Showing posts with label Materi Fuel System. Show all posts

3 Jenis Pompa Injeksi Pada Mesin Diesel

Kita tahu bahwa mesin diesel itu berjenis self ignition engine, itu artinya mesin diesel dapat melakukan pembakaran dengan sendirinya.

Meski demikian, pembakaran pada mesin diesel tidak muncul secara serta merta melainkan ada beberapa triger yang menyebabkan pembakaran terjadi. Setidaknya harus ada dua hal, pertama udara bertekanan tinggi dengan suhu lebih besar dari titik nyala solar.

Kedua fuel yang atomize (mengabut) didalam udara bertekanan tinggi tersebut. Kalau dua triger tersebut terpenuhi, maka pembakaran akan terjadi secara spontan.

Untuk memperoleh atomize fuel (solar yang mengabut) dibutuhkan sebuah mekanisme. Mekanisme tersebut akan memaksa fuel keluar dari celah sempit dengan tekanan yangtinggi. Untuk menaikan tekanan solar, kita mengenal komponen pompa injeksi.

Lalu, ada berapa jenis pompa injeksi yang digunakan pada mesin diesel ? kita akan bahas secara detail.

Jenis – Jenis Pompa Bahan Bakar Diesel


Mungkin yang anda tahu pompa injeksi mesin diesel cuma ada dua, yang tipe inline dan distributor. Tapi, ternyata ada satu lagi tipe yang justru banyak diaplikasikan.

1. Individual inline pump


Individual pump atau kita sering menyebutnya pompa injeksi inline adalah tipe pompa injeksi yang paling banyak digunakan mesin diesel konvensional.

Alasannya, tipe ini memiliki banyak kelebihan salah satunya ada pada tekanan injeksi yang bisa mencapai angka 1800 PSI. Dengan tekanan tersebut, sudah cukup untuk menghidupkan mesin diesel diatas 3.000 cc.

Ciri utama individual pump ada pada fuel deliverynya. Tipe ini memiliki plunger dengan jumlah yang disesuaikan dengan jumlah injektor, jadi kalau injektornya 4 maka ada empat plunger. Setiap plunger akan melayani satu buah injektor. Hal itulah yang menyebabkan tekanan injeksi bisa tinggi.

Setiap plunger akan diposiskan segaris diatas sebuah poros nok. Cara kerjanya, ketika poros nok berputar maka satu persatu plunger akan tertekan oleh nok (benjolan) yang ada pada poros nok pompa. Ketika plunger tertekan oleh nok, maka solar akan mengabut dari injektor.

Baca pula : Cara kerja pompa injeksi inline pada mesin diesel

2. Distributor pump type


Distributpr pump adalah jenis pompa injeksi dengan desain lebih ringkas. Karena hal itulah, kendaraan dengan keterbatasan ruang lebih cocok untuk menggunakan tipe ini.

Ciri utama distributor pump ada pada jumlah plungernya yang hanya satu meski jumlah injektor ada 4. Cara kerjanya, plunger tunggal ini diletakan pada sebuah poros pompa. Ketika poros pompa tersebut berputar, plunger akan menekan masing-masing barel yang terletak disekeliling poros pompa secara bergantian.

Jadi meski hanya ada satu plunger untuk menekan, semua injektor tetap kebagian karena timming pengapian pada mesin juga tidak berbarengan namun bergantian.

Kalau pada tipe inline, posisi fuel barel ada diatas plunger yang otomatis posisinya juga segaris. Tapi pada tipe distributor, posisi fuel barel mengelilingi poros pompa sehingga seperti distributor pada sistem pengapian konvensional.

Meski memiliki desain yang lebih ringkas, tekanan bahan bakar yang mampu dibuat itu kurang tinggi. Hal itulah yang menyebabkan tipe ini kurang cocok diaplikasikan pada mesin diesel skala besar.

3. Rotary continous pump


Tipe yang ketiga mungkin anda sendiri baru mendengarnya tapi justru tipe inilah yang paling banyak digunakan saat ini.

Lalu apa itu continous pump type ?

Itu adalah pompa injeksi yang ada pada mesin diesel common rail. Pada mesin diesel common rail, penyemprotan solar diatur secara langsung oleh injektor dengan perintah ECU. Jadi, pompa injeksi tugasnya hanya memastikan tekanan solar tetap tinggi.

Selengkapnya. Kupas tuntas cara kerja sistem common rail mesin diesel

Dibandingkan dengan dua tipe diatas, tipe inilah yang memiliki tekanan paling tinggi (30.000 – 40.000 PSI). Selain itu bentuknya pun sangat ringkas, hal itulah yang membuat sistem common rail semakin marak diaplikasikan bukan Cuma di sport SUV tapi di alat berat serta kendaraan komersial lain juga mulai menerapkan sistem common rail.

Demikian artikel singkat dari saya semoga bisa menambah wawasan kita semua.

Solar Vs Bensin, Apa Perbedaan Bahan Bakar Bensin dan Solar ?

Kalau anda amati, sepeda motor serta mobil-mobil berukuran kecil menggunakan bahan bakar bensin. Sementara mobil berukuran berat seperti bus, truk, alat berat menggunakan bahan bakar solar.

Mengapa jenis bahan bakar pada mobil tersebut berbeda ? mobil tersebut bukannya menggunakan mesin yang sama ?

Ternyata, mesin truk dan mesin MPV itu berbeda. Untuk mobil dengan bobot yang besar biasanya menggunakan mesin diesel (mesin berbahan bakar solar) sementara mesin MPV/mobil-mobil ringan menggunakan mesin bensin.

Antara mesin bensin jelas memiliki perbedaan (selain bahan bakarnya) anda bisa baca artikelnya di sini ; 9 perbedaan mesin bensin dan mesin diesel.

Sekarang apa perbedaan antara bahan bakar bensin dan bahan bakar solar ? apa jadinya kalau mesin bensin diisi solar atau sebaliknya ? untuk menjawab pertanyaan ini mari kita bahas dengan detail dibawah.

Bensin dan Solar Berasal Dari Tempat Yang Sama

Pertama, anda perlu memahami bahwa baik solar maupun bensin itu didapat dari bahan yang sama yakni crude oil atau minyak mentah. Hanya saja, minyak mentah yang diambil langsung dari perut bumi ini mengandung banyak sekali susunan.

Selain bensin dan solar, ada minyak tanah, bensol, beberapa mineral dan aspal.

Untuk memisahkan jenis-jenis bahan bakar seperti bensin dan solar dilakukan proses destilasi atau penyulingan. Berkat adanya proses penyulingan ini, minyak mentah yang diambil dari perut bumi bisa menjadi beberapa macam bahan bakar.

Lalu Apa Bedanya Bensin Dengan Solar

img : staticwhich.co.uk

1. Titik penguapan solar dan bensin

Titik penguapan bensin terbilang rendah, yakni dalam suhu 40 derajat celcius saja bensin mulai menguap. Dalam proses destilasi, bensin akan diperoleh dengan memanaskan minyak mentah pada suhu 40 hingga 250 derajat celcius.

Sementara titik penguapan solar itu lebih tinggi, dalam suhu kamar solar lebih tahan karena solar mulai menguap pada suhu 149 derajat celsius. Namun pada proses destilasi, minyak mentah akan dipanaskan dari 250 – 350 derajat celcius untuk mendapatkan bahan bakar solar.

2. Kandungan solar dan bensin

Secara umum, dalam 159 liter minyak mentah akan didapatkan 72 liter bensin murni. Namun, bensin murni tidak dapat digunakan secara langsung sebagai bahan bakar mesin karena kandungannya tidak cocok. Oleh sebab itu, bensin harus ditambahkan beberapa bahan tambahan.

Kandungan dasar bensin adalah hydrocarbon dengan 4-12 atom carbon per molekul. Bahan tambahan untuk bensin antara lain ;

  • Antioksidan seperti alkil fenol untuk mencegah pembentukan kerak yang dapat menyumbat sistem bahan bakar.
  • Asam karbosilat sebagai zat anti-korosi agar bensin tidak membuat logam berkarat.
  • Detergent seperti amina dan amida yang berfungsi membersihkan kerak didalam saluran bahan bakar.
  • Pewarna yang menyebabkan bensin ada yang berwarna biru atau kuning.


Untuk solar, yang diambil dari fraksi minyak bumi (petro-diesel) memiliki kandungan 75% hydrocarbon jenuh seperti parafin dan cycloparafin. Sementara 25% sisanya adalah aromatic HC seperti naptha dan alkalibenzenes.

Namun, bahan bakar diesel murni tersebut kurang cocok untuk mobil-mobil sekarang yang sudah menerapkan teknologi common rail. Sehingga, bahan bakar diesel pun dibuat agar cocok dengan kondisi mesin sekarang dengan menambahkan beberapa bahan alami seperti bio gas.

3. Jumlah energi yang terkandung pada bensin dan solar

Tiap liter bensin, memiliki kandungan energi sekitar 33.7 MJ. Sementara tiap satu liter solar memiliki kandungan 36.9 MJ.

4. Kandungan CO2

Kandungan karbondioksida pada bensin ternyata lebih rendah, tiap kilogram memiliki kandungan CO2 sekitar 2.3 Kg. sementara solar memiliki kandungan CO2 2.65 Kg per liter.

5. Titik nyala bahan bakar bensin vs solar

Bensin memiliki titik nyala yang rendah, namun titik nyala spontan (self ignition) ini dapat diperbesar dengan memperbesar RON. Untuk mengukurnya, maka pada bensin kita mengenal nilai oktan. Nilai oktan sendiri ada suatu bilangan yang menunjukan kadar isooktana pada bensin. Misal untuk bensin oktane 90 maka mengandung 90% oktana dan 10% heptana. Semakin tinggi kandungan oktana maka self ignition bensin akan semakin tinggi.

Untuk solar tidak ada nilai oktan, melainkan nilai cetane. Nilai cetane ini juga hampir sama seperti nilai oktane yang menunjukan titik nyala spontan solar pada tekanan kompresi tertentu.

6. Penggunaan

Bensin banyak digunakan pada kendaraan-kendaraan yang membutuhkan kecepatan dibandingkan power. Sehingga banyak dipakai pada kendaraan berukuran kompak seperti sepeda motor, MPV, mini SUV dan sedan.

Sementara solar, dengan kandungan energi lebih tinggi dan torsinya juga besar maka cocok dipakai pada mobil yang lebih membutuhkan power dibandingkan kecepatan. Diesel dipakai pada truk, bus, alat berat, kereta api, mesin kapal, dan mesin-mesin industri.

img : nxcourier.co.uk

Karakteristik Bensin

  • Mudah menguap pada temperatur normal
  • Tidak berwarna, berbau dan transparan
  • Titik nyala rendah (sekitar -15 sampai -10 derajat celcius)
  • Dapat melarutkan oli dan karet
  • Sedikit meninggalkan emisi saat dibakar


Karakteristik solar

  • Tidak mudah menguap pada temperatur normal
  • Tidak berbau, terkadang berwarna kuning
  • Memiliki kandungan sulfur yang tinggi
  • Bisa terbakar spontan pada suhu 300 deajat celcius sehingga tidak memerlukan pemicu seperti busi


Sekarang kembali kepertanyaan awal, Apa jadinya kalau mesin bensin diisi solar atau sebaliknya ?

Apabila mesin bensin diisi solar, jelas mesin akan brebet lalu mogok. Hal ini karena titik nyala solar lebih tinggi dibandingkan bensin, meski ada pemicu berupa busi tetapi tekanan kompresi mesin bensin masih belum cukup untuk membuat solar terbakar.

Sementara mesin diesel diisi bensin yang terjadi akan terdengar suara cukup kasar (knocking parah). Ini terjadi karena bensin dengan titik nyala spontan rendah diisi ke mesin diesel dengan tekanan kompresi sangat tinggi. Hasilnya sebelum timming pengapian, bensin sudah terbakar lebih dulu.

Demikian artikel lengkap tentang perbedaan bahan bakar bensin dan solar (diesel) semoga bisa menambah wawasan kita.

Rangkaian Sistem EFI Pada Mobil

Sistem EFI adalah terobosan baru dalam sistem bahan bakar mesin, sistem ini menyertakan kontrol elektronika untuk mendapatkan perbandingan bahan bakar dan udara yang selalu ideal pada segala kondisi mesin.

Sistem EFI pada dasarnya memiliki diagram yang sama dengan sistem bahan bakar konvensional. Hanya saja, pada sistem EFI sudah tidak menyertakan komponen karburator. Sebagai gantinya, injektor akan diletakan didepan intake valve di masing-masing injektor.

Lalu bagaimana gambar rangkaian sistem EFI pada mobil ? dibawah akan kita ulas rangkaian sederhana sistem EFI agar mudah anda pahami.

A. Rangkaian Fuel Line Sistem EFI


Seperti yang terlihat diatas, sistem efi memiliki diagram fuel lines yang cukup simple. Jalurnya, dari tanki langsung masuk ke injektor. Apabila diperjelas, maka aliran bensin pada sistem EFI kurang lebih seperti ini,

  1. Bensin didalam tanki akan dipompa oleh elektrik pump yang terletak didalam tanki (tenggelam).
  2. Bensin dari pompa akan mengalir melewati filter bensin.
  3. Keluar dari filter bensin, bahan bakar langsung dimasukan kedalam delivery pipe. Delivery pipe memiliki beberapa chanel yang langsung terhubung ke injektor.
  4. Saat salah satu solenid injektor terbuka, maka bensin menyembur keluar. Untuk mengatur banyak sedikitnya volume bensin, ECU akan mengatur durasi solenoid injektor terbuka.
baca pula 11 komponen sistem EFI beserta fungsinya

Mungkin masih ada pertanyaan, mengapa bensin menyembur keluar saat solenoid terbuka ?

Ini karena ada perbedaan tekanan didalam injektor dan didalam intake (tekanan didalam injektor lebih besar dibandingkan tekanan didalam intake). Sehingga, bensin didalam injektor akan menyembur keluar ke intake manifold yang memiliki tekanan rendah.

Disini, tugas untuk menaikan tekanan bensin pada injektor dibebankan pada fuel pump. Artinya, fuel pump tidak hanya sekedar menyalurkan bensin dari tanki ke mesin, tapi juga menaikan tekanan bensin secara konstan.

B. Rangkaian Kelistrikan Sistem EFI


Untuk rangkaian kelistrikan efi, mungkin akan lebih rumit. Namun, disini akan kita jelaskan secara mendasar dengan rangkaian yang sangat sederhana.

Seperti yang terlihat pada gambar, rangkaian ini tediri dari tiga komponen utama yakni sensor, ECU, dan aktuator. Sensor akan menjadi indikator atau patokan ECU dalam melakukang komputasi, sementara Aktuator digunakan sebagai pengeksekusi hasil perhitungan dari ECU (misal injektor dan fuel pump).

Kalau dijelaskan, mungkin rangkaiannya akan seperti ini

  1. Sensor IAT dan MAF, akan mendeteksi suhu dan masa udara. Ini akan menjadi indikator awal untuk menentukan seberapa banyak bensin yang diperlukan.
  2. Sensor TP akan mendeteksi sudut buka throtle valve, ini akan mengetahui RPM yang dikehendaki oleh pengemudi (semakin tinggi RPM semakin banyak bensin yang diperlukan)
  3. CKP dan CMP sensor akan mendeteksi kapan waktunya injektor terbuka, ini akan membuat bensin keluar pas saat langkah intake.
  4. O2 sensor, bertugas menjadi feedback atau koreksi terhadap hasil pembakaran, apakah berlangsung sempurna atau kurang. Data dari O2 sensor, akan digunakan untuk menyempurnakan AFM (air fuel mixture).
  5. Semua data dari sensor diatas, bentuknya tegangan dengan nilai tertentu. Setiap nilai tegangan, memiliki informasi berbeda terhadap apa yang diukur. ECU akan menerjemahkan semua nilai tegangan ini, dan melakukan perhitungan. Hasil perhitungan, juga berbentuk tegangan.
  6. Ada dua output dari ECU, pertama ouput ECU menuju injektor dan kedua menuju fuel pump. Tegangan output dari ECU ke injektor memiliki durasi, lamanya durasi ini mempengaruhi banyak sedikitnya bensin yang keluar. Sementara output ECU ke fuel pump, memiliki nilai variasi. Semakin besar tegangan maka semakin besar juga tekanan yang dihasilkan oleh pompa, ini membuat jumlah bensin yang keluar dari injektor semakin banyak pula.
baca pula cara kerja sistem efi pada mobil

Dari penjelasan diatas, saya rasa sudah cukup jelas bagaimana cara kerja sistem EFI. Semoga bisa menambah wawasan kita.

Jenis Sistem Bahan Bakar Mesin Diesel

Sistem bahan bakar pada mesin diesel berbeda dengan mesin bensin, mesin diesel menggunakan bahan bakar bertekanan tinggi karena mesin ini menggunakan metode self ignition. Untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar betekanan tinggi tersebut dibuatlah sebuah mekanisme bahan bakar diesel.

Namun, mekanisme sistem bahan bakar diesel tidak hanya satu tipe. Ada beberapa tipe lain dengan karakter dan kelebihan masing-masing.

Lalu, apa saja jenis sistem bahan bakar pada mesin diesel ? simak artikel dibawah.

A. Dilihat dari injected methode


Dilihat dari model penginjeksian, ada dua tipe yakni direct injection dan indirect injection.

1. Direct injection system (DI)

Sistem ini memiliki injektor yang mengarah langsung ke atas piston (ruang bakar terletak pada permukaan piston). Piston pada fuel system ini, memiliki cekungan di bagian permukaan atas. Cekungan ini digunakan sebagai ruang bakar, di cekungan inilah bahan bakar akan di injeksikan secara atomize (mengabut).

Kelebihan

  • Model lebih ringkas
  • Tenaga hasil pembakaran lebih besar
  • Efisiensi thermal yang lebih baik
  • Emisi lebih rendah
  • Tidak memerlukan mekanisme glow plug


Kekurangan

  • Butuh tekanan bahan bakar tinggi
  • Butuh injektor khusus (multi point injektor)


2. Indirect injection system (IDI)

IDI banyak digunakan pada mesin diesel keluaran 80 sampai awal 90 an. Namun, sekarang sudah tidak diterapkan karena efisiensi yang lebih buruk dibandingkan tipe DI. IDI memiliki ruangan khusus disebut pre-combustion chamber. Injektor akan mengarah kedalam pre-combustion chamber dan bukan di main cumbustion chamber didalam piston.

Desain seperti ini akan membuat percampuran bahan bakar dan udara terjadi didalam pre combustion chamber. Hasilnya, tenaga explosive dari pembakaran menyembur kedalam ruang bakar utama dan membuat piston bergerak ke bawah.

Kelebihan

  • Dapat dipakai untuk mesin diesel kapasitas kecil
  • Tekanan bahan bakar tidak terlalu besar


Kelemahan

  • Thermal efisiensi buruk (dibandingkan DI)
  • Emisi lebih buruk
  • Tenaga kurang besar

Baca juga Cara kerja mesin diesel indirect injection (IDI)

B. Dilihat dari mekanisme penginjeksian


Dilihat dari mekanisme, ada tiga jenis yakni rotary pump fuel system, individual fuel system, dan common rail system.

1. Rotary fuel system
img from dieselnet.com

Tipe pompa rotary, hanya memiliki sebuah plunger. Namun, satu plunger ini dapat menekan semua chanel yang terhubung ke masing-masing injektor. Disebut sebagai rotary system karena plunger ini bergerak secara rotary dan pergerakan plunger ini akan menekan semua piston dengan timming sesuai

Kelebihan tipe rotary ada pada desain yang minimalis, sehingga tidak memakan banyak tempat pada ruang mesin. Selain itu, terdapat sedikit komponen yang saling bergesekan. Ini membuat efisiensi tenaga lebih baik.

Dan untuk kekurangannya, tipe rotary memiliki tekanan injeksi yang lemah. Sehingga kurang cocok untuk mesin diesel berkapasitas besar.

2. Individual fuel system


Sesuai namanya, tipe individual menggunakan pompa injeksi tipe inline dengan individual plunger. Itu artinya jika ada empat injektor maka ada empat plunger. Meskipun memiliki banyak interaksi komponen, namun tekanan injeksi yang dihasilkan jauh lebih besar. Sehingga cocok untuk mesin diesel tipe direct injection.

Saat awal pembuatan, tekanan injeksi pada pompa ini, sekitar 3.000 – 5.000 PSI. namun, sekarang tekanan injeksi pada pompa inline ini bisa mencapai 18.000 PSI. jelas ini sangat jauh lebih tinggi dari pada tipe rotary yang memiliki tekanan injeksi sekitar 6.000 sampai 8.000 PSI.

Baca juga Diagram sistem bahan bakar mesin diesel

3. Common rail system

Sistem bahan bakar diesel common rail adalah mekanisme bahan bakar yang dikendalikan secara elektronik. Mekanismenya sangat berbeda dengan dua tipe diatas. Pada common rail system, pompa yang digunakan adalah tipe vane yang akan memompa bahan bakar secara berkelanjutan. Ini menyebabkan tekanan bahan bakar stabil.

Bahan bakar bertekanan tinggi tersebut disalurkan kedalam sebuah pipa yang disebut fuel rail. Fuel rail memiliki beberapa chanel yang menuju ke masing-masing injektor, dengan kata lain tekanan didalam fuel rail itu sama dengan tekanan didalam injektor.

Bahan bakar akan mengabut saat solenoid didalam injektor terbuka, siapa yang mengontrol kinerja solenoid injektor ? ini adalah tugas ECU sebagai pengontrol elektronik.

Baca pula Cara kerja diesel common rail system

Kelebihan

  • Memiliki tekanan injeksi tinggi (diatas 2.000 bar)
  • Produksi NOx sangat rendah
  • Tenaga yang dihasilkan lebih besar
  • Suara lebih ringan (clean diesel)


Kelemahan

  • Sangat bergantung pada elektrikal control system
  • Salah pilih solar, berakibat pada kerusakan injektor
  • Rangkaian cukup rumit.


Itu saja yang bisa saya bagikan, kalau masih bingung bisa tinggalkan komentar dibawah. Semoga bisa menambah wawasan kita.

Diagram Sistem Bahan Bakar Mesin Diesel

Mesin diesel adalah salah satu jenis mesin pembakaran dalam (internal comsbution engine) yang menggunakan bahan bakar solar. Mesin diesel, memiliki kelebihan pada sektor torsi yang cukup besar.

Meski demikian, konsumsi bahan bakar mesin diesel sangatlah irit. Sehingga, mesin diesel banyak dipakai pada mobil niaga seperti truk dan bus.

Namun, ada perbedaan sistem bahan bakar antara mesin bensin dan mesin diesel. Mesin diesel menggunakan metode self combustion dimana pembakaran akan terjadi secara otomatis saat bahan bakar diinjeksikan kedalam ruang bakar. Sehingga tidak perlu busi.

Hal ini juga berpengaruh pada diagram kerja sistem bahan bakar diesel. Ada beberapa perbedaan, di artikel ini kita akan mengulas diagram sistem bahan bakar pada mesin diesel konvensional dan common rail.

Baca juga ; Prinsip kerja mesin diesel

A. Sistem Bahan Bakar Mesin Diesel Konvensional


Seperti yang terlihat pada gambar diatas, sistem bahan bakar tipe konvensional menggunakan pompa bertekanan tinggi yang akan menekan solar ke arah injektor dengan timming tertentu.

Saat solar ditekan ke injektor, otomatis solar akan mengabut kedalam ruang bakar dan pembakaran akan terjadi.

Arah aliran bahan bakar, bisa ditulis

  1. Solar didalam tanki, akan dihisap oleh pompa mekanis yang terletak diluar tanki. Ini membuat solar mengalir kedalam saluran bahan bakar tekanan rendah.
  2. Bahan bakar akan melewati filter bahan bakar sebelum sampai ke pompa tekanan tinggi. Tujuannya agar bahan bakar bebas dari kotoran.
  3. Keluar dari filter, bahan bakar masuk ke pompa tekanan tinggi.
  4. Didalam pompa ini, bahan bakar akan ditekan dengan tekanan 100 - 150 bar. Namun, tekanan pompa ini tidak berkelanjutan. Bahan bakar hanya akan dipompa saat timming pengapian saja.
  5. Bahan bakar bertekanan tinggi tersebut otomatis akan mengabut melalui injektor.


Dari diagram proses diatas, ciri utama dari mesin diesel konvensional terletak pada pompa tekanan tinggi yang tidak bekerja secara berkelanjutan. Selain itu, injektor juga tidak memiliki sistem kontrol.

Baca juga Cara kerja sistem bahan bakar diesel konvensional

B. Diagram Sistem Bahan Bakar Diesel Common Rail


Pada sistem commonrail, kita tidak akan menemui pompa injeksi yang begitu mencolok. Ini karena pompa injeksi hanya berfungsi menaikan tekanan bahan bakar (hingga 2000 bar) dan tidak berfungsi mengatur volume bahan bakar yang diinjeksikan.

Arah aliran bahan bakar kurang lebih seperti ini ;

  1. Bahan bakar didalam tanki akan dipompa menggunakan pompa elektrik menuju pompa injeksi yang terletak di engine compartment.
  2. Sebelum mencapai pompa injeksi, bahan bakar melewati filter bahan bakar agar bebas dari kotoran.
  3. Didalam pompa injeksi, bahan bakar akan ditekan menuju fuel rail dengan tekanan stabil dan berkelanjutan.
  4. Didalam fuel rail terdapat bahan bakar yang bertekanan tinggi dan fuel rail memiliki chanel menuju tiap injektor. Sehingga tekanan bahan bakar didalam injektor sama dengan tekanan didalam fuel rail.
  5. Saat solenoid injektor membuka, bahan bakar akan mengabut kedalam ruang bakar.
  6. Pembukaan solenoid injektor ini diperintahkan oleh ECU dengan bantuan beberapa sensor.


Bisa dilihat dengan jelas, bahwa perbedaan antara common rail dan konvensional ada pada sistem kontrol bahan bakar. Kalau tipe konvensional itu menggunakan pompa injeksi, sementara common rail menggunakan injektor.

Baca pula Cara kerja mesin diesel common rail

Itu saja yang bisa saya tuliskan, semoga bisa menambah wawasan kita dan apabila ada pertanyaan atau sanggahan bisa tinggalkan jejak di kolom komentar.

6 Perbedaan Karburator dan injeksi Pada Sepeda Motor

Saat ini, hampir semua motor yang diproduksi telah menerapkan sistem injeksi bahan bakar. Dibandingkan versi sebelumnya, sistem injeksi ini ditengarai memiliki performa yang lebih bagus.

Tapi, benarkah demikian ? apa bedanya karburator dan injeksi pada sepeda motor ? mari kita bedah seluk beluk sistem injeksi bahan bakar dibawah.

Sekilas Tentang Sistem Injeksi

img by kabaroto.com

Sistem injeksi, adalah sebuah sistem bahan bakar untuk menyuplai bensin dari tanki kedalam intake manifold melalui sebuah injektor dengan serangkaian perhitungan. Perhitungan yang dimaksud, ditujukan agar bensin yang keluar dari injektor bisa ideal dengan RPM mesin saat itu.

Untuk melakukan perhitungan ini, sistem injeksi menggunakan tiga komponen utama yakni ;

  • Sensor, sebagai pendeteksi kondisi disekitar mesin.
  • ECU, untuk mengolah data dari sensor.
  • Aktuator, sebagai pelaksana hasil perhitungan dalam hal ini injektor.


Dari uraian diatas, kita bisa menyimpulkan ternyata suplai bensin pada sistem injeksi sudah sangat modern karena sudah menggunakan komputerisasi. Namun, sistem ini juga memiliki kelemahan.

Lantas, apa saja perbedaan antara sistem injeksi dan karburator ? simak ulasan berikut.

Perbedaan Sistem Karburator dan Sistem Injeksi


1. Campuran pada sistem injeksi selalu ideal, sementara karburator tidak selalu

Perbedaan yang pertama terletak pada perbandingan udara dan bahan bakar, pada sistem karburator perbedaan ini sangat ditentukan oleh diameter pilot jet dan main jet. Kalau diameter kedua komponen itu besar maka campuran bisa kaya, namun kalau sebaliknya campuran bisa kurus.

Pada sistem injeksi, hal tersebut tidak berlaku. Karena hanya ada satu komponen yakni injektor yang mengeluarkan bensin kedalam intake. Volume bensin yang keluar, tidak lagi ditentukan dengan diameter/besarnya ukuran injektor melainkan dari lamanya injektor membuka.

Dan lamanya injektor membuka itu diatur oleh ECU yang sebelumnya sudah memperhitungkan semua indikator mesin dengan bantuan sensor. Sehingga, kalau RPM rendah maka injektor hanya membuka sebentar namun kalau di RPM tinggi baru injektor membuka lebih lama.

2. Sistem injeksi tidak bisa disetting, sementara sistem karburator mudah disetting

Untuk melakukan setting karburator, kita hanya perlu modal obeng (-). Lalu kita putar sekrup pilot jet dan sekrup gas untuk mengatur RPM dan campuran bensin apakah akan dibuat lebih kaya atau lebih miskin.

Namun, tidak halnya dengan sistem injeksi. Ini karena semua sudah diatur oleh ECU sehingga, kalau kita mau menyetting campuran bensin maka kita perlu memanipulasi salah satu data dari sensor atau dengan melakukan ECU remaping.

Tentu, ini tidak bisa dilakukan oleh orang awam karena proses ini membutuhkan pengetahuan yang dalam mengenai sistem injeksi bahan bakar.

3. Konstruksi sistem injeksi lebih rumit, sementara karburator sederhana

Kalau dilihat secara kasat mata, sebenarnya sistem injeksi itu sangat simple. Komponennya Cuma selang yang keluar dari tanki lalu langsung dihubungkan  ke injektor. Namun, sistem injeksi itu bukan Cuma saluran bensin, karena ada rangkaian kontrol injektor.

Rangkaian kontrol injektor inilah yang sangat rumit, anda akan menemukan banyak kabel-kabel didekat mesin yang saling terintergrasi satu sama lain.

Hal ini berbeda dengan karburator, dimana selang bensin dari tanki masuk ke kran bensin dan masuk kekarburator. Itu saja tanpa rangkaian kelistrikan.

4. Lebih irit injeksi dibandingkan karburator (dengan kapasitas mesin sama)

Masih ada hubungannya dengan yang pertama, karena campuran bensin berlangsung ideal sepanjang kondisi maka konsumsi bensin pada motor injeksi bisa lebih terjaga. Tapi, bagaimana dengan sistem karburator yang semuanya serba konvensional ?

Pada sistem karburator, semakin tinggi RPM mesin maka campuran bensin cenderung semakin kaya. Sehingga konsumsi bensin bisa lebih boros dibandingkan tipe injeksi.

5. Emisi injeksi lebih ramah, sementara karburator kurang ramah lingkungan

Emisi itu dipengaruhi dari pembakaran mesin, dan bagaimana pembakaran mesin terjadi itu dipengaruhi oleh kandungan bensin yang ada pada udara. Kalau campurannya kaya/lebih boros maka emisi yang dihasilkan akan benyak mengandung HC dan NOx.

Sementara kalau perbandingannya selalu ideal seperti pada motor injeksi, maka emisi yang dihasilkan cenderung berbentuk CO dengan sedikit kandungan HC dan NOx.

6. Perawatan sistem injeksi lebih mahal, sementara karburator murah

Perawatan motor injeksi itu sebenarnya mudah, kita tinggal datang ke dealer untuk kemudian menyerahkan ke mekanik agar di service injeksinya dan kita tinggal duduk manis. Tapi, biayanya bisa lebih mahal karena untuk melakukan perawatan ini perlu beberapa alat khusus seperti injektor service tool yang bisa membersihkan injektor dari deposit.

Sementara karburator, itu tidak dirawat pun tidak apa-apa asal bensin yang anda isi itu tidak banyak mengandung kotoran. Kalaupun harus dirawat, paling biayanya cukup murah karena simple dan tidak memerlukan keahlian khusus sebenarnya untuk melakukan perawatan karburator.

Bagaimana dengan tenaganya ?

Untuk tenaga, bisa dibilang relatif karena sistem injeksi tidak didesain untuk memenuhi kebutugan akan daya mesin yang besar, namun sistem ini dibuat untuk memenuhi efisiensi bahab bakar yang terbaik. Kalaupun motor karbu disetting balap, maka dayanya bisa melebihi motor injeksi dengan kapasitas mesin sama.

Demikian artikel mengenai perbedaan karburator dan sistem injeksi semoga bisa menambah wawasan kita semua.

Cara Kerja Karburator Secara Detail + Diagram Proses

Salah satu aspek yang diperlukan agar pembakaran didalam mesin dapat terjadi adalah bahan bakar. Proses pemasukan bahan bakar dalam hal ini bensin kedalam ruang bakar diatur oleh komponen yang bernama karburator.

Lalu, apa itu karburator dan bagaimana cara kerja karburator sehingga bisa memasukan bensin ke ruang bakar dengan volume ideal pada RPM berapapun ? simak selengkapnya dibawah.

Pengertian Karburator


Karburator adalah komponen yang berfungsi melakukan karburasi bensin kedalam hembusan udara yang akan masuk kedalam ruang bakar.

Artinya, karburator ini tidak sembarang memasukan bensin ke ruang bakar tapi juga mengkarburasi. Apa itu ? karburasi adalah mencampurkan bensin kedalam sejumlah udara secara homogen, tujuan proses karburasi ini adalah supaya molekul bensin bisa tersebar secara merata pada udara yang terhembus didalam intake manifold.

Prinsip Kerja Karburator


Karburator bekerja dengan prinsip perbedaan tekanan, seperti yang anda ketahui zat cair ataupun gas akan selalu mengalir ke area dengan tekanan lebih rendah.

Proses yang terjadi didalam karburator pun demikian, bensin bisa masuk ke intake manifold karena tekanan didalam intake manifold lebih kecil dari pada didalam ruang penampung bensin didalam karburator.

Sekarang pertanyaannya, mengapa tekanan didalam intake lebih rendah ? apakah tekanan bensin didalam ruang penampung bensin didalam karburatir ditingkatkan ?

Ternyata tidak, perbedaan tekanan ini terjadi secara alami. Kalau anda pernah membaca prinsip sayap pesawat terbang maka ini mungkin agak sama. Didalam ada hukum Bernoulli yang menyatakan tekanan dari fluida seperti udara berkurang, apabila udara tersebut bergerak lebih cepat.


Didalam intake manifold ada udara yang mengalir kedalam ruang silinder mesin dengan kecepatan yang bervariasi (tergantung pembukaan gas). Tentu saja, berdasarkan hukum Bernoulli, maka tekanan udara didalam intake manifold akan mengalami penurunan. Sehingga, meski didalam ruang penampung bensin itu sama tekanannya dengan tekanan atmosfer, bensin tetap akan keluar.

Perbedaan tekanan ini, juga akan semakin besar apabila aliran udara didalam intake itu semakin cepat. Sehingga, ketika mesin digas pada RPM tinggi, otomatis aliran udara didalam intake cepat, tekanan didalam intake semakin turun, dan bensin yang tersedot karena perbedaan tekanan itu akan semakin banyak.

Bagaimana cara karburator mengatur volume bensin yang keluar ?


Mungkin ada yang masih bingung, mengapa bensin yang keluar itu bisa memiliki perbandingan ideal ? ini karena segala komponen yang dibuat didalam karburator itu sudah diperhitungkan.

Secara umum, ada tiga buah komponen didalam karburator. Yakni ;

  1. Venturi
  2. Pilot jet
  3. Ruang penampung bensin


Ruang penampung bensin, berfungsi untuk menampung bensin kiriman dari tanki yang siap dikarburasikan secara teratur kedalam intake manifold. Disni tekanan dibuat sama dengan tekanan atmosfer karena itu, biasanya ada ventilasi.

Sementara venturi dan pilot jet, adalah dua komponen yang mempengaruhi perbandingan campuran bensin. Venturi adalah bagian didalam intake manifold yang memiliki diameter lebih kecil. Nantinya, bensin akan disemburkan tepat pada venturi. Semakin kecil diameter pada venturi, maka semakin cepat pula aliran udaranya sehingga tekanan didalam venturi pasti akan lebih turun. Dan ini menyebabkan perbandingan bensin lebih banyak.

Kalau pilot jet adalah selang yang menghubungkan ruang penampung bensin dengan ruang venturi. Fungsinya hanya mengalirkan bensin saja, tapi lebar atau besar diameter pilot jet mempengaruhi tingkat perbandingan bensin. Semakin besar diamter pilot jet maka perbandingan bensin juga akan semakin banyak/boros.

Dalam aplikasinya, lebar diameter venturi dan pilot jet akan dihitung berdasarkan masa udara yang dapat mengalir ke mesin tiap detiknya. Sehingga, akan didapat perbandingan yang ideal.

Jenis – Jenis Karburator


Secara umum, hanya ada dua jenis karburator yaitu ;

1. Tipe fixed venturi



Tipe yang pertama sesuai namanya, memiliki lebar venturi yang tetap (fixed=tetap). Karburator ini banyak digunakan pada mesin berkapasitas besar (diatas 1000 cc) seperti pada mobil dan sebagian digunakan juga pada motor.

Tipe fixed venturi, memerlukan sebuah katup gas dibawah venturi untuk mengatur kecepatan aliran udara yang melewati venturi untuk mengatur RPM mesin.

2. Tipe variable venturi



Merupakan tipe karburator dengan ukuran venturi yang dapat berubah, berbeda dengan tipe pertama tipe variable venturi ini tidak menggunakan katup gas. Namun, pengaturan kecepatan aliran udara dilakukan langsung oleh venturi dan ada satu tambahan komponen bernama jarum skep.

Saat posisi mesin tidak digas, maka lebar venturi sangat kecil dan jarum skep karen bentuknya tirus (diameter pangkal lebih besar) otomatis akan menutup saluran pilot jet, sehingga bensin tidak keluar dari pilot jet melainkan dari idle jet.

Saat digas, lebar venturi semakin besar dan jarum skep terangkat sehingga pilot jet terbuka. Ini akan menyebabkan aliran udara semakin cepat ditambah bensin bisa keluar dari pilot jet sehingga RPM mesin bisa naik.

Demikian artikel tentang prinsip kerja karburator, semoga bisa menambah wawasan kita semua.

6 Komponen Sistem Bahan Bakar Sepeda Motor dan Fungsinya

Sistem bahan bakar pada kendaraan bermotor diperlukan untuk mengatur jumlah bensin yang akan dimasukan kedalam intake manifold dengan volume yang ideal sesuai RPM mesin.

Cara kerja sistem bahan bakar ini, adalah dengan mengabutkan bensin ditengah hembusan udara yang menuju ruang bakar mesin didalam intake manifold. Sistem ini, menggunakan komponen karburator untuk mengabutkan bensin.

Namun, ada beberapa komponen lain yang berpengaruh dalam sistem bahan bakar sepeda motor. Apa saja ?

Simak selengkapnya pada artikel dibawah ini.

Komponen Sistem Bahan Bakar Sepeda Motor


6 komponen dibawah ini, masuk kedalam sistem bahan bakar sepeda motor tipe konvensional karena masih menggunakan karburator.

1. Fuel tank


Fuel tank atau tanki bensin adalah komponen yang berfungsi untuk menampung bahan bakar bensin pada sepeda motor yang akan digunakan sebagai bahan baku mesin menghasilkan tenaga.

Lokasi fuel tank, selalu lebih tinggi daripada mesin. Hal itu dikarenakan agar bensin dapat turun ke karburator tanpa perlu lagi dipompa. Sehingga sistem bahan bakar sepeda motor konvensional ini tidak lagi memerlukan fuel pump.

2. Tutup tanki

Tutup tanki, selain berfungsi sebagai pintu membuka dan menutup tanki bensin juga memiliki fungsi lain. Komponen ini akan berperan dalam menstabilkan tekanan udara didalam tanki melalui lubang ventilasi, sehingga tekanan udara didalam tanki bisa sama dengan tekanan udara luar.

Apabila lubang ventilasi ini tersumbat, bisa jadi ada gejolak tekanan didalam tanki yang imbasnya bensin lebih banyak turun ke karburator. Sehingga, akan timbul asap hitam dari knalpot karena campuran bensin terlalu banyak.

3. Selang bensin

Tak usah diperpanjang, selang bensin berfungsi untuk mengalirkan bensin dari tanki sampai ke karburator. Hanya ada satu selang pada sistem ini sehingga desainnya cukup simple.

4. Filter bensin

Filter bensin adalah komponen yang berfungsi menyaring bensin yang akan dialirkan ke karburator dari berbagai kotoran. Meski komponen ini terlihat sepele, tapi fungsinya ternyata cukup vital.

Apabila tidak ada filter bensin, maka semua kotoran ataupun kerak yang ada didalam aliran bensin dapat masuk kekarburator. Apabila itu terjadi, maka akan menimbulkan beberapa masalah seperti pilot jet yang mampet, atau pelampung yang mampet sehingga menutup suplai bensin kedalam karburator.

5. Kran bensin

Kran bensin hanya memiliki dua fungsi, yakni untuk membuka dan menutup aliran bensin dari tanki menuju karburator. Tujuan dari kran bensin ini, tidak lain sebagai kran pengatur bensin. Sama halnya dengan pipa air, pasti ada satu kran utama yang dapat menutup dan membuka semua aliran air disetiap sudut rumah.

Pada motor, penggunaan kran ini akan memberikan akses ke pemilik motor untuk menutup aliran bensin ketika motor akan ditinggal dalam waktu lama. Sehingga, tidak terjadi masalah pada karburator.

6. Karburator


Seperti yang sudah disinggung, karburator berfungsi mengabutkan bensin ditengah hembusan udara yang ada didalam intake manifold. Mengapa perlu dikabutkan ? pengabutan ini maksudnya, bensin akan diurai menjadi partikel terkecil dengan adanya jarak pada masing-masing partikel. Sehingga, bensin tersebut dapat menyatu dengan lebih baik ditengah hembusan udara.

Bagaimana cara kerjanya ?

Artikel tentang karburator sudah pernah bahas, anda bisa membacanya pada link berikut ; Prinsip kerja karburator.


Secara singkat, karburator bekerja dengan perbedaan tekanan antara ruang penampung bensin didalam karburator dengan intake manifold. Sesuai hukum Bernouli, saat ada udara berhembus maka tekanan udara akan berkurang. Akibatnya, bensin dapat masuk kedalam hembusan udara karena tekanannya lebih kecil dibandingkan ruang penampung bensin.

Mengenai pengaturan volume, ada yang namanya pilot jet dan jarum skep. Dua komponen tersebut yang akan memastikan suplai bensin ideal sesuai RPM mesin.

Bagaimana Dengan Sistem Bahan Bakar Injeksi ?


Selain tipe konvensional yang kita bahas diatas, sistem bahan bakar fuel injection sudah hampir digunakan oleh pabrikan motor.

Untuk prinsip kerjanya, juga sama yakni dengan memanfaatkan perbedaan tekanan. Namun, pada sistem injeksi, bensin didalam saluran bahan bakar yang akan dinaikan tekanannya sehingga akan timbul semburan bensin dari injektor.

Untuk komponennya, ada sedikit perbedaan seperti karburator sudah tidak ada lagi karena sudah diganti dengan injektor. Namun, masih ada katup gas dan ada katup ISC untuk mengontrol idle speed mesin. Selain itu, pada sistem Efi juga mewajibkan adanya fuel pump untuk menaikan tekanan bensin.

Demikian artikel menganai sistem bahan bakar sepeda motor. Semoga dapat menambah wawasan kita semua.