Cara Menghitung Keovalan Dan Ketirusan Blok Silinder Mesin

Advertisement
Dalam proses kerjanya, mesin menghasilkan tenaga dari adanya pembakaran. Pembakaran itu akan mendorong piston untuk bergerak naik turun. Gerakan tersebut pasti menghasilkan adanya gesekan antara silinder dan ring piston. Dalam waktu lama, gesekan ini akan menimbulkan keausan diantara kedua komponen itu. Itulah sebabnya mesin yang sudah berumur memiliki keluhan tenaga kurang dengan tekanan kompresi yang rendah.

Jika silinder sudah aus, artinya tenaga juga akan terhambat. Sehingga perlu dilakukan over size hingga penggantian. Namun untuk mengetahui apakah silinder mesin masih layak atau tidak, kita perlu melakukan pengukuran. Pengukuran ini akan mengetahui besat ketirusan dan keovalan silinder mesin. Lantas bagaimana langkahnya, simak cara menghitung keovalan dan ketirusan silinder mesin berikut.

Perbedaan Ketirusan Dan Keovalan

Sebelum kita melangkah lebih jauh, mari pahami arti dari kedua kata ini. Ketirusan dan keovalan memiliki arti yang berbeda.

Ketirusan, adalah bentuk keausan silinder jika dilihat dari bagian samping silinder. Bentuk keausan ini akan berbentuk tirus karena ada perbedaan diameter silinder bagian bawah dan atas. Perbedaan ini akan menunjukan besar ketirusan.

Keovalan, adalah bentuk keausan silinder mesin jika dilihat dari bagian atas. Silinder yang normal, pasti akan berbentuk lingkaran sempurna jika dilihat dari atas. Namun ketika terjadi keausan di salah satu sisi silinder, bentuknya pun menjadi lebih oval.


Cara mengukur keovalan dan ketirusan silinder.


Untuk melakukan pengukuran silinder mesin, kita perlu tools khusus yang disebut Cylinder Bore Gauge. Alat ini dapat mengukur diameter silinder dengan ketepatan mencapai 0,01 mm. Namun sebelum melakukan pengukuran, kita perlu melalukan penyetelan pada alat ini.

Nama nama komponen cylinder bore gauge


alat pemeriksaan keausan silinder

  • Dial gauge. Komponen ini akan menunjukan skala ukuran dengan satuan mili meter.
  • Lock position. Komponen ini berfungsi menahan agar dial gauge tetap diam saat bore gauge digunakan.
  • Grip. Komponen ini berfungsi sebagai pegangan ketika mengaplikasikan bore gauge.
  • Replacement rod. Komponen berupa batang dengan panjang yang bervariasi untuk mengukur banyak silinder yang mempunyai diameter berbeda.
  • Replacement washer. Sama halnya dengan replacement rod, namun replacement washer memiliki ketebalan yang kecil. Berkisar 0,5 mm.
  • Measuring point. Berupa tonjolan yang apabila ditekan akan menggerakan jarum dial gauge.


1. Langkah-langkah penyetelan cylinder bore gauge.

Untuk melakukan penyetelan, kita harus mengetahui lebih dulu berapa diameter standar blok mesin yang akan kita ukur. Diameter standar bisa diketahui dengan melihat spesifikasi teknis mesin atau mengukurnya secara langsung dengan vernier caliper. Pengukuran menggunakan vernier caliper hanya sebagai acuan karena kurang akurat.

Jika sudah diketahui besar diameter silinder, maka lanjutkan untuk merangkai replacement rod pada bore gauge. Misal diameter silinder adalah 62,05 mm. Maka kita memilih replacement rod dengan panjang 60 mm ditambah replacement washer dengan ketebalan 3 mm. Sehingga total 63.00 mm.

Mengapa lebih tinggi ?

Karena kita akan mengukur keausan. Komponen yang mengalami keausan pasti memiliki pembesaran diameter. Jika kita pilih replacement rod yang sama atau lebih kecil dari diameter silinder, maka measuring point tidak dapat tertekan saat melakukan pengukuran.
Pemeriksaan ketirusan silinder block

Setelah terpasang, maka set dial gauge ke angka nol menggunakan micrometer. Posisikan outer micrometer pada ukuran 62,05 mm, masukan replacement rod pada timble micrometer. Maka measuring point akan bergerak dan jarum dial gauge ikut bergerak. Set skala dial gauge ke posisi nol pada jarum dial gauge.

2. Langkah pengukuran diameter silinder.

Lakukan pengukuran di dalam silinder. Ada tiga posisi pengukuran tiap silinder yaitu pada sumbu X dan Y masing-masing posisi atas, tengah dan bawah. Sumbu X adalah sumbu yang memotong mesin secara melintang atau horizontal. Sedangkan sumbu Y adalah garis yang memotong mesin secara vertikal atau memanjang.


Komponen cylinder bore gauge

Cara mengukurnya, masukan cylinder bore gauge ke dalam silinder. Kemudian, goyangkan alat ini kekiri dan kekanan sambil memperhatikan jarum dial indicator. Kita perlu memperhatikan titik terjauh jarum bergerak. Karena titik ini akan menunjukan selisih diameter silinder dengan diameter standar. Lakukan pengukuran ini pada tiap posisi masing-masing silinder.

Untuk menghitung keovalan, kita perlu mencari selisih antara pengukuran diameter sumbu X dan sumbu Y pada tiap posisi. Sementara ketirusan, dapat kita ketahui dengan mencari selisih pengukuran diameter atas dan bawah pada satu sumbu.
Cara mengukur diameter

Cara lain dalam mengukur diameter silinder.


Cara diatas adalah prosedure pengukuran diameter silinder yang benar. Namun, dalam aplikasinya terkadang di temui beberapa kendala seperti hasil pengukuran yang lebih kecil dari standar. Hal itu bisa saja terjadi karena setiap mesin memiliki diameter yang berbeda walau dibuat pada pabrik yang sama. Untuk itu ada cara lain yang banyak digunakan para teknisi untuk menghitung ketirusan dan keovalan.

Caranya lihat dahulu besar diameter standar blok mesin untuk merangkai replacement rod dan washer yang tepat. Kemudian, lakukan penyetelan langsung didalam silinder.

Dengan cara memasukan cylinder bore gauge ke dalam silinder posisi paling bawah. Posisi paling bawah merupakan area yang tidak mengalami gesekan dengan ribg piston. Sehingga diameternya masih standar. Lanjut dengan menggerakan bore gauge kekanan dan kekiri. Perhatikan titik terjauh jarum dial gauge. Posisikan skala dial gauge ke posisi nol tepat pada jarum yang bergerak ke titik terjauh.

Selanjutnya, kita langsung melakukan pengukuran diameter silinder pada enam posisi tersebut seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Demikian panduan tentang cara menghitung ketirusan dan keovalan silinder mesin menggunakan cylinder bore gauge. Selain dari ketirusan dan keovalan silinder, penyakit pada mesin juga bisa disebabkan karena piston yang tidak standar. Simak bagaimana cara pemeriksaan piston agar lebih jelas. Semoga bisa bermanfaat.