Showing posts with label Pengetahuan Umum. Show all posts
Bagaimana Prinsip Kerja Mesin Bubut ?

Bagaimana Prinsip Kerja Mesin Bubut ?

Dalam teknik pemesinan, mesin bubut merupakan perkakas yang sudah wajib untuk dikuasai. Lalu sebenarnya mesin bubut itu fungsinya buat apa saja dan bagaimana mesin bubut ini dapat bekerja ?

Pada artikel berikut, kita akan belajar pengertian, fungsi dan cara kerja mesin bubut.

Pengertian dan Fungsi Mesin Bubut

Mesin bubut digunakan untuk membentuk benda kerja khususnya yang berbentuk silinder agar memperoleh ketelitian yang sangat akurat.

Dengan kata lain, mesin bubut ini merupakan perkakas multiguna yang bisa digunakan untuk membuat komponen-komponen dalam mesin apapun.

Contohnya, membuat poros atau shaft.

Dalam membuat poros, tentu kita harus memperhitungkan berapa diameter shaft yang akan kita buat. Apabila kita menggunakan alat biasa seperti pahat atau gerinda maka hasilnya tidak akan halus dan diameternya pun akan berantakan.

Tapi dengan bantuan mesin bubut, diameter poros yang kita buat bisa sesuai perhitungan serta memiliki permukaan yang sangat halus.

Selain untuk membuat komponen baru, mesin bubut juga sering dipakai untuk memperbaiki komponen yang aus atau terkikis.

Praktik ini juga sering dipakai pada bidang perbengkelan kendaraan, biasanya dipakai untuk memperbaiki silinder mesin. Caranya, silinder ditimpa dengan daging las supaya bagian yang aus tersebut tertutup. Untuk meratakan bagian tersebut, kita menggunakan mesin bubut.

Selain logam, mesin bubut juga bisa dipakai pada benda kerja yang berbahan kayu.

Biasanya para pengrajin, menggunakan mesin bubut ini untuk membuat benda seperti kaki meja atau benda lain yang berbentuk silinder.

Kehadiran mesin bubut ini sangat memudahkan pekerjaan itu.

Lalu bagaimana prinsip kerja mesin bubut

Mesin bubut pada dasarnya sama seperti pahat, dimana pahat tersebut akan memahat benda kerja sehingga permukaan benda kerja jadi termakan.

Namun dalam kasus mesin bubut, benda kerja yang dipahat akan diputar pada kecepatan tertentu. Sementara pahatnya, hanya diposisikan supaya kontak dengan benda kerja yang berputar.

Untuk melakukan proses itu, maka mesin bubut dilengkapi dengan beberapa komponen. Seperti ;

1.Kepala tetap

Kepala tetap adalah bagian yang diam atau tidak bergerak. Didalam bagian ini, terdapat motor listrik untuk memutar benda kerja, persneling untuk mengubah momen putaran motor listrik, dan penjepit benda kerja untuk menjepit benda kerja.

2. Kepala geser

Kepala geser merupakan bagian yang berlawanan dengan kepala tetap, sesuai namanya bagian ini bisa digeser mendekati atau menjauhi kepala tetap.

Pada kepala geser terdapat poros pengunci, fungsi poros ini adalah untuk menahan bagian ujung benda kerja yang akan dibubut. Jadi untuk benda kerja yang memiliki ukuran panjang, sangat tidak aman apabila hanya menggunakan penjepit pada kepala tetap karena saat dibubut benda kerja pasti oleng sehingga terjadilah kecelakaan pembubutan.

Untuk menghindari hal itu, maka dibuatlah pengunci diujung satunya sehingga benda kerja terkunci dari dua sisi.

3. Eretan

Eretan atau penggeser pahat adalah komponen yang berfungsi untuk meletakan pahat dan menggerakan pahat. Pada eretan ini, pahat tidak hanya bisa digerakan pada satu sisi tapi bisa digerakan melintang, juga memanjang.

Sehingga pemakanan benda kerja bisa lebih variatif.

4. Alas

Alas atau rel adalah jalur untuk pergerakan kepala geser dan eretan. Jadi seperti yang dijelaskan diatas, kepala geser dan eretan itu bersifat mobile artinya bisa digeser mendekati atau menjauhi kepala tetap.

Namun, pergeseran itu terjadi pada jalur khusus. Sehingga pergeseran bisa terjadi secara sejajar dengan putaran benda kerja.

Jadi kesimpulannya.

Prinsip kerja mesin bubut adalah melakukan pengikisan benda kerja dengan mengenai pahat pada benda kerja yang berputar. Untuk memutar benda kerja, mesin bubut menggunakan motor listrik yang dibantu dengan persneling.

Dalam melakukan pembubutan, harus ada perhitungannya terutama untuk menentukan kecepatan putaran benda kerja. Kecepatan ini sangat dipengaruhi dengan material dari benda kerja dan jenis dari pahat yang digunakan.

Tujuan perhitungan itu, adalah untuk memastikan keamanan pembubutan serta memastikan benda kerja yang dibubut itu tidak retak/pecah karena kecepatan putarannya terlalu tinggi atau rendah.

Diartikel berikutnya, kita akan membahas jenis-jenis mesin bubut beserta perbedaannya dan parameter pembubutan.

Animasi Petir, Bagaimana Proses Terjadinya Petir ?

Petir.

Adalah fenomena alam yang sering terjadi di sekitar kita. Tapi apa kamu tahu, bagaimana petir itu terbentuk ?

Pada artikel ini saya akan menjelaskan proses terjadinya petir secara sederhana.

Apa itu petir ?

Petir adalah kilatan cahaya, bisa bikin kita kesetrum, dan muncul saat hujan.


Itu memang benar. tapi definisi secara ilmiah, petir adalah pergerakan elektron dari awan yang memiliki potensial rendah ke bumi dalam rangka menetralkan muatan pada awan itu sendiri.

Apa penjelasan itu terlalu rumit ?

Baiklah, secara sederhana petir adalah aliran listrik dengan tegangan super duper tinggi dari awan menuju bumi.

Bagaimana aliran listrik itu bisa terbentuk ?

Anda bisa cek video animasi berikut ;

Untuk memahami ini, kita perlu mempelajari tiga hal yaitu, muatan listrik, beda potensial, dan listrik statis.

1. Muatan Listrik

Setiap benda tersusun dari atom-atom yang saling mengikat. Atom sendiri memiliki dua jenis muatan, yakni muatan positif atau yang disebut proton, dan muatan negatif atau yang disebut elektron.

Apabila suatu benda memiliki jumlah proton lebih banyak daripada jumlah elektronnya, maka benda itu disebut bermuatan positif. Apabila jumlah elektronnya lebih banyak daripada jumlah proton, maka benda itu dikatakan bermuatan negatif. Namun kalau jumlah proton dan elektron sama, itu disebut bermuatan netral.

2. Beda potensial


Beda potensial adalah perbedaan muatan pada dua benda. jadi seperti yang sudah dijelaskan, benda yang memiliki lebih banyak elektron disebut bermuatan negatif sementara benda yang memiliki lebih banyak proton disebut bermuatan positif.

Maka benda itu memiliki perbedaan potensial karena memiliki perbedaan rasio elektron dan proton.

Apa yang terjadi ketika dua benda tersebut didekatkan ?

Itu akan memicu perpindahan elektron antar benda sampai dua benda itu memiliki keseimbangan muatan.

Perpindahan elektron ini ternyata memiliki energi, dan energi ini kita kenal sebagai energi listrik.

3. Listrik statis

Listrik statis adalah peristiwa perpindahan elektron dari satu benda ke benda lainnya. Pada peristiwa listrik statis, awalnya benda tersebut memiliki muatan yang seimbang, atau proton dan elektronnya sama.

Tapi karena ada gesekan antar benda tersebut, itu memaksa elektron berpindah dari satu benda ke benda lainnya sehingga muatannya jadi tidak seimbang dan menyebabkan dua benda tersebut memiliki beda potensial.

Lalu bagaimana penerapannya pada petir ?

Petir dapat terbentuk karena ada beda potensial yang sangat tinggi antara awan satu dengan awan lainnya atau antara awan dengan bumi.

Pada awalnya, awan memiliki muatan yang seimbang. Namun awan itu selalu bergerak dan sering bergesekan dengan gumpalan awan lainnya. Gesekan antar awan ini menyebabkan peristiwa listrik statis, yakni elektron terpaksa berpindah ke dari satu awan ke awan lainnya.

Hasilnya, beberapa awan memiliki muatan elektron sangat tinggi dan beberapa awan lainnya memiliki proton yang sangat tinggi.

Hal itu menyebabkan beda potensial yang sangat tinggi.

Sehingga elektron dengan jumlah yang sangat masif berpindah secara bersama-sama menuju tempat yang memiliki muatan elektron rendah, benda yang dituju bisa awan yang bermuatan positif atau bumi yang bersifat netral.


Apabila awan yang memiliki beda potensial itu saling berdekatan, maka perpindahan elektron hanya terjadi antar awan sehingga hanya menghasilkan pancaran cahaya dilangit.

Namun apabila semua awan dalam gumpalan itu bersifat negatif maka elektron akan bergerak menuju bumi. Pergerakan elektron yang sangat masif dan serentak pada media udara seperti itu, menyebabkan efek kilat dan suara gemuruh.

4 Tahap Pembuatan Bio Diesel Dari Kelapa Sawit

Bio diesel adalah bahan bakar yang berasal dari minyak nabati dan hewani, artinya sumber dari bahan bakar ini berasal dari hewan dan tumbuhan sehingga bisa diperbaharui.

Di Indonesia, nama bio solar sudah tak asing lagi. Pertamina memang sudah lama menjual bahan bakar solar yang dicampur dengan bio diesel.

Namun apakah anda tahu bagaimana pembuatan bio diesel dari kelapa sawit hingga menjadi bahan bakar siap pakai ?

Diartikel ini akan kita bahas secara detail.

Bahan baku bio diesel adalah CPO (crude palm oil)


Kalau solar biasa, itu diperoleh dari minyak mentah (crude oil) yang didistilasi hingga menjadi berbagai bahan bakar termasuk solar. Sementara bio diesel umumnya berasal dari CPO atau minyak yang diperoleh dari kelapa sawit.

Bukannya minyak kelapa sawit itu banyak dijadikan sebagai minyak goreng ?

Ternyata minyak kelapa sawit ini memiliki banyak produk turunan, dari minyak goreng, bahan kosmetik, hingga digunakan sebagai bahan bakar bio diesel.

Namun, agar CPO ini bisa digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel maka harus diolah dulu supaya sifat kimia menyerupai bahan bakar solar. Pengolahan ini kita sebut sebagai reaksi metanolisis.

Lalu bagaimana reaksi tersebut berjalan ?


Secara umum, ada 4 proses dalam pembuatan bio diesel

1. Proses transesterifikasi

Transesterifikasi atau disebut juga reaksi alcoholic adalah suatu reaksi yang berfungsi memisahkan metil ester (produk yang dijadikan bio diesel) dengan material terlarut lainnya didalam CPO.

Untuk menjalankan reaksi ini, perlu zat pereaksi dan katalis.

  • Alcohol digunakan sebagai pereaksi, jenis alkohol yang dipakai adalah metanol, etanol, isopropanol dan butyl. Tapi umumnya reaksi ini menggunakan metanol sebagai pereaksinya.
  • Katalis yang dipakai umumnya bersifat basa kuat seperti KOH dan NaOH.


Setelah kedua bahan diatas terpenuhi, selanjutnya bisa dilakukan proses transesterifikasi.

Transesterifikasi sendiri dilakukan dua kali, tujuannya untuk memperoleh metil ester dengan kemurnian yang tinggi.

Pada transesterifikasi pertama, CPO, metanol dan katalis dimasukan kedalam tanki reaktor. Tanki reaktor ini dilengkapi dengan pengaduk dan pemanas, hal ini karena reaksi ini tidak cukup ditambahkan dua bahan diatas tapi juga perlu dipanaskan.

Pemanasan dilakukan selama sekitar 2 jam, dengan suhu pemanasan mencapai 70 derajat celcius.

Setelah pemanasan selesai, reaktor didiamkan dalam beberapa menit hingga terbentuk endapan didasar CPO. Endapan itu adalah wujud dari zat terlarut dalam CPO berupa gliserin. Sehingga metil ester yang terbentuk sudah lebih murni namun belum cukup murni.


Sehingga perlu dilakukan proses transesterifikasi kedua, pada transesterifikasi kedua prosesnya sama saja tapi dilakukan lebih singkat. Hasilnya, juga berupa endapan gliserin namun tidak terlalu banyak.

Setelah transesterifikasi kedua selesai, metil ester yang didapat memiliki kemurnian hingga 99%.

2. Proses pencucian

Proses pencucian dilakukan untuk menetralkan kembali metil ester dari pereaksi dan katalis dari proses transesterifikasi.

Proses ini dilakukan dengan air untuk memisahkan gliserin yang mungkin masih terbawa, serta ditambahkan asam kuat seperti HCL untuk menetralkan metil ester mencapai PH 6,8 – 7,2.

3. Proses pengeringan

Pengeringan dilakukan untuk membuang air yang terdapat pada metil ester, sebelumnya pada proses pencucian air digunakan untuk memisahkan gliserin, sementara itu kita tahu air tidak bisa dibakar sehingga kalau bahan bakar mengandung air otomatis menjadi lebih sulit terbakar.

Proses pengeringan akan mengeluarkan air dadalam metil ester, caranya dengan diuapkan sampai air tersebut menguap.

Proses penguapan ini dilakukan dengan memanaskan metil ester sampai titik didih air.

4. Proses filtrasi

Filtrasi adalah proses penyaringan dengan saringan super kecil (lebih kecil dari 10 mikron). Tujuannya supaya partikel pengotor yang tidak tercuci pada proses pencucian, bisa disaring dan tidak mengotori hasil akhir dari bio diesel.

Setelah melewati proses filtrasi, bahan ini bisa kita bilang sebagai bio diesel murni atau bio diesel 100 %.

Bahan bakar ini sebenarnya bisa langsung digunakan atau bisa juga dicampurkan dengan solar untuk menghasilkan produk BBM campuran seperti B30 (bio diesel 30%).

B30, Ini Penjelasan Lengkap Tentang Bio Solar Beserta Manfaatnya

Pada akhir desember 2019, muncul pemberitaan terkait sikap diskriminasi Uni Eropa terkait produk CPO dari Indonesia, alasannya karena perkebunan kelapa sawit mengancam ketersediaan hutan.

Hal itu menjadi perbincangan publik, ditambah sikap pemerintah RI yang berani mengambil langkah atas sikap Uni Eropa. Salah satunya penerapan B30.

Disini kita tidak membahas berita tersebut, tapi saya yakin ada yang masih penasaran tentang B30, dan CPO atau minyak kelapa sawit.

Sebenarnya B30 itu nama bahan bakar, atau sebuah program ? lalu apa bedanya dengan bahan bakar biasa ? dan apa bisa dipakai untuk segala jenis mesin ?

B30 merupakan program untuk menerapkan pemakaian bio-diesel


Jadi B30 sebenarnya sebuah program untuk mencampurkan bahan bakar nabati dalam hal ini CPO sebesar 30%. Jadi nanti ketika program ini terlaksana, bio diesel atau bio solar yang dijual oleh pertamina memiliki komposisi 70% solar dan 30% minyak kelapa sawit.

Namun, jangan kira pembuatan bio diesel B30 itu hanya dioplos begitu saja. Untuk mencampurkan CPO dengan solar, harus melaui serangkaian proses yang diberi nama reaksi metanolisis hingga menghasilkan produk bio diesel dengan nilai cetane yang diharapkan.

Nama bio diesel sendiri sebenarnya sudah sangat akrab ditelinga kita, sebab bahan bakar ini banyak dijual di pom bensin. Artinya, program bahan bakar solar yang dicampur minyak kelapa sawit ini sebenarnya sudah berjalan sejak lama.

Tapi itu dilakukan secara bertahap, dari tahun 2008 kita sudah menerapkan bio diesel 2,5% hingga pada tahun 2018 sudah menerapkan B20 pada berbagai sektor.

Apa dampak penerapan B30 ?


Kalau bicara soal operasional mesin, mungkin ini tidak memberikan dampak yang signifikan tapi kalau kita melihatnya secara luas maka ada banyak manfaatnya antara lain ;

1. Dapat menurunkan kebutuhan bahan baku minyak bumi

Jelas karena B30 hanya menggunakan 70 persen minyak bumi sehingga ada penghematan sebesar 30 pesen. Padahal, bahan baku minyak yang diproduksi pertamina masih impor.

Dengan kata lain, penurunan kebutuhan minyak bumi ini akan mengurangi nilai impor kita.

2. CPO merupakan energi yang terbarukan karena berasal dari tumbuhan

Karena cpo ini berasal dari buah kelapa sawit yang merupakan tumbuhan maka minyak ini masuk kedalam energi yang dapat diperbaharui, sehingga untuk jangka panjang kita tidak dikhawatirkan dengan isu stok minyak bumi yang semakin menipis.

3. Menguntungkan petani sawit


Indonesia merupakan penghasil minyak sawit terbesar didunia, memang pasar CPO ini lebih banyak diekspor namun semenjak ada diskriminasi dari Uni Eropa beberapa khawatir akan CPO Indonesia yang melimpah ini.

Namun, dengan program B30 pada 2020, serta ada rencana sampai ke penerapan B100 atau 100 persen menggunakan minyak sawit tentu menjadi kabar gembira bagi petani sawit.

Karena kedepan kebutuhan akan CPO didalam negeri akan semakin meningkat.

Bagaimana Proses Pembuatan Bio Solar ?

Seperti yang disinggung diawal, ada proses namanya metanolisis.

Secara umum, proses ini diawali dengan menambahkan bahan Metanol dan katalis, hasil dari proses ini berupa bio solar yang masih tercampur dengan gliserin.

Untuk memisahkannya, dilakukan proses pencucian. Kemudian dikeringkan supaya kadar airnya hilang baru CPO sudah menjadi bio solar 100%.

Pada fase ini, bio solar murni ini bisa langsung digunakan atau dicampurkan dengan solar dari minyak bumi menjadi B30.

Untuk saat ini pemakaian bio solar masih terfokus pada mesin-mesin industri dan didistribusikan pada beberapa SPBU.

7 Komponen Power Supply / Catu Daya Beserta Fungsinya

Barang elektronika seperti TV, komputer memiliki perangkat yang namanya power supply. Power supply sendiri kalau diartikan menjadi “pemasok tenaga” Mungkin anda yang masih awam akan bingung ? mengapa power supply dibutuhkan ? mengapa tidak langsung dari stop kontak saja ?

Kita akan bahas semuanya dibawah.

Power supply adalah perangkat elektronika yang digunakan untuk mengolah sumber kelistrikan pada barang elektronika yang kompleks.

Jadi kalau disederhanakan, power supply itu Cuma mengolah sumber listrik dari stop kontak.

Mengapa power supply dibutuhkan ?

Alasannya, pada barang elektronika yang kompleks seperti komputer, Radio, dan TV ada banyak sekali perangkat elektronika yang membutuhkan arus DC dengan besar tegangan berbeda-beda. Sementara sumber listrik dari stop kontak itu AC 220V.

Jadi fungsi power supply itu untuk mengubah arus AC 220 V menjadi arus listrik dengan besar tegangan yang sesuai dengan kebutuhan tiap perangkat didalam barang elektronika tersebut.


Lalu bagaimana cara kerjanya ?

Sebelum sampai kesitu, anda perlu memahami rangkaian dan fungsi tiap komponennya terlebih dahulu. Dibawah sudah kami berikan 7 komponen power supply beserta fungsinya masing-masing.

Komponen Power Supply dan Fungsinya


7 komponen dibawah terdiri dari 4 komponen utama, yakni transformator, dioda, capacitor, dan IC voltage regulator. Serta 3 komponen tambahan seperti saklar, sekering, dan lampu indikator.


1. Transformator

Transformator atau banyak orang menyebutnya “trafo” adalah komponen elektronika yang bisa mengubah tegangan listrik. Trafo ada dua jenis, yakni trafo step up dan trafo step down.

Sesuai namanya, trafo step up dapat menaikan tegangan sementara trafo step down dapat menurunkan tegangan.

Pada power supply, jenis trafo yang dipakai adalah trafo step down karena tegangan yang dibutuhkan umumnya kecil, sehingga pada power supply transformator berfungsi mengubah arus input (AC 220 V) menjadi arus AC dengan tegangan lebih kecil.

2. Dioda

Dioda adalah komponen yang unik, karena satu sisi dapat meloloskan arus namun disisi yang berlawanan dapat memblok arus.

Kemampuan dioda yang unik ini dimanfaatkan pada power supply untuk mengubah arus AC menjadi DC. Pengubahan ini terjadi karena setengah gelombang arus AC terblok oleh dioda, sehingga menghasilkan arus setengah gelombang atau DC.


Agar pengubahan arus lebih efektif, dioda umumnya dirangkai membentuk lingkaran yang disebut dioda bridge. Dioda bridge terdiri dari empat dioda, dua input, satu output dan satu ke ground.

3. Capacitor

Capacitor adalah komponen elektronika multi fungsi, komponen ini dapat menyimpan arus apabila dihubungkan dengan sumber arus, dan langsung melepaskannya saat sumber arus hilang.

Namun pada power supply, capacitor digunakan untuk menyaring tegangan DC yang tidak stabil dari dioda bridge (tegangan riple). Perlu diketahui juga, besarnya tegangan setelah melewati pengubahan arus pada dioda bridge kadang menjadi tidak stabil.

Sehingga perlu komponen untuk menstabilkan frekuensi gelombangnya, komponen ini adalah kapasitor yang dirangkai secara paralel setelah dioda bridge.

4. IC voltage regulator

IC regulator adalah perangkat mikro-kontroler yang berfungsi untuk mengubah besar tegangan DC menjadi tegangan yang siap pakai oleh semua perangkat elektronika.

Jadi, ibaratnya IC regulator yang mematangkan tegangannya. Tegangan dari IC regulator ini bisa langsung dihubunkan sebagai sumber arus untuk perangkat elektonika tertentu.

5. Saklar

Saklar merupakan komponen tambahan pada power supply yang artinya kalau komponen ini tidak ada, sebenarnya power supply masih berjalan baik. Namun komponen tambahan ini digunakan agar power supply lebih mudah dalam pengoperasian.

Saklar berfungsi untuk mengaktifkan dan menonaktifkan power supply tanpa mencabut stekernya.

Jadi kalau power supply ada saklarnya, maka kita tinggal menekan tombol untuk mengaktifkan atau menonaktifkan power supply. Pada barang elektronika, saklar ini menyatu dengan saklar untuk menghidupkan alat tersebut jadi misal kita menekan tombol ON saat menghidupkan komputer maka secara tidak langsung saklar power supply menjadi aktif sehingga power supply bekerja.

6. Sekering

Sekering adalah komponen yang berfungsi mengamankan komponen utama power supply, jadi sekering sebenarnya hanya sebagai jaga-jaga apabila ada arus besar yang masuk ke power supply.

Hal ini penting karena arus yang terlalu besar dapat merusak kompone seperti dioda dan IC regulator, karena tiap komponen memiliki kapasitasnya, kalau ternyata terjadi korsleting sehingga ada lonjakan arus sampai melebihi kapasitas komponen elektronika maka power supply akan rusak.

Oleh sebab itu, meski hanya sebagai pengaman (bukan komponen utama) sekering sudah seperti wajib.

Cara kerja sekering adalah dengan memutuskan jalur input ke transformator saat terdeteksi lonjakan arus.

7. Lampu indikator

Lampu indikator juga hanya sebagai komponen tambahan karena fungsinya Cuma sebagai indikator bahwa power supply sedang bekerja.

Umumnya, lampu yang digunakan adalah lampu LED yang memiliki daya kecil. LED ini disambungkan setelah capacitor atau sebelum masuk ke IC regulator.

Mengapa tidak diletakan pada output regulator ?

Ini karena output dari IC regulator biasanya tidak hanya satu, karena power supply tidak hanya memasok listrik untuk satu perangkat saja tapi semua perangkat didalam sistem elektronika.

Bagaimana power supply bekerja ?

Untuk mempelahari cara kerja power supply bisa anda lanjutkan pada artikel berikutnya Cara kerja power supply

6 Instrumen Penting Dalam Penelitian Kualitatif

Dalam melakukan pengambilan data penelitian kita mengenal instrumen penelitian. Secara umum, instrumen penelitian adalah alat bantu untuk kesuksesan proses pengambilan data entah itu menggunakan metode observasi, wawancara atau lainnya.

Lalu apa contoh instrumen yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif ? kita akan membahasnya secara detail diartikel ini.

Pengertian Instumen Penelitian


Menurut Suharsimi Arikuntoro, Instrumen penelitian merupakan alat bantu yang dipilih & digunakan oleh peneliti dalam melakukan kegiatannya untuk mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis & dipermudah olehnya.

Sementara menurut sugiyono, Instrumen penelitian adalah alat bantu yang dipilih & digunakan oleh peneliti dalam melakukan kegiatannya untuk mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis & dipermudah olehnya.

Jadi sudah jelas bahwa instrumen penelitian adalah alat bantu untuk mempermudah proses pengumpulan data.

Dalam melakukan riset kualitatif, kita tahu kedalaman data menjadi yang utama. Untuk bisa menjangkau data lebih dalam, maka seorang peneliti memerlukan alat-alat bantu baik digunakan oleh dirinya atau responden untuk mempemudah proses pengambilan data.

Lalu apa saja yang masuk kedalam instrumen penelitian ?

Tenyata instrumen ini sangat fleksibel karena dipengaruhi jenis penelitiannya. Sebagai contoh pada penelitian fenomena alam, maka memerlukan alat bantu yang dapat mengukur gejala-gejala alam. Sementara untuk riset sosial maka yang diperlukan adalah alat bantu untuk digunakan responden seperti angket/kusisioner.

Meski demikian, dibawah akan kita bahas instrumen penelitian yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif.

Contoh Instrumen Penelitian Kualitatif


1. Peneliti

Peneliti menjadi instrumen paling utama dalam penelitian kualitatif, lalu apa yang dilakukan seorang peneliti sebagai instrumen utama ?

Peneliti akan memberikan pandangan subjektifnya terhadap fokus penelitian. Dengan kata lain, dari semua data yang peneliti kumpulkan peneliti akan menyusun kesimpulan bedasarkan perspektif pribadinya.

Oleh sebab itu, saat akan melakukan penelitian kualitatif peneliti harus divalidasi. Karena menurut Sugiyono, Peneliti kualitatif sebagai human instrumen berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya.

Sehingga harus divalidasi akan kemampuan peneliti dalam kemampuannya memahami metode penelitian.

2. Panduan interview

Untuk peneliti yang menggunakan wawancara sebagai metode pengumpulan datanya, maka peneliti perlu menyusun interview guide atau panduan wawancara yang digunakan untuk memperlancar proses wawancara.

Panduan ini tidak digunakan untuk responden, karena responden yang diwawancarai akan menjawab sesuai apa yang ditanyakan peneliti.

Jadi panduan ini digunakan oleh peneliti itu sendiri supaya tetap on-track dalam mendalami sebuah pernyataan saat wawancara. Panduan ini berisikan kata apa yang harus dibuka untuk membuka wawancara, pertanyaan pembuka dan arah dari wawancara.

Meski demikian, ada beberapa peneliti yang tidak memerlukan panduan ini. Alasannya, peneliti tersebut sudah melakukan penelitian tersebut berulang kali sehingga sudah berpengalaman.

3. Angket/kuisioner

Angket ini sebenarnya hampir sama dengan wawancara tapi angket tidak mempertemukan secara langsung antara responden dan peneliti. Angket ini berperan  untuk menghubungkan antara peneliti dengan responden sehingga bisa dikatakan alat bantu penelitian atau instrumen penelitian.

Angket ini memang banyak digunakan pada penelitian kuantitatif, tapi bisa juga digunakan pada penelitian kualitatif dengan syarat peneliti harus memahami diluar kepala tentang apa yang sedang ditelitinya.

Karena peneliti tidak bisa mendalami secara bebas sepeti halnya saat wawancara langsung. Angket pada penelitian kualitatif umumnya berisi pertanyaan terbuka yang dijawab dengan uraian panjang oleh responden.

4. Alat tulis

Mungkin tidak perlu dijelaskan panjang lebar, alat tulis ini tidak mesti buku besar tapi juga buku harian atau lembar-lembar yang dapat mencatat data.

Tapi berbeda dengan alat bantu lainnya, alat tulis ini berfungsi pada moment-momen yang tidak diduga. Jadi seorang peneliti harus selalu membawa buku catatan dan bolpoinnya kapanpun saat melakukan observasi.

5. Alat rekam



Alat rekam juga sama seperti alat tulis, dimana fungsinya untuk merekam kejadian-kejadian tak terduga. Alat rekam juga bisa digunakan untuk merekam kejadian yang direncanakan seperti eksperimen atau wawancara.

6. Dokumen/literatur



Dalam melakukan penelitian kualitatif, ada metode pengumpulan data yang bernama studi literatur. Yakni dengan mempelajari dokumen-dokumen atau literatur yang terkait fokus penelitian sebagai bahan pembanding atau mendalami apa yang sedang diteliti.

Baca pula 5 Teknik Pengumpulan Data Kualitatif Yang Banyak Digunakan + Penjelasan

Jadi lebih simpelnya, dokumen ini bisa membantu peneliti menemukan data-data penelitian. Sehingga masuk ke instrumen penelitian.

Selain keenam contoh diatas, masih ada banyak lagi contoh instrumen penelitian seperti buku tes, software survey (apabila dilakukan online), alat-alat ukur.

5 Teknik Pengumpulan Data Kualitatif Beserta Penjelasannya

Dalam melakukan penelitian kualitatif, seorang peneliti harus mengambil data dari apa yang akan diteliti. Untuk mendapatkan data-data ini maka dikenal teknik pengumpulan data kualitatif.

Lalu seperti apa tekniknya dan ada berapa macam teknik pengumpulan data ? kita akan membahasnya secara mendalam diartikel ini.

Seperti yang kita bahas sebelumnya, metode penelitian kualitatif itu ada beberapa macam yang masing-masing memiliki perbedaan. Sehingga untuk mengumpulkan datanya juga ada beberapa teknik.

1. Teknik Studi literatur



Teknik pertama adalah studi literatur atau studi dokumen, seperti namanya teknik ini berfokus pada sumber tertulis seperti literatur, dokumen atau peninggalan apapun yang terkait obyek penelitian.

Meskipun demikian, seperti yang dikemukakan sejarawan dari University College London, G.J Renier. Dokumentasi ini memiliki 3 arti,

  • Dalam arti luas dokumentasi bisa diartikan semua sumber baik tertulis maupun lisan.
  • Dalam arti sempit, dokumentasi diartikan sumber tertulis saja.
  • Dalam arti khusus, dokumentasi meliputi surat-surat resmi dan surat negara seperti surat perjanjian, undang undang konsesi dan ghibah.


Sehingga bisa disimpulkan, studi literatur adalah aktifitas untuk mempelajari beberapa dokumen baik yang tertulis, audio video maupun karya monumental untuk memperoleh data penelitian.

Dalam sebuah penelitian, studi literatur bisa dijadikan pelengkap dari observasi dan wawancara, bahkan seperti yang dikemukakan sugiyono bahwa kredibilitas hasil penelitian akan semakin tinggi apabila melibatkan studi literatur.

2. Teknik Wawancara Mendalam


img by themuse.com

Wawancara adalah teknik mendapatkan informasi dari narasumber dengan metode bertanya langsung. Pada penelitian kualitatif, metode yang digunakan adalah teknik wawancara mendalam (in-depth interview).

  • Wawancara mendalam digunakan untuk memperoleh keterangan secara detail dan spesifik dari narasumber yang terlibat langsung dengan apa yang sedang diteliti. Teknik wawancara sendiri dibagi menjadi tiga jenis,
  • Wawancara terstruktur, yakni sebuah wawancara dimana peneliti atau pewawancara sudah mempersiapkan daftar pertanyaan.
  • Wawancara bebas, merupakan wawancara dimana pewawancara bebas menanyakan apapun tanpa mempersiapkan daftar pertanyaan.
  • Wawancara semi-terstruktur, hampir sama dengan wawancara terstruktur dimana pewawancara menyiapkan daftar pertanyaan namun tiap poin pertanyaan pewawancara bebas menggali lebih dalam dengan mengajukan pertanyaan yang tidak ada pada daftar.


Dalam melakukan wawancara, peneliti tidak hanya fokus pada jawaban responden tapi juga memperhatikan aspek psikis responden seperti intonasi, kecepatan berbicara, tatapan mata dan kepekaan non verbal.

3. Teknik Observasi



Secara sederhana, observasi adalah teknik pengumpulan data dengan memperhatikan secara langsung situasi obyek penelitian. Observasi biasanya dilakukan diawal penelitian untuk menggambarkan secara langsung situasi/kondisi apa yang diteliti untuk menentukan langkah berikutnya.

Hasil dari observasi berupa ruang/tempat, waktu, pelaku, obyek, kegiatan, perilaku, dan rasa. Salah satu manfaat observasi adalah peneliti akan mengetahui gambaran umum dari penelitian yang sedang dijalani. Sehingga mudah untuk menentukan langkah berikutnya.

Observasi sendiri memiliki 2 jenis ;

  • Observasi partisipatif, yakni aktifitas untuk mengamati dimana peneliti/pengamat melebur atau membaur dengan kelompok masyarakat yang diamati. Pada observasi ini, peneliti tidak hanya melihat tapi juga bisa merasakan.
  • Observasi non-partisipatif, yakni aktifitas untuk mengamati dimana peneliti/pengamat tidak membaur dengan kelompok yang diteliti. Dalam observasi ini, peneliti akan menciptakan jarak dan hanya melakukan tugasnya untuk mengamati apa yang dilihat. sehingga peneliti tidak merasakan aspek psikis/emosional, namun dalam segi objektifitas ini bisa lebih baik.
Lebih mendalam : Metode Observasi, Pengertian, Jenis, Tahapan dan Contohnya

4. Teknik Focus Group Discussion

Focus group discussion(FGD) adalah sebuah kelompok diskusi yang terfokus untuk memetakan masalah-masalah yang dihadapi kelompok tersebut. Format teknik ini, peneliti akan mengajak suatu kelompok (biasanya terdiri dari 4 - 5 orang) untuk berdiskusi.

Hasil dari diskusi tersebut, peneliti bisa lebih memahami letak permasalahan sebenarnya. Sehingga akan sangat membantu untuk penentuan langkah berikutnya.

Teknik ini memang mirip dengan wawancara, tapi yang membedakannya FGD memiliki suasana lebih santai mirip ngobrol dengan teman bahkan kadang ditemani camilan. Dalam melakukan FGD, peneliti hanya akan memahami sambil ikut berdiskusi tidak untuk menjadi moderator.

Karena apabila interaksi antara informan A dengan lainnya diatur oleh peneliti maka grup ini tidak lagi FGD melainkan Focus Group Interview( FGI). FGD adalah diskusi yang interaksinya berjalan secara natural antar orang dalam kelompok tersebut.

5. Teknik Angket/kuisioner

Teknik kuisioner pada dasarnya sama seperti wawancara mendalam terstruktur, namun pada kusinioner peneliti tidak harus bertatap muka secara langsung. Sebagai gantinya, peneliti akan menuliskan daftar pertanyaan dalam sebuah kertas lalu dibagikan ke responden.

Karena tidak terjadi tatap muka, maka ada hal yang harus diperhatikan demi kesuksesan pengumpulan data ini. Seperti, petunjuk pengisian harus jelas, pemilihan kata pada tiap pertanyaan harus dipahami oleh umum, kolom jawaban harus disesuaikan dengan pertanyaan.

Salah satu kelebihan teknik ini, bisa menyingkat waktu apalagi kalau ada lebih dari satu responden. Tapi kelemahannya, peneliti tidak bisa menggali lebih dalam diluar pertanyaan yang dituliskan. Sehingga tidak dianjurkan untuk pengambilan informasi yang memerlukan pemahaman mendalam.

Teknik Pengumpulan Data Observasi : Pengertian, Metode dan Contohnya

Observasi menjadi salah satu metode yang disukai peneliti dalam mengumpulkan data. Lantas, observasi itu seperti apa ? dan bagaimana cara melakukan observasi ? simak penjelasannya dibawah,

Dalam melakukan penelitian ilmiah, kita harus melakukan pengumpulan data terlebih dahulu. Untuk mengumpulkan data pada penelitian kualitatif, ada 5 teknik, anda bisa baca selengkapnya pada artikel berikut ; 5 Teknik Pengumpulan data pada penelitian kualitatif

Dari kelima teknik pengumpulan data, observasi menjadi teknik yang tidak boleh dilupakan. Pasalnya, observasi akan menentukan gambaran terkait obyek yang diteliti dan dapat membantu menentukan langkah berikutnya.

Pengertian Pengumpulan Data Observasi


Menurut Riduan, Observasi adalah teknik pengumpulan data, dimana peneliti melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan.

Sementara menurut Margono, observasi digunakan untuk melihat dan mengamati perubahan fenomena–fenomena sosial yang tumbuh dan berkembang yang kemudian dapat dilakukan perubahan atas penilaian tersebut, bagi pelaksana observer untuk melihat obyek moment tertentu, sehingga mampu memisahkan antara yang diperlukan dengan yang tidak diperlukan.

Secara sederhana observasi adalah pengamatan langsung dilapangan.

Apa saja yang diamati ?

1. Space, yakni ruang/tempat/lokasi obyek yang diteliti
2. Actors, orang-orang yang terlibat.
3. Activity, aktifitas orang-orang yang terlibat.
4. Object, benda-benda yang masih berhubungan dengan apa yang diteliti
5. Act, tindakan-tindakan tertentu.
6. Event, kejadian atau peristiwa yang terjadi seputar apa yang diteliti.
7. Time, urutan waktu setiap kejadian.
8. Goal, tujuan orang-orang melakukan tindakan-tindakan (yang diamati).
9. Feel, emosi yang dirasakan oleh aktor.

Jadi, yang diamati saat melakukan observasi adalah semuanya yang bisa diamati tidak hanya oleh mata atau telinga tapi juga hati (feel).

Manfaat melakukan observasi salah satunya peneliti akan memahami konteks akan apa yang ditelitinya secara menyeluruh. Misal apabila akan meneliti sebuah perkara maka berkat observasi peneliti bisa memahami gambaran dari masalah tersebut dari apa perkaranya, siapa pelakunya, siapa korbannya, kapan dan dimana yang dibuktikan lewat gambar/tulisan.

Maka setelah memahami konteks akan apa yang ditelitinya, peneliti akan lebih mudah mendalaminya, peneliti tahu siapa yang harus di wawancara terlebih dahulu.

Contoh dan Jenis Observasi


Secara umum ada dua metode dalam observasi, yakni observasi partisipasi dan non-partisipasi.

1. Observasi Partisipasi



Observasi partisipasi adalah pengamatan yang dilakukan dimana peneliti/observer ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang dilakukan kelompok yang diteliti. Partisipasi disini artinya peneliti ikut melakukan aktifitas/kegiatan yang sedang dilakukan kelompok yang diteliti.

Jadi meski sedang mengamati, peneliti tidak hanya menonton tapi juga ikut membaur.

Metode ini cocok untuk mengamati hal-hal yang berkaitan dengan aspek psikis seperti kesan, pemaknaan, apa yang dirasakan. Namun, dinilai kurang obyektif. Pasalnya, ketika peneliti melakukan observasi partisipasi, orang yang diteliti atau partisipan umumnya mengetahui bahwa mereka sedang diteliti.

Sehingga akan ada reaksi dimana para partisipan bisa menunjukan kesan lebih baik dari biasanya. Kesan yang dilebih-lebihkan ini membuat hasil observasi kurang akurat.

Contoh observasi partisipasi adalah ketika meneliti adat/tradisi pada kelompok masyarakat tertentu. Dalam hal ini, peneliti tidak hanya menonton tapi juga menjadi bagian dari kelompok tersebut.

2. Observasi Non-partisipasi



Artinya, peneliti atau observer tidak ikut berpartisipasi pada aktifitas yang dikerjakan kelompok yang diteliti, dengan kata lain peneliti hanya menempatkan dirinya sebagai penonton.

Berbeda dengan metode partisipasi, pada metode ini pengamatan dilakukan secara diam-diam agar partisipan tidak menyadari bahwa mereka sedang diamati. Sehingga akurasi data bisa terjamin.

Meski demikian, perlu skill dan pengetahuan yang lebih dalam melakukan metode ini karena lebih sulit mendapatkan data apabila hanya mengandalkan pengamatan.

Metode ini biasa dipakai untuk meneliti hal-hal yang berhubungan dengan sikap dan perilaku negatif. Contohnya penelitian tentang perilaku membuang sampah sembarangan siswa di sekolah tertentu.

Bahkan dalam konteks yang ekstrem, metode ini juga dilakukan untuk meneliti kelompok kriminal.

Tahapan Melakukan Observasi


Sebenarnya tidak ada aturan baku yang mengatur bagaimana observasi dilakukan, tapi agar observasi berjalan lancar pasti ada prosedurnya.


  • Tentukan apa dan tempat yang diteliti, yang paling pertama anda tentunya harus sudah tahu mau meneliti apa dan dimana.
  • Survey lokasi untuk mendapatkan gambaran umum, lakukan pengamatan awal untuk mengetahui gambaran tentang apa yang akan anda teliti.
  • Cari referensi sebanyak mungkin, setelah gambaranya sudah anda ketahui cari referensi sebanyak mungkin yang masih berhubungan dengan obyek penelitian.
  • Susun point-point yang akan anda amati, setelah anda mempelajari obyek penelitian maka anda sudah tahu point-point apa saja yang akan diamati. Point ini tidak perlu sedalam mungkin, cukup tulis garis besarnya saja nanti bisa didalami saat dilapangan.
  • Siapkan instrumen penelitian yang diperlukan terutama untuk mencatat hasil observasi seperti alat tulis dan kamera.
  • Mulai kumpulkan fakta dan data
  • Catat hasil observasi


Cara Memperoleh Hasil Observasi Berkualitas

Untuk mendapatkan hasil observasi yang berkualitas ada hal-hal yang perlu anda perhatikan antara lain ;

1. Lakukan pengamatan awal dengan seksama

Ini masuk ke tahap persiapan sebenarnya, sebelum anda memulai observasi lakukan pengamatan awal atau pre-observation tujuannya pun bermacam-macam.

Seperti ;

  • Menggambarkan situasi lokasi penelitian
  • Menentukan orang-orang yang perlu ditemui terlebih dahulu
  • Menghitung potensi reaksi partisipan untuk menentukan apa akan menggunakan metode partisipasi atau non-partisipasi.


Khusu yang terakhir cukup penting karena potensi reaksi ini akan menyebabkan hasil observasi tidak akurat. Jangan sampai yang harusnya dilakukan dengan metode non-partisipasi malah dilakukan dengan metode partisipasi.

2. Jangan terlalu menonjolkan diri anda sebagai peneliti

Ketika anda menggunakan metoda partisipasi dimana orang yang sedang diteliti tahu bahwa dirinya sedang diteliti anda harus menahan diri anda untuk membuka semua identitas sebagai peneliti.

Kalau membuka diri untuk identitas pribadi itu tidak masalah, tapi usahakan sembunyikan identitas sebagai peneliti. Buat seolah-olah penelitian anda tidak penting. Sehingga para partisipan tidak terlalu memikirkannya.

Ini bertujuan supaya para partisipan beraktifitas secara natural sehingga hasil observasi bisa lebih akurat.

3. Gunakan data yang bervariasi

Data-data observasi umumnya didapat dari apa yang dilihat, dan didengar. Tapi jangan fokus pada sektor itu saja, amati juga adanya perubahan emosi baik dalam diri anda dan orang lain.

Selain itu, observasi untuk penelitian kualitatif ini mengutamakan kedalaman data sehingga setiap point yang diamati harus anda dalami secara spesifik. Tentukan juga apa perlu dilakukan tahapan wawancara atau cukup dengan observasi untuk setiap pointnya.