-->

Angin Lembah dan Angin Gunung, Apa sih Bedanya ?

Kalian mungkin pernah mendengar istilah angin lembah dan angin gunung.

Sesuai namanya, angin ini bergerak dari puncak ke lembah atau sebaliknya.

Disebut angin gunung apabila bergerak dari puncak gunung ke lembah, dikatakan angin lembah apabila angin bergerak naik ke puncak.

Lalu, apa yang menyebabkan angin dapat bergerak naik atau turun gunung ?

Nah, artikel ini akan menjelaskan secara rinci.

img trekpapua.com

Kalau anda sudah membaca artikel kami sebelumnya tentang proses terbentuknya angin, anda akan paham bahwa angin adalah udara yang bergerak.

Udara dapat bergerak karena ada perbedaan tekanan pada antar wilayah.

Dalam kasus angin gunung dan angin laut, wilayah ini mencakup puncak gunung dan lembah atau daerah cekungan.

Dua wilayah ini, letaknya cukup berdekatan namun pada waktu tertentu bisa muncul perbedaan tekanan udara yang signifikan.

Lalu apa yang menyebabkan tekanan udara di puncak dan lembah berbeda ?

Ternyata perbedaan tekanan udara disebabkan karena waktu penyinaran matahari pada wilayah antara puncak dan lembah juga beda.

Emang, apa hubungannya sinar matahari sama tekanan udara ?

Jadi saat molekul udara dipanaskan, udara akan mengembang (ukuran jadi tambah besar dengan berat tetap).

Saat kondisi mengembang, molekul udara lebih mudah melayang.

Sehingga udara mampu bergerak keatas melawan gravitasi. Ini seperti balon udara, balon udara yang berisi udara panas mampu bergerak keatas.

Karena memang sifat udara panas itu bergerak ke atas.

Ketika banyak molekul bergerak keatas, maka hanya ada sedikit molekul udara yang tersisa di dekat permukaan.

Tekanan udara dikatakan rendah, apabila hanya sedikit molekul udara mengisi sebuah ruang.

Jadi, bisa disimpulkan semakin panas daerahnya maka tekanan udara semakin rendah.

Sekarang kita ke angin lembah.

Angin lembah terjadi ketika suhu pada lembah lebih dingin daripada puncak gunung.

Kapan kondisi ini muncul ?

Saat pagi hari, ketika matahari muncul.

Matahari akan menyinari daerah puncak lebih dulu daripada daerah lainnya, sehingga daerah puncak suhunya lebih cepat panas dipagi hari.

Sementara pada lembah, tidak mendapatkan sinar matahari pagi hingga menjelang siang karena ya memang lembah ini daerah cekungan sehingga tertutup oleh bukit dan puncak gunung.

Hal inilah yang membuat angin mampu berhembus dari lembah naik ke puncak gunung.

Angin lembah akan berhembus hingga daerah lembah sudah mendapatkan sinar matahari cukup.

Yang kedua adalah angin gunung.

Angin gunung berhembus dari puncak gunung turun ke lembah.

Ini terjadi karena ketika matahari terbenam, suhu dipuncak gunung akan turun secara drastis.

Bahkan penurunan suhu pada puncak biasa melebihi penurunan suhu di lembah.

Saat suhu udara turun, molekul udara akan mengempis dan udara cenderung bergerak kebawah karena gaya gravitasi.

Daerah puncak yang lebih tinggi akan mengalami penumpulan molekul udara lebih dulu.

Akibatnya densitas udara dipuncak lebih tinggi daripada di lembah, ini membuat udara mengalir menuruni lereng gunung.

Angin gunung akan berhenti ketika densitas udara di puncak dan lembah hampir setara.

Angin Darat dan Angin Laut, Apa Sih Bedanya ?

Sesuai judul yang anda baca, angin darat dan angin laut adalah angin yang bergerak dari laut kedarat atau sebaliknya.

Perbedaannya, kalau angin berhembus dari laut kedarat maka itu namanya angin laut.

Sementara angin darat berhembus dari darat ke laut.

Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa angin bisa bergerak baik dari laut atau dari darat ? Faktor apa yang mempengaruhi angin sehingga angin bergerak dari laut atau dari darat ?

Nah kita bakal membahasnya secara tuntas.


Sebelumnya kita telah membahas bagaimana angin itu terbentuk.

Secara sederhana, angin adalah udara yang bergerak. Pergerakan udara ini dipicu oleh perbedaan tekanan yang signifikan pada dua wilayah.

Perbedaan tekanan pada dua wilayah tersebut, dapat terjadi karena perbedaan suhu udara pada dua wilayah tersebut.

Nah perbedaan suhu udara dapat terjadi karena dua wilayah tersebut menerima intensitas matahari yang juga berbeda.

Sehingga angin akan bergerak dari daerah dingin ke daerah yang lebih panas.

Kembali ke Angin Darat dan Angin Laut

Jadi, pada kasus angin darat dan angin laut, dua wilayah ini merupakan daratan dan lautan.

Ketika suhu daratan lebih rendah dari laut, maka udara akan bergerak dari daratan ke laut.

Dan ini kita namakan angin darat.

Namun saat suhu udara di lautan lebih rendah dari daratan maka udara akan bergerak dari laut ke darat, atau kita kenal sebagai angin darat.

Sekarang pertanyaannya, apa yang menyebabkan salah satu daerah bisa lebih dingin dari daerah lainnya ? Toh, daratan dan lautan ini juga berdekatan.

Seperti yang telah saya singgung, perbedaan suhu udara bisa muncul karena perbedaan intensitas matahari.

Tapi khusus untuk wilayah darat dan laut yang berdekatan, perbedaan suhu muncul karena kedua wilayah ini memiliki sifat konduktifitas yang berbeda.

Jadi, daratan itu lebih mudah menerima panas juga lebih mudah menerima dingin daripada daerah perairan.

Sehingga, ketika sore menjelang malam hari ketika matahari sudah terbenam daerah lautan masih hangat. Sementara suhu udara pada daratan langsung turun.

Hal itulah yang memicu angin darat dapat berhembus, angin ini akan berhembus hingga suhu udara pada lautan sudah dingin.

Kemudian ketika matahari terbit. Suhu di daratan langsung hangat sementara suhu udara pada laut masih dingin meskipun mendapatkan sinar matahari dengan intensitas yang sama.

Karena hal itulah angin dapat berhembus dari laut ke darat atau kita kenal sebagai angin laut.

Apa kegunaan angin darat dan angin laut ?

Angin darat dan angin laut sangat berguna untuk nelayan konvensioanal yang masih menggunakan perahu layar.

Nelayan memanfaatkan angin darat di malam hari untuk melaut, dan memanfaatkan angin laut di pagi hari untuk pulang.

Bagaimana Proses Terbentuknya Kabut ?


Saat kita melintasi daerah pegunungan di malam hingga pagi hari, kita sering menemukan kabut yang kadang mengganggu jarak pandang kita.

Tapi anda penasaran nggak sih, kabut ini sebenarnya apa dan bagaimana kabut bisa tiba-tiba muncul ?

Nah artikel ini akan menjelaskan secara tuntas proses pembentukan kabut.

img flickr.com

Kabut adalah awan di dekat permukaan

Jadi, kabut itu bisa dibilang seperti awan. Tapi bedanya, kabut itu ada didekat permukaan sementata awan terbentuk di langit.

Kenapa saya bilang kabut itu seperti awan ?

Karena baik awan atau kabut sama-sama tersusun dari tetesan air dengan ukuran yang sangat mikro.

Tetesan air ini berasal dari molekul air yang terkandung di udara yang mengalami pendinginan.

Jadi, kalau kita mempelajari bagaimana hujan itu terjadi, sebenarnya prosesnya hampir sama.

Dimulai ketika panas matahari menyinari daerah perairan. Maka suhu udara sekitar perairan tersebut naik, dan beberapa molekul air yang ada dipermukaan juga menguap.

Ini namanya proses evaporasi, saat proses ini terjadi, udara yang suhunya meningkat akan lebih mengembang sehingga udara tersebut mampu menampung lebih banyak molekul air dalam bentuk uap.

Jadi, air yang menguap itu ditampung oleh udara yang sudah mengembang hingga kondisinya jenuh. sehingga uap air mampu berpindah bersama udara.

Udara jenuh merupakan sebutan bagi udara yang menyimpan uap air hingga batas maksimalnya. Jadi misal suhu udara ini 30 derajat celcius, maka uap air yang terkandung sekitar 30 gr/m3.

Nah, selanjutnya udara yang berisi uap air tersebut mengalami pergerakan.

Ketika udara hangat tersebut melewati daerah yang bersuhu rendah, khususnya dipegunungan atau dimalam hari.

Suhu udara otomatis turun, sementara saat suhu udara turun, udara akan mengempis sehingga daya tampung airnya juga turun.

Udara dengan suhu 20 derajat celcius hanya mampu menampung 17 gr/m3 uap air.

Jadi, saat udara menjadi dingin ada uap air yang keluar dari udara. Uap air yang keluar ini tidak lagi berbentuk uap tapi sudah berbentuk tetesan air dengan ukuran yang bervariasi.

Apabila ukuran tetesan sekitar 0.5 mm, maka itu akan menjadi embun. Kalau ukuran tetesannya super mikro, maka tetesan air tersebut tidak akan jatuh kebumi dan dapat melayang seperti debu.

Tetesan air yang melayang di dekat permukaan tanah inilah yang kita kenal sebagai kabut.

Jadi kesimpulannya,
  • kabut adalah tetesan air yang ukurannya sangat kecil sehingga mampu melayang diudara.
  • Kabut hanya terbentuk ketika udara hangat yang jenuh berada di wilayah bersuhu dingin, semakin besar perbedaan suhunya maka semakin besar tebal pula kabut yang terbentuk.

Kabut akan hilang, ketika suhu udara disekitar kabut naik. Suhu udara yang naik, meningkatkan daya simpan airnya. Jadi tetesan air pada kabut dapat kembali terserap oleh udara sehingga kabut dapat menghilang.

Itulah sebabnya, kabut sering terjadi diwilayah pegunungan pada dini hari hingga siang hari.

Proses Terbentuknya Angin : Ternyata ini yang membuat angin dapat terbentuk

Kalian pastinya pernah dong liat anak-anak main layangan. Layang-layang itu dapat terbang karena ada angin kan. Tapi pernah nggak sih kalian bertanya-tanya, angin itu datangnya dari mana ? dan bagaimana angin itu bisa terbentuk ?

Nah di artikel ini kita bakal belajar nih, tentang proses terbentuknya angin.

img ayobandung.com


Kalau kita cek di wikipedia, angin adalah aliran udara dalam jumlah besar yang diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga karena adanya perbedaan tekanan udara. Agak panjang yah, okeh kita sederhanakan saja angin adalah udara yang bergerak.

Pertanyaannya, kenapa udara bisa bergerak ?

Ternyata ada dua sebab, sebab pertama karena udara dipaksa bergerak. Caranya dengan mengibaskan kipas angin. Yang kedua udara dapat bergerak secara alami karena ada perbedaan tekanan udara.

Nah angin yang dipakai untuk bermain layangan itu termasuk angin alami, artinya angin ini terbentuk karena perbedaan tekanan udara.

Sekarang, mekanisme terbentuknya angin. Nggak mungkin dong, angin tiba-tiba ada tanpa proses yang mendahuluinya ?

Jadi Prinsip terbentuknya angin itu seperti ini, udara memiliki sifat untuk bergerak ke tekanan yang lebih rendah. Contohnya gampang, anda tahu ban motor kan. Apa yang terjadi ketika kita pencet niple ban motor ?

Udara dari dalam ban mengalir keluar, aliran udara tersebut terjadi karena tekanan udara didalam ban lebih tinggi dibandingkan tekanan udara diluar ban.

Sekarang mari aplikasikan pada angin.

Angin atau udara bergerak ini terjadi ketika dua wilayah memiliki tekanan udara berbeda. Perbedaan tekanan ini disebabkan karena perbedaan intensitas atau waktu penyinaran matahari.

Jadi, misal kita punya dua wilayah A dan B. wilayah A tersinari oleh matahari, sementara wilayah B tidak mendapatkan sinar matahari.

Pada kondisi ini, suhu udara pada wilayah A tinggi sementara pada wilayah B dingin. Sifat udara apabila dipanaskan akan memuai, ketika udara memuai berat jenisnya menjadi lebih ringan sehingga udara bergerak naik ke atmosfer. Karena banyak molekul udara pada wilayah A bergerak naik, maka hanya menyisakan sedikit molekul udara didekat permukaan. Kondisi ketika hanya ada sedikit molekul udara yang mengisi sebuah ruang bisa disebut bertekanan rendah.

Sementara pada wilayah B yang dingin, udara justru mengempis. Berat jenisnya juga bertambah berat sehingga molekul udara dari atas turun dan berkumpul didekat permukaan. Sehingga posisi molekul udara saling berhimpitan. Kondisi dimana banyak molekul udara mengisi sebuah ruang disebut juga bertekanan tinggi.

Karena terdapat perbedaan tekanan udara antara wilayah A dan B, maka molekul udara dari wilayah B bergerak ke wilayah A. pergerakan udara secara horizontal inilah yang kita sebut sebagai angin.

Lalu diatmosfer pun demikian, tekanan udara di atmosfer wilayah A lebih tinggi karena udara dari bawah bergerak keatas. Sementara atmosfer wilayah B bertekanan rendah karena udaranya pada turun ke permukaan. Sehingga udara dari atmosfer di wilayah A bergerak ke atmosfer diwilayah B. terjadilah sebuah putaran angin, sehingga angin itu terus bergerak selama perbedaan tekanan itu masih terjadi.

Begini Proses Terjadinya Hujan

Sebagai negara tropis, hujan sudah menjadi fenomena yang wajar di negara kita. Tapi pertanyaanya, apa anda tahu bagaimana hujan ini dapat terjadi ?

Tenyata, dibalik hujan ada proses yang rumit, yang tentunya menarik untuk kita pelajari.


Hujan sendiri, ternyata salah satu tahapan dari siklus air di bumi ini. Air yang kita pakai untuk minum dan mandi itu tidak diam disatu tempat saja tapi mengalami perpindahan.

Contohnya, kita minum dari air pdam. Air ini sumbernya dari gunung yang lebih tinggi dari rumah kita. Logikanya, kalau air dari gunung terus di distribusikan ke bawah lama-lama habis dong air digunungnya. Tapi kenyataannya, air di gunung selalu ada. Ternyata air ini mengalami siklus yang membuat air dari laut atau danau bisa balik ke gunung melalui hujan atau kabut. Siklus ini kita kenal sebagai siklus air.

Ada 4 tahapan supaya siklus air bisa terjadi

Evaporasi, atau penguapan air.

Kondensasi atau pengembunan air

Adveksi, atau pergerakan awan

Presipitasi, atau tetesan air yang kita kenal sebagai hujan.

Jadi secara sederhana, siklus ini terjadi ketika air dari permukaan bumi menguap, air yang menguap ini kemudian mengalami kondensasi di atmosfer sehingga membentuk awan. Awan ini terbawa oleh angin ke daerah pegunungan, Saat kondisi awan sudah jenuh, air yang merupakan isi dari awan jatuh ke permukaan bumi dalam bentuk hujan.

Nah selanjutnya, kita akan mendalami tahapan-tahapan dalam siklus hujan secara lebih rinci.

1. Tahap pertama adalah evaporasi.

Secara sederhana, evaporasi adalah proses menguapnya air yang ada dipermukaan bumi. Penguapan ini terjadi karena panas yang dipancarkan oleh sinar matahari.

Saat terjadi penguapan, air yang ada pada permukaan laut atau danau berubah bentuk menjadi uap. Secara alami, uap air bersuhu lebih tinggi ini akan bergerak naik sampai pada ketinggian tertentu.

Jadi pada tahap ini, syarat yang diperlukan adalah panas matahari. Panas matahari ini memiliki dua peran penting, pertama mengubah air menjadi uap melalui proses pemanasan, kedua membuat uap air bergerak naik dengan memanaskan udara disekitar uap air.

2. Tahap kedua adalah tahap kondensasi

Secara sederhana, kondensasi berarti pengembunan yang mengubah uap air menjadi tetesan cair. Tetesan cair ini tidak berbentuk seperti cairan, tapi embun mikro seperti kabut, yang mengambang di langit. Kumpulan embun mikro ini selanjutnya kita sebut sebagai awan.

Tapi pertanyaannya, mengapa uap air bisa mengalami pengembunan ?

Itu terjadi karena saat uap air berada di wilayah bersuhu rendah, suhu uap air akan turun dan wujudnya kembali menjadi cair. Pengembunan ini terjadi di langit, karena semakin tinggi tempatnya, maka suhunya semakin rendah. Dengan kata lain, setelah air mengalami evaporasi, pada ketinggian tertentu uap tersebut mengalami proses pendinginan yang mengubah bentuknya kembali menjadi cair.

Lalu mungkin hal yang masih janggal, mengapa tetesan cair itu tidak jatuh setelah terjadi pengembunan ?

Ternyata, ada dua faktor

Pertama, ukuran tetesan cair ini sangat kecil seperti debu. Kalau anda pernah melihat pancaran matahari yang masuk ke jendela. Anda akan melihat debu-debu beterbangan tanpa terpengaruh gaya gravitasi. Awan juga begitu, tetesan cair pembentuk awan ukurannya sangat kecil sehingga mampu mengambang di udara.

Faktor kedua, adanya gerakan vertikal ke atas. Gerakan yang dimaksud adalah udara yang bergerak naik karena terpengaruh panas matahari. Jadi, saat matahari terik, suhu udara juga naik. Secara alami, udara akan bergerak ke area yang suhunya lebih rendah. Salah satu area yang memiliki suhu lebih rendah itu daerah yang lebih tinggi. sehingga udara akan bergerak naik yang juga membantu menahan awan agar tidak jatuh.

3. Tahap ketiga adalah adveksi

Pada tahap ini, awan-awan yang terbentuk karena kondensasi uap air, bergerak. Angin adalah pengaruh paling signifikan yang menyebabkan awan dapat bergerak. Umumnya, awan bergerak ke daerah yang memiliki tekanan udara lebih rendah seperti di pegunungan. Sehingga, awan yang biasanya terbentuk di daerah lautan bergerak ke arah pegungungan. Dan ini juga menjadi alasan mengapa daerah pegunungan itu lebih sering hujan.

Namun, adveksi kadang juga tidak terjadi pada siklus hujan. Bisa saja, sebelum awan bergerak ke daerah bertekanan rendah, awan tersebut sudah jenuh akibatnya hujan turun di daerah pesisir pantai atau bahkan hujan langsung terjadi di daerah laut.

4. Tahap terakhir adalah presipitasi

Saat uap air mengalami pendinginan di atmosfer, awan akan terbentuk. Awan ini selanjutnya menjadi zona dingin, sehingga dapat menarik uap air disekitarnya. Akibatnya, awan menjadi semakin besar dan ukuran tetesan cair awan juga semakin membesar. Ketika ukuran tetes cair awan semakin besar, tetesan tersebut juga bertambah berat. Akibatnya, tetes cair yang awalnya mengambang diudara, jatuh ke permukaan bumi.

Tetesan air yang jatuh ini selanjutnya kita sebut sebagai presipitasi atau hujan.

Jadi dari penjelasan diatas, bisa kita tarik kesimpulan.

Pertama, awan dapat terbentuk karena proses kondensasi air yang menguap di siang hari. Namun, tidak semua awan menjadi hujan, karena hujan hanya terjadi ketika ukuran tetesan air mencapai 0.5 milimeter.

Kedua, alasan mengapa hujan lebih sering turun di dataran tinggi. itu disebabkan karena tekanan udara di daerah pegunungan lebih rendah, sehingga awan-awan dari segala arah bergerak ke area pegunungan.

Ketiga, hujan adalah fenomena yang sangat penting. Karena berkat hujan, air dapat bersirkulasi dari dataran tinggi ke dataran rendah dan dibalikan lagi ke dataran tinggi. tanpa adanya hujan, air akan menggenang di dataran rendah akibatnya, daerah dataran rendah berpotensi banjir dan dataran tinggi berpotensi kekeringan.


Bagaimana Prinsip Kerja Mesin Bubut ?

Bagaimana Prinsip Kerja Mesin Bubut ?

Dalam teknik pemesinan, mesin bubut merupakan perkakas yang sudah wajib untuk dikuasai. Lalu sebenarnya mesin bubut itu fungsinya buat apa saja dan bagaimana mesin bubut ini dapat bekerja ?

Pada artikel berikut, kita akan belajar pengertian, fungsi dan cara kerja mesin bubut.

Pengertian dan Fungsi Mesin Bubut

Mesin bubut digunakan untuk membentuk benda kerja khususnya yang berbentuk silinder agar memperoleh ketelitian yang sangat akurat.

Dengan kata lain, mesin bubut ini merupakan perkakas multiguna yang bisa digunakan untuk membuat komponen-komponen dalam mesin apapun.

Contohnya, membuat poros atau shaft.

Dalam membuat poros, tentu kita harus memperhitungkan berapa diameter shaft yang akan kita buat. Apabila kita menggunakan alat biasa seperti pahat atau gerinda maka hasilnya tidak akan halus dan diameternya pun akan berantakan.

Tapi dengan bantuan mesin bubut, diameter poros yang kita buat bisa sesuai perhitungan serta memiliki permukaan yang sangat halus.

Selain untuk membuat komponen baru, mesin bubut juga sering dipakai untuk memperbaiki komponen yang aus atau terkikis.

Praktik ini juga sering dipakai pada bidang perbengkelan kendaraan, biasanya dipakai untuk memperbaiki silinder mesin. Caranya, silinder ditimpa dengan daging las supaya bagian yang aus tersebut tertutup. Untuk meratakan bagian tersebut, kita menggunakan mesin bubut.

Selain logam, mesin bubut juga bisa dipakai pada benda kerja yang berbahan kayu.

Biasanya para pengrajin, menggunakan mesin bubut ini untuk membuat benda seperti kaki meja atau benda lain yang berbentuk silinder.

Kehadiran mesin bubut ini sangat memudahkan pekerjaan itu.

Lalu bagaimana prinsip kerja mesin bubut

Mesin bubut pada dasarnya sama seperti pahat, dimana pahat tersebut akan memahat benda kerja sehingga permukaan benda kerja jadi termakan.

Namun dalam kasus mesin bubut, benda kerja yang dipahat akan diputar pada kecepatan tertentu. Sementara pahatnya, hanya diposisikan supaya kontak dengan benda kerja yang berputar.

Untuk melakukan proses itu, maka mesin bubut dilengkapi dengan beberapa komponen. Seperti ;

1.Kepala tetap

Kepala tetap adalah bagian yang diam atau tidak bergerak. Didalam bagian ini, terdapat motor listrik untuk memutar benda kerja, persneling untuk mengubah momen putaran motor listrik, dan penjepit benda kerja untuk menjepit benda kerja.

2. Kepala geser

Kepala geser merupakan bagian yang berlawanan dengan kepala tetap, sesuai namanya bagian ini bisa digeser mendekati atau menjauhi kepala tetap.

Pada kepala geser terdapat poros pengunci, fungsi poros ini adalah untuk menahan bagian ujung benda kerja yang akan dibubut. Jadi untuk benda kerja yang memiliki ukuran panjang, sangat tidak aman apabila hanya menggunakan penjepit pada kepala tetap karena saat dibubut benda kerja pasti oleng sehingga terjadilah kecelakaan pembubutan.

Untuk menghindari hal itu, maka dibuatlah pengunci diujung satunya sehingga benda kerja terkunci dari dua sisi.

3. Eretan

Eretan atau penggeser pahat adalah komponen yang berfungsi untuk meletakan pahat dan menggerakan pahat. Pada eretan ini, pahat tidak hanya bisa digerakan pada satu sisi tapi bisa digerakan melintang, juga memanjang.

Sehingga pemakanan benda kerja bisa lebih variatif.

4. Alas

Alas atau rel adalah jalur untuk pergerakan kepala geser dan eretan. Jadi seperti yang dijelaskan diatas, kepala geser dan eretan itu bersifat mobile artinya bisa digeser mendekati atau menjauhi kepala tetap.

Namun, pergeseran itu terjadi pada jalur khusus. Sehingga pergeseran bisa terjadi secara sejajar dengan putaran benda kerja.

Jadi kesimpulannya.

Prinsip kerja mesin bubut adalah melakukan pengikisan benda kerja dengan mengenai pahat pada benda kerja yang berputar. Untuk memutar benda kerja, mesin bubut menggunakan motor listrik yang dibantu dengan persneling.

Dalam melakukan pembubutan, harus ada perhitungannya terutama untuk menentukan kecepatan putaran benda kerja. Kecepatan ini sangat dipengaruhi dengan material dari benda kerja dan jenis dari pahat yang digunakan.

Tujuan perhitungan itu, adalah untuk memastikan keamanan pembubutan serta memastikan benda kerja yang dibubut itu tidak retak/pecah karena kecepatan putarannya terlalu tinggi atau rendah.

Diartikel berikutnya, kita akan membahas jenis-jenis mesin bubut beserta perbedaannya dan parameter pembubutan.

Animasi Petir, Bagaimana Proses Terjadinya Petir ?

Petir.

Adalah fenomena alam yang sering terjadi di sekitar kita. Tapi apa kamu tahu, bagaimana petir itu terbentuk ?

Pada artikel ini saya akan menjelaskan proses terjadinya petir secara sederhana.

Apa itu petir ?

Petir adalah kilatan cahaya, bisa bikin kita kesetrum, dan muncul saat hujan.


Itu memang benar. tapi definisi secara ilmiah, petir adalah pergerakan elektron dari awan yang memiliki potensial rendah ke bumi dalam rangka menetralkan muatan pada awan itu sendiri.

Apa penjelasan itu terlalu rumit ?

Baiklah, secara sederhana petir adalah aliran listrik dengan tegangan super duper tinggi dari awan menuju bumi.

Bagaimana aliran listrik itu bisa terbentuk ?

Anda bisa cek video animasi berikut ;

Untuk memahami ini, kita perlu mempelajari tiga hal yaitu, muatan listrik, beda potensial, dan listrik statis.

1. Muatan Listrik

Setiap benda tersusun dari atom-atom yang saling mengikat. Atom sendiri memiliki dua jenis muatan, yakni muatan positif atau yang disebut proton, dan muatan negatif atau yang disebut elektron.

Apabila suatu benda memiliki jumlah proton lebih banyak daripada jumlah elektronnya, maka benda itu disebut bermuatan positif. Apabila jumlah elektronnya lebih banyak daripada jumlah proton, maka benda itu dikatakan bermuatan negatif. Namun kalau jumlah proton dan elektron sama, itu disebut bermuatan netral.

2. Beda potensial


Beda potensial adalah perbedaan muatan pada dua benda. jadi seperti yang sudah dijelaskan, benda yang memiliki lebih banyak elektron disebut bermuatan negatif sementara benda yang memiliki lebih banyak proton disebut bermuatan positif.

Maka benda itu memiliki perbedaan potensial karena memiliki perbedaan rasio elektron dan proton.

Apa yang terjadi ketika dua benda tersebut didekatkan ?

Itu akan memicu perpindahan elektron antar benda sampai dua benda itu memiliki keseimbangan muatan.

Perpindahan elektron ini ternyata memiliki energi, dan energi ini kita kenal sebagai energi listrik.

3. Listrik statis

Listrik statis adalah peristiwa perpindahan elektron dari satu benda ke benda lainnya. Pada peristiwa listrik statis, awalnya benda tersebut memiliki muatan yang seimbang, atau proton dan elektronnya sama.

Tapi karena ada gesekan antar benda tersebut, itu memaksa elektron berpindah dari satu benda ke benda lainnya sehingga muatannya jadi tidak seimbang dan menyebabkan dua benda tersebut memiliki beda potensial.

Lalu bagaimana penerapannya pada petir ?

Petir dapat terbentuk karena ada beda potensial yang sangat tinggi antara awan satu dengan awan lainnya atau antara awan dengan bumi.

Pada awalnya, awan memiliki muatan yang seimbang. Namun awan itu selalu bergerak dan sering bergesekan dengan gumpalan awan lainnya. Gesekan antar awan ini menyebabkan peristiwa listrik statis, yakni elektron terpaksa berpindah ke dari satu awan ke awan lainnya.

Hasilnya, beberapa awan memiliki muatan elektron sangat tinggi dan beberapa awan lainnya memiliki proton yang sangat tinggi.

Hal itu menyebabkan beda potensial yang sangat tinggi.

Sehingga elektron dengan jumlah yang sangat masif berpindah secara bersama-sama menuju tempat yang memiliki muatan elektron rendah, benda yang dituju bisa awan yang bermuatan positif atau bumi yang bersifat netral.


Apabila awan yang memiliki beda potensial itu saling berdekatan, maka perpindahan elektron hanya terjadi antar awan sehingga hanya menghasilkan pancaran cahaya dilangit.

Namun apabila semua awan dalam gumpalan itu bersifat negatif maka elektron akan bergerak menuju bumi. Pergerakan elektron yang sangat masif dan serentak pada media udara seperti itu, menyebabkan efek kilat dan suara gemuruh.