Animasi Petir, Bagaimana Proses Terjadinya Petir ?

Petir.

Adalah fenomena alam yang sering terjadi di sekitar kita. Tapi apa kamu tahu, bagaimana petir itu terbentuk ?

Pada artikel ini saya akan menjelaskan proses terjadinya petir secara sederhana.

Apa itu petir ?

Petir adalah kilatan cahaya, bisa bikin kita kesetrum, dan muncul saat hujan.


Itu memang benar. tapi definisi secara ilmiah, petir adalah pergerakan elektron dari awan yang memiliki potensial rendah ke bumi dalam rangka menetralkan muatan pada awan itu sendiri.

Apa penjelasan itu terlalu rumit ?

Baiklah, secara sederhana petir adalah aliran listrik dengan tegangan super duper tinggi dari awan menuju bumi.

Bagaimana aliran listrik itu bisa terbentuk ?

Anda bisa cek video animasi berikut ;

Untuk memahami ini, kita perlu mempelajari tiga hal yaitu, muatan listrik, beda potensial, dan listrik statis.

1. Muatan Listrik

Setiap benda tersusun dari atom-atom yang saling mengikat. Atom sendiri memiliki dua jenis muatan, yakni muatan positif atau yang disebut proton, dan muatan negatif atau yang disebut elektron.

Apabila suatu benda memiliki jumlah proton lebih banyak daripada jumlah elektronnya, maka benda itu disebut bermuatan positif. Apabila jumlah elektronnya lebih banyak daripada jumlah proton, maka benda itu dikatakan bermuatan negatif. Namun kalau jumlah proton dan elektron sama, itu disebut bermuatan netral.

2. Beda potensial


Beda potensial adalah perbedaan muatan pada dua benda. jadi seperti yang sudah dijelaskan, benda yang memiliki lebih banyak elektron disebut bermuatan negatif sementara benda yang memiliki lebih banyak proton disebut bermuatan positif.

Maka benda itu memiliki perbedaan potensial karena memiliki perbedaan rasio elektron dan proton.

Apa yang terjadi ketika dua benda tersebut didekatkan ?

Itu akan memicu perpindahan elektron antar benda sampai dua benda itu memiliki keseimbangan muatan.

Perpindahan elektron ini ternyata memiliki energi, dan energi ini kita kenal sebagai energi listrik.

3. Listrik statis

Listrik statis adalah peristiwa perpindahan elektron dari satu benda ke benda lainnya. Pada peristiwa listrik statis, awalnya benda tersebut memiliki muatan yang seimbang, atau proton dan elektronnya sama.

Tapi karena ada gesekan antar benda tersebut, itu memaksa elektron berpindah dari satu benda ke benda lainnya sehingga muatannya jadi tidak seimbang dan menyebabkan dua benda tersebut memiliki beda potensial.

Lalu bagaimana penerapannya pada petir ?

Petir dapat terbentuk karena ada beda potensial yang sangat tinggi antara awan satu dengan awan lainnya atau antara awan dengan bumi.

Pada awalnya, awan memiliki muatan yang seimbang. Namun awan itu selalu bergerak dan sering bergesekan dengan gumpalan awan lainnya. Gesekan antar awan ini menyebabkan peristiwa listrik statis, yakni elektron terpaksa berpindah ke dari satu awan ke awan lainnya.

Hasilnya, beberapa awan memiliki muatan elektron sangat tinggi dan beberapa awan lainnya memiliki proton yang sangat tinggi.

Hal itu menyebabkan beda potensial yang sangat tinggi.

Sehingga elektron dengan jumlah yang sangat masif berpindah secara bersama-sama menuju tempat yang memiliki muatan elektron rendah, benda yang dituju bisa awan yang bermuatan positif atau bumi yang bersifat netral.


Apabila awan yang memiliki beda potensial itu saling berdekatan, maka perpindahan elektron hanya terjadi antar awan sehingga hanya menghasilkan pancaran cahaya dilangit.

Namun apabila semua awan dalam gumpalan itu bersifat negatif maka elektron akan bergerak menuju bumi. Pergerakan elektron yang sangat masif dan serentak pada media udara seperti itu, menyebabkan efek kilat dan suara gemuruh.

Begini Cara Buka Rumah Roller Motor Matic Tanpa Alat Khusus

Saat kita akan menservis transmisi motor matic, kadang kita disulitkan dengan kondisi komponen yang sangat tertutup. Salah satu komponen pada transmisi matic yang cepat rusak adalah roller, tapi karena posisinya ada didalam rumah roller maka kita harus membuka rumahnya terlebih dahulu.

Masalahnya, untuk membuka rumah roller perlu alat khusus seperti tracker atau impact karena ini seperti pulley dimana kalau kita putar murnya maka rumah roller akan ikut berputar sehingga untuk membukanya kita perlu menahan rumah rollernya.

Lalu apa bisa kita membuka rumah roller tanpa menggunakan alat khusus seperti tracker atau impact ?

Jawabannya tentu saja bisa, caranya bisa anda simak pada artikel dibawah.

Sebelumnya, tutorial ini menggunakan sepeda motor Honda Vario, tetapi untuk matic Honda lainnya saya rasa punya komponen yang sama.

Alat yang dibutuhkan

Untuk membuka rumah roller, ada beberapa kunci yang diperlukan antara lain ;

  • Kunci T10 atau shock 10 untuk membuka rumah CVT
  • Kunci shock 22 untuk membuka mur rumah roller
  • Pengganjal (bisa dari baut)


Bagaimana Langkah – Langkahnya ?

1. Lepas rumah CVT


Untuk melepas rumah CVT, caranya sangat mudah. Pertama anda lepas bautnya yang berjumlah kurang lebih ada 10 buah.

Namun perlu diingat, SOP untuk melepas baut yang melingkar seperti ini lakukan secara bertahap dan melintang. Artinya, apabila anda melepas baut bagian atas maka berikutnya lepas baut dibawah, kemudian dilanjutkan lagi baut atas dan begitu seterusnya.

Selain itu lakukan secara bertahap, yaitu jangan langsung melepas satu persatu baut. Tapi pertama kendorkan semua baut dulu kalau semua sudah kendor baru anda bisa melepasnya satu persatu.

Ini ditujukan supaya permukaan rumah CVT tetap rata.

2. Pasang pengganjal pada rumah CVT

Ini dia tekniknya, apabila tidak punya traker anda bisa menggunakan pengganjal seperti baut atau sejenisnya. Usahakan baut yang dijadikan pengganjal punya ukuran yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil (rekomendasi baut ukuran 14-15).

Dan juga tidak terlalu panjang (sekitar panjang ibu jari).

Pasang pengganjal pada bagian belakang rumah roller. Mengapa dibagian belakang ? ini karena dibagian belakang ada sirip pada rumah roller yang lebih kuat karena dibandingkan sirip bagian depan bahan yang digunakan pada sirip roller bagian belakang itu lebih kuat sehingga cocok dijadikan tumpuan.

Pasang pengganjal seperti gambar.


Tapi untuk motor lain apabila bagian dalam tidak ada siripnya, atau susah mengganjal dibagian belakang anda bisa mencoba disirip luarnya. Tetapi perlu dipastikan kalau bahan pada sirip rumah roller tersebut kuat, karena banyak juga kasus dimana sirip rumah roller patah saat menggunakan cara ini.

3. Buka mur rumah roller

Untuk membuka rumah roller, anda hanya melepas mur pada poros rumah roller. Gunakan kunci shock ukuran 22 dengan gagang panjang untuk membukanya.


Kalau masih keras, anda bisa menggunakan pipa untuk memperpanjang handle kunci shock karena mur ini punya kekencangan tinggi.

Setelah mur berhasil dilepas, anda bisa menarik rumah roller dan bisa memeriksa bagian-bagian dalam rumah roller tersebut.

4 Tahap Pembuatan Bio Diesel Dari Kelapa Sawit

Bio diesel adalah bahan bakar yang berasal dari minyak nabati dan hewani, artinya sumber dari bahan bakar ini berasal dari hewan dan tumbuhan sehingga bisa diperbaharui.

Di Indonesia, nama bio solar sudah tak asing lagi. Pertamina memang sudah lama menjual bahan bakar solar yang dicampur dengan bio diesel.

Namun apakah anda tahu bagaimana pembuatan bio diesel dari kelapa sawit hingga menjadi bahan bakar siap pakai ?

Diartikel ini akan kita bahas secara detail.

Bahan baku bio diesel adalah CPO (crude palm oil)


Kalau solar biasa, itu diperoleh dari minyak mentah (crude oil) yang didistilasi hingga menjadi berbagai bahan bakar termasuk solar. Sementara bio diesel umumnya berasal dari CPO atau minyak yang diperoleh dari kelapa sawit.

Bukannya minyak kelapa sawit itu banyak dijadikan sebagai minyak goreng ?

Ternyata minyak kelapa sawit ini memiliki banyak produk turunan, dari minyak goreng, bahan kosmetik, hingga digunakan sebagai bahan bakar bio diesel.

Namun, agar CPO ini bisa digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel maka harus diolah dulu supaya sifat kimia menyerupai bahan bakar solar. Pengolahan ini kita sebut sebagai reaksi metanolisis.

Lalu bagaimana reaksi tersebut berjalan ?


Secara umum, ada 4 proses dalam pembuatan bio diesel

1. Proses transesterifikasi

Transesterifikasi atau disebut juga reaksi alcoholic adalah suatu reaksi yang berfungsi memisahkan metil ester (produk yang dijadikan bio diesel) dengan material terlarut lainnya didalam CPO.

Untuk menjalankan reaksi ini, perlu zat pereaksi dan katalis.

  • Alcohol digunakan sebagai pereaksi, jenis alkohol yang dipakai adalah metanol, etanol, isopropanol dan butyl. Tapi umumnya reaksi ini menggunakan metanol sebagai pereaksinya.
  • Katalis yang dipakai umumnya bersifat basa kuat seperti KOH dan NaOH.


Setelah kedua bahan diatas terpenuhi, selanjutnya bisa dilakukan proses transesterifikasi.

Transesterifikasi sendiri dilakukan dua kali, tujuannya untuk memperoleh metil ester dengan kemurnian yang tinggi.

Pada transesterifikasi pertama, CPO, metanol dan katalis dimasukan kedalam tanki reaktor. Tanki reaktor ini dilengkapi dengan pengaduk dan pemanas, hal ini karena reaksi ini tidak cukup ditambahkan dua bahan diatas tapi juga perlu dipanaskan.

Pemanasan dilakukan selama sekitar 2 jam, dengan suhu pemanasan mencapai 70 derajat celcius.

Setelah pemanasan selesai, reaktor didiamkan dalam beberapa menit hingga terbentuk endapan didasar CPO. Endapan itu adalah wujud dari zat terlarut dalam CPO berupa gliserin. Sehingga metil ester yang terbentuk sudah lebih murni namun belum cukup murni.


Sehingga perlu dilakukan proses transesterifikasi kedua, pada transesterifikasi kedua prosesnya sama saja tapi dilakukan lebih singkat. Hasilnya, juga berupa endapan gliserin namun tidak terlalu banyak.

Setelah transesterifikasi kedua selesai, metil ester yang didapat memiliki kemurnian hingga 99%.

2. Proses pencucian

Proses pencucian dilakukan untuk menetralkan kembali metil ester dari pereaksi dan katalis dari proses transesterifikasi.

Proses ini dilakukan dengan air untuk memisahkan gliserin yang mungkin masih terbawa, serta ditambahkan asam kuat seperti HCL untuk menetralkan metil ester mencapai PH 6,8 – 7,2.

3. Proses pengeringan

Pengeringan dilakukan untuk membuang air yang terdapat pada metil ester, sebelumnya pada proses pencucian air digunakan untuk memisahkan gliserin, sementara itu kita tahu air tidak bisa dibakar sehingga kalau bahan bakar mengandung air otomatis menjadi lebih sulit terbakar.

Proses pengeringan akan mengeluarkan air dadalam metil ester, caranya dengan diuapkan sampai air tersebut menguap.

Proses penguapan ini dilakukan dengan memanaskan metil ester sampai titik didih air.

4. Proses filtrasi

Filtrasi adalah proses penyaringan dengan saringan super kecil (lebih kecil dari 10 mikron). Tujuannya supaya partikel pengotor yang tidak tercuci pada proses pencucian, bisa disaring dan tidak mengotori hasil akhir dari bio diesel.

Setelah melewati proses filtrasi, bahan ini bisa kita bilang sebagai bio diesel murni atau bio diesel 100 %.

Bahan bakar ini sebenarnya bisa langsung digunakan atau bisa juga dicampurkan dengan solar untuk menghasilkan produk BBM campuran seperti B30 (bio diesel 30%).

B30, Ini Penjelasan Lengkap Tentang Bio Solar Beserta Manfaatnya

Pada akhir desember 2019, muncul pemberitaan terkait sikap diskriminasi Uni Eropa terkait produk CPO dari Indonesia, alasannya karena perkebunan kelapa sawit mengancam ketersediaan hutan.

Hal itu menjadi perbincangan publik, ditambah sikap pemerintah RI yang berani mengambil langkah atas sikap Uni Eropa. Salah satunya penerapan B30.

Disini kita tidak membahas berita tersebut, tapi saya yakin ada yang masih penasaran tentang B30, dan CPO atau minyak kelapa sawit.

Sebenarnya B30 itu nama bahan bakar, atau sebuah program ? lalu apa bedanya dengan bahan bakar biasa ? dan apa bisa dipakai untuk segala jenis mesin ?

B30 merupakan program untuk menerapkan pemakaian bio-diesel


Jadi B30 sebenarnya sebuah program untuk mencampurkan bahan bakar nabati dalam hal ini CPO sebesar 30%. Jadi nanti ketika program ini terlaksana, bio diesel atau bio solar yang dijual oleh pertamina memiliki komposisi 70% solar dan 30% minyak kelapa sawit.

Namun, jangan kira pembuatan bio diesel B30 itu hanya dioplos begitu saja. Untuk mencampurkan CPO dengan solar, harus melaui serangkaian proses yang diberi nama reaksi metanolisis hingga menghasilkan produk bio diesel dengan nilai cetane yang diharapkan.

Nama bio diesel sendiri sebenarnya sudah sangat akrab ditelinga kita, sebab bahan bakar ini banyak dijual di pom bensin. Artinya, program bahan bakar solar yang dicampur minyak kelapa sawit ini sebenarnya sudah berjalan sejak lama.

Tapi itu dilakukan secara bertahap, dari tahun 2008 kita sudah menerapkan bio diesel 2,5% hingga pada tahun 2018 sudah menerapkan B20 pada berbagai sektor.

Apa dampak penerapan B30 ?


Kalau bicara soal operasional mesin, mungkin ini tidak memberikan dampak yang signifikan tapi kalau kita melihatnya secara luas maka ada banyak manfaatnya antara lain ;

1. Dapat menurunkan kebutuhan bahan baku minyak bumi

Jelas karena B30 hanya menggunakan 70 persen minyak bumi sehingga ada penghematan sebesar 30 pesen. Padahal, bahan baku minyak yang diproduksi pertamina masih impor.

Dengan kata lain, penurunan kebutuhan minyak bumi ini akan mengurangi nilai impor kita.

2. CPO merupakan energi yang terbarukan karena berasal dari tumbuhan

Karena cpo ini berasal dari buah kelapa sawit yang merupakan tumbuhan maka minyak ini masuk kedalam energi yang dapat diperbaharui, sehingga untuk jangka panjang kita tidak dikhawatirkan dengan isu stok minyak bumi yang semakin menipis.

3. Menguntungkan petani sawit


Indonesia merupakan penghasil minyak sawit terbesar didunia, memang pasar CPO ini lebih banyak diekspor namun semenjak ada diskriminasi dari Uni Eropa beberapa khawatir akan CPO Indonesia yang melimpah ini.

Namun, dengan program B30 pada 2020, serta ada rencana sampai ke penerapan B100 atau 100 persen menggunakan minyak sawit tentu menjadi kabar gembira bagi petani sawit.

Karena kedepan kebutuhan akan CPO didalam negeri akan semakin meningkat.

Bagaimana Proses Pembuatan Bio Solar ?

Seperti yang disinggung diawal, ada proses namanya metanolisis.

Secara umum, proses ini diawali dengan menambahkan bahan Metanol dan katalis, hasil dari proses ini berupa bio solar yang masih tercampur dengan gliserin.

Untuk memisahkannya, dilakukan proses pencucian. Kemudian dikeringkan supaya kadar airnya hilang baru CPO sudah menjadi bio solar 100%.

Pada fase ini, bio solar murni ini bisa langsung digunakan atau dicampurkan dengan solar dari minyak bumi menjadi B30.

Untuk saat ini pemakaian bio solar masih terfokus pada mesin-mesin industri dan didistribusikan pada beberapa SPBU.

7 Komponen Power Supply / Catu Daya Beserta Fungsinya

Barang elektronika seperti TV, komputer memiliki perangkat yang namanya power supply. Power supply sendiri kalau diartikan menjadi “pemasok tenaga” Mungkin anda yang masih awam akan bingung ? mengapa power supply dibutuhkan ? mengapa tidak langsung dari stop kontak saja ?

Kita akan bahas semuanya dibawah.

Power supply adalah perangkat elektronika yang digunakan untuk mengolah sumber kelistrikan pada barang elektronika yang kompleks.

Jadi kalau disederhanakan, power supply itu Cuma mengolah sumber listrik dari stop kontak.

Mengapa power supply dibutuhkan ?

Alasannya, pada barang elektronika yang kompleks seperti komputer, Radio, dan TV ada banyak sekali perangkat elektronika yang membutuhkan arus DC dengan besar tegangan berbeda-beda. Sementara sumber listrik dari stop kontak itu AC 220V.

Jadi fungsi power supply itu untuk mengubah arus AC 220 V menjadi arus listrik dengan besar tegangan yang sesuai dengan kebutuhan tiap perangkat didalam barang elektronika tersebut.


Lalu bagaimana cara kerjanya ?

Sebelum sampai kesitu, anda perlu memahami rangkaian dan fungsi tiap komponennya terlebih dahulu. Dibawah sudah kami berikan 7 komponen power supply beserta fungsinya masing-masing.

Komponen Power Supply dan Fungsinya


7 komponen dibawah terdiri dari 4 komponen utama, yakni transformator, dioda, capacitor, dan IC voltage regulator. Serta 3 komponen tambahan seperti saklar, sekering, dan lampu indikator.


1. Transformator

Transformator atau banyak orang menyebutnya “trafo” adalah komponen elektronika yang bisa mengubah tegangan listrik. Trafo ada dua jenis, yakni trafo step up dan trafo step down.

Sesuai namanya, trafo step up dapat menaikan tegangan sementara trafo step down dapat menurunkan tegangan.

Pada power supply, jenis trafo yang dipakai adalah trafo step down karena tegangan yang dibutuhkan umumnya kecil, sehingga pada power supply transformator berfungsi mengubah arus input (AC 220 V) menjadi arus AC dengan tegangan lebih kecil.

2. Dioda

Dioda adalah komponen yang unik, karena satu sisi dapat meloloskan arus namun disisi yang berlawanan dapat memblok arus.

Kemampuan dioda yang unik ini dimanfaatkan pada power supply untuk mengubah arus AC menjadi DC. Pengubahan ini terjadi karena setengah gelombang arus AC terblok oleh dioda, sehingga menghasilkan arus setengah gelombang atau DC.


Agar pengubahan arus lebih efektif, dioda umumnya dirangkai membentuk lingkaran yang disebut dioda bridge. Dioda bridge terdiri dari empat dioda, dua input, satu output dan satu ke ground.

3. Capacitor

Capacitor adalah komponen elektronika multi fungsi, komponen ini dapat menyimpan arus apabila dihubungkan dengan sumber arus, dan langsung melepaskannya saat sumber arus hilang.

Namun pada power supply, capacitor digunakan untuk menyaring tegangan DC yang tidak stabil dari dioda bridge (tegangan riple). Perlu diketahui juga, besarnya tegangan setelah melewati pengubahan arus pada dioda bridge kadang menjadi tidak stabil.

Sehingga perlu komponen untuk menstabilkan frekuensi gelombangnya, komponen ini adalah kapasitor yang dirangkai secara paralel setelah dioda bridge.

4. IC voltage regulator

IC regulator adalah perangkat mikro-kontroler yang berfungsi untuk mengubah besar tegangan DC menjadi tegangan yang siap pakai oleh semua perangkat elektronika.

Jadi, ibaratnya IC regulator yang mematangkan tegangannya. Tegangan dari IC regulator ini bisa langsung dihubunkan sebagai sumber arus untuk perangkat elektonika tertentu.

5. Saklar

Saklar merupakan komponen tambahan pada power supply yang artinya kalau komponen ini tidak ada, sebenarnya power supply masih berjalan baik. Namun komponen tambahan ini digunakan agar power supply lebih mudah dalam pengoperasian.

Saklar berfungsi untuk mengaktifkan dan menonaktifkan power supply tanpa mencabut stekernya.

Jadi kalau power supply ada saklarnya, maka kita tinggal menekan tombol untuk mengaktifkan atau menonaktifkan power supply. Pada barang elektronika, saklar ini menyatu dengan saklar untuk menghidupkan alat tersebut jadi misal kita menekan tombol ON saat menghidupkan komputer maka secara tidak langsung saklar power supply menjadi aktif sehingga power supply bekerja.

6. Sekering

Sekering adalah komponen yang berfungsi mengamankan komponen utama power supply, jadi sekering sebenarnya hanya sebagai jaga-jaga apabila ada arus besar yang masuk ke power supply.

Hal ini penting karena arus yang terlalu besar dapat merusak kompone seperti dioda dan IC regulator, karena tiap komponen memiliki kapasitasnya, kalau ternyata terjadi korsleting sehingga ada lonjakan arus sampai melebihi kapasitas komponen elektronika maka power supply akan rusak.

Oleh sebab itu, meski hanya sebagai pengaman (bukan komponen utama) sekering sudah seperti wajib.

Cara kerja sekering adalah dengan memutuskan jalur input ke transformator saat terdeteksi lonjakan arus.

7. Lampu indikator

Lampu indikator juga hanya sebagai komponen tambahan karena fungsinya Cuma sebagai indikator bahwa power supply sedang bekerja.

Umumnya, lampu yang digunakan adalah lampu LED yang memiliki daya kecil. LED ini disambungkan setelah capacitor atau sebelum masuk ke IC regulator.

Mengapa tidak diletakan pada output regulator ?

Ini karena output dari IC regulator biasanya tidak hanya satu, karena power supply tidak hanya memasok listrik untuk satu perangkat saja tapi semua perangkat didalam sistem elektronika.

Bagaimana power supply bekerja ?

Untuk mempelahari cara kerja power supply bisa anda lanjutkan pada artikel berikutnya Cara kerja power supply

9 Macam Power Tools Beserta Fungsi dan Cara Penggunaannya

Power tools adalah perkakas yang menggunakan tenaga non manusia sebagai penggeraknya, tenaga non manusia ini bisa berupa motor listrik, engine, tekanan angin ataupun tekanan hidrolik.

Fungsi power tools adalah untuk meringankan beban kerja manusia, umumnya power tools ini dibuat dari hand tools tapi diberi sistem tenaga sehingga dalam penggunaannya manusia hanya mengoperasikan alat tersebut melalui tombol.

Lalu apa saja yang termasuk dalam power tools ?

Ternyata ada banyak sekali, tapi kami akan membahas 9 power tools yang banyak diaplikasikan pada bengkel – bengkel mobil.

1. Air impact wrench



Air impact wrench atau pada bengkel biasa disebut impact saja merupakan sebuah alat yang berfungsi sebagai pemutar kunci shock. Kunci shock sendiri berfungsi untuk mengendorkan dan mengencangkan mur/baut sehingga dengan kata lain impact wrench berfungsi untuk melepas atau memasang mur/baut.

Namun impact tidak menggunakan tenaga manusia seperti kunci pada umumnya, impact digerakan oleh angin bertekanan.

Jadi, sebuah niple udara dari kompressor dihubungkan pada impact lalu saat kita menekan tombol pada impact secara otomatis impact berputar. Impact ini biasa dipakai untuk melepas mur roda dengan lebih cepat.

2. Gerinda portable/gerinda tangan

Gerinda portable berfungsi sebagai alat pemotong, pada alat pemotong manual kita memajumundurkan gergaji untuk memotong benda kerja dan itu memerlukan waktu lebih lama.

Dengan gerinda portable ini, pekerjaan bisa menjadi lebih cepat karena gerinda digerakan oleh motor listrik. sehingga kita tinggal menekan tombol pada gerinda maka mata gerinda akan berputar dan siap untuk memotong segala hal.

Sebenarnya gerinda bisa digunkan untuk memotong berbagai bahan dari mulai besi, kayu, atau keramik. Namun setiap bahan memerlukan mata gerinda yang berbeda, hal ini tentu lebih baik daripada gergaji biasa yang memiliki alat yang beda dari gergaji kayu dan gergaji besi.

Disebut juga portabel karena gerinda ini bisa dibawa kemana-mana sehingga cocok digunakan untuk memotong benda yang menempel pada objek. Pada bengkel, gerinda ini biasa dipakai dalam kepentingan modifikasi biasanya untuk memotong chasis.

3. Bench grinder machine/gerinda duduk



Bench grinder merupakan jenis mesin gerinda lainnya, namun yang ini tidak portable alias ditempatkan pada suatu meja.

Jenis gerinda ini memiliki bentuk lebih besar tapi fungsinya biasanya tidak untuk memotong tapi untuk menghaluskan permukaan, pada bengkel biasanya menggunakan alat ini untuk mengamplas kampas rem atau permukaan komponen lainnya.

4. Bor listrik portable

Bor listrik portable merupakan alat untuk yang berfungsi untuk melubangi benda kerja juga bisa digunakan untuk memasang sekrup.

Bor listrik ini juga menggunakan motor listrik sebagai penggeraknya.

Umumnya, yang banyak menggunakan bor listrik adalah para pengrajin logam, adapun pada bengkel biasa digunakan dalam kepentingan modifikasi untuk mengcustom body kendaraan.

5. Air gun



Air gun adalah alat yang berbentuk semprotan namun yang dikeluarkan adalah udara bertekanan. Air gun ini biasa digunakan untuk membersihkan komponen-komponen pada kendaraan seperti mesin atau kaki kaki dari debu atau air.

Air gun menggunakan tekanan angin sama seperti impact wrench, bedanya air gun langsung mengeluarkan udara tersebut saat tuas ditekan.

6. Heat gun



Heat gun atau alat pemanas portable merupakan alat khusus yang digunakan untuk memanaskan permukaan benda. Contohnya untuk memasang kaca film pada kaca mobil, biasanya dibantu dengan heat gun supaya kaca film bisa merekat lebih rapi.

Contoh lainnya adalah pemasangan skotlet atau sticker pada body kendaraan juga menggunakan heat gun sebagai alat bantunya.

Alat ini bekerja dengan memanfaatkan elemen pemanas yang bisa mengubah energi listrik menjadi panas.

7. Obeng pneumatic



Obeng pneumatic adalah versi power tool dari obeng biasa, fungsinya juga sama seperti obeng yakni untuk melepas dan memasang sekrup.

Namun obeng pneumatic ini lebih mudah dan lebih cepat.

Sesuai namanya, obeng pneumatic menggunakan tekanan angin sebagai tenaga penggeraknya. Alat ini sebenarnya jarang dipakai pada bengkel-bengkel namun pada industri manufaktur banyak menggunakan obeng pneumatic karena lebih cepat dan efisien.

8. Air chisel



Air chisel adalah alat pemahat otomatis, fungsinya juga sama seperti pahat pada umumnya namun alat ini biasa digunakan untuk memotong paku keling atau memotong kepala sekrup yang tidak bisa dilepas.

Alat ini bekerja dengan memanfaatkan tekanan angin untuk dirubah menjadi gerakan seperti pahatan.

9. Air chuck



Air chuck banyak kita jumpai pada tukang tambal ban di pinggir jalan, bagi yang tidak tahu air chuck itu nama alat yang digunakan untuk mengisi angin ban.

Alat ini digunakan dengan memasangnya pada niple selang udara. Ujung chisel dimasukan pada niple ban secara otomatis angin masuk untuk mengisi ban. Air chisel merupakan versi power tools dari pompa ban manual.

Mungkin 9 hal diatas yang masuk dalam power tools yang banyak dipakai khususnya dibengkel-bengkel kendaraan. Semoga bisa menambah wawasan kita semua.

5 Advantages of Electronic Ignition System

Electronic ignition system is one type of vehicle ignition system that is widely applied nowdays.

Why the electronic ignition become main option ?

Of course, electronic ignition systems have better performance in overall. It is very necessary in this time where energy-efficient cars are the new choices.

So what are the advantages of an electronic ignition system if it compared to breaker point ignition system?


At least we found 5 advantages of electronic ignition systems compared to conventional ignition systems.

1. Does not overload the engine combustion

The conventional ignition system uses a distributor device to drive the breaker point, and to distribute the secondary coil voltage to each spark plug. This distributor device is connected to the crankshaft engine, so it can be said that conventional ignition systems overload the engine's performance.

While the electronic ignition system does not overload the performance of the engine because it does not use mechanical devices, the electronic ignition system work electrically without power from crankshaft.

Breaker point, has been replaced using a transistor while the distributor is replaced with an ignition coil module. The device does not work mechanically but works electrically so that it does not overload the engine's performance.

This results in higher efficiency.

2. Bigger fire produced by the spark plug

Electronic ignition systems do not use distributors to distribute secondary voltage, but use a single coil where each coil will be connected directly to each spark plug.


It makes the connection shorter and no voltage is wasted as it is on the distributor, so the secondary voltage is used as a whole to ignite the spark plug. That makes the bigger fire on spark plug.

Then what is the effect if the fire on the spark plug is bigger?

Actually, larger fire is also not good for engine performance, but a clearer flame will certainly make combustion easier. In addition, no secondary voltage is wasted so that the input current on the coil can be reduced. So it saves more electricity.

3. No electrical energy is wasted

As I said above, the electronic ignition system is very effective and saves electricity because no voltage is wasted.

Wasted voltage can occur on improper plate connections. just like distributors, if we study about conventional ignition system we know that distributors work by rotating plates that have been exposed to secondary voltage, the plates will stick to each terminal in turn.

Of course there is the potential for wasted voltage if the connection plate with the terminal does not fit.

In addition, at the breaker point there is a spark. Sparks on the breaker point are absorbed by the capacitor, but from the capacitor the electric current that is absorbed is also directly neutralized to the ground so that there is wasted voltage.

By using electronic parts such as transistors, the above mechanism can be replaced with an electronic scheme without any loss-energy.

See also ; 2 Type of Electronic Ignition System and Differences

4. Suitable for high RPM

We know, the higher the engine RPM, the faster the sparking interval. The faster the sparking interval, the faster the induction interval on the coil.

Meanwhile, conventional ignition only has one ignition coil and one breaker point that will work at intervals according to the induction interval on the coil. So, when the RPM is high, the induction of the ignition coil is less than the maximum so that the fire produced is also relatively smaller.

But in electronic ignition, it has at least two ignition coil and has transistor according to the number of spark plugs. So that the induction interval for each ignition coil is not too fast even at high RPMs. it keeps the fire produced stable.

5. Zero maintenance

That means, the electronic ignition system does not require adjusment as in conventional ignition.

We know, conventional ignition systems use breaker points to trigger induction on the coil. In some time, the opening angle of the breaker point will shift because this is one of the moving parts and there is definitely a wear usage. So it needs an adjusment called dwell angle adjusment.

But in electronic ignition, it is not necessary. The reason, there is no moving part in electronic ignition. So it only relies on the quality of electronic component materials.

When one of the electronic components in the ignition is damaged, then repairs will be done. But as long as there is no damage, no treatment is needed.