapatkan hasil observasi yang berkualitas ada hal-hal yang perlu anda perhatikan antara lain ;

1. Lakukan pengamatan awal dengan seksama

Ini masuk ke tahap persiapan sebenarnya, sebelum anda memulai observasi lakukan pengamatan awal atau pre-observation tujuannya pun bermacam-macam.

Seperti ;

  • Menggambarkan situasi lokasi penelitian
  • Menentukan orang-orang yang perlu ditemui terlebih dahulu
  • Menghitung potensi reaksi partisipan untuk menentukan apa akan menggunakan metode partisipasi atau non-partisipasi.


Khusu yang terakhir cukup penting karena potensi reaksi ini akan menyebabkan hasil observasi tidak akurat. Jangan sampai yang harusnya dilakukan dengan metode non-partisipasi malah dilakukan dengan metode partisipasi.

2. Jangan terlalu menonjolkan diri anda sebagai peneliti

Ketika anda menggunakan metoda partisipasi dimana orang yang sedang diteliti tahu bahwa dirinya sedang diteliti anda harus menahan diri anda untuk membuka semua identitas sebagai peneliti.

Kalau membuka diri untuk identitas pribadi itu tidak masalah, tapi usahakan sembunyikan identitas sebagai peneliti. Buat seolah-olah penelitian anda tidak penting. Sehingga para partisipan tidak terlalu memikirkannya.

Ini bertujuan supaya para partisipan beraktifitas secara natural sehingga hasil observasi bisa lebih akurat.

3. Gunakan data yang bervariasi

Data-data observasi umumnya didapat dari apa yang dilihat, dan didengar. Tapi jangan fokus pada sektor itu saja, amati juga adanya perubahan emosi baik dalam diri anda dan orang lain.

Selain itu, observasi untuk penelitian kualitatif ini mengutamakan kedalaman data sehingga setiap point yang diamati harus anda dalami secara spesifik. Tentukan juga apa perlu dilakukan tahapan wawancara atau cukup dengan observasi untuk setiap pointnya.